
Monica yang sedang kesal dan tidak sependapat dengan Rose, ia melajukan mobilnya di malam itu, siapapun tidak akan bisa menghentikan niat wanita kejam itu.
"Alangkah bagusnya kalau bisa meledakkan kapal itu, biar dia rugi dan bangkrut," gumam Monica.
"Tapi masih tidak akan bisa menjatuhkan dia, karena aset milik James telah jatuh ke tangannya. wanita iblis itu memiliki banyak anggota dan pelindung. kalau ingin melawannya hanya tunggu mati. aku harus pikirkan cara untuk mengagalkan rencananya," gumam Monica.
"Aku tahu siapa yang bisa membantu kali ini...," ucap Monica yang menuju ke suatu tempat
Setelah beberapa menit kemudian Monica menghentikan mobilnya di depan sebuah apartemen.
"Untuk saat ini hanya dia yang bisa bantu," ucap Monica yang keluar dari mobil.
Monica melangkah masuk ke apartemen itu untuk menemui seseorang.
Setelah tiba di depan tempat tinggal orang yang dia ingin temui. Monica mengetuk pintu tersebut.
Tuk...tuk...tuk...
"Mudah-mudahan saja dia akan menerima kerja samaku," gumam Monica sambil mengetuk pintu.
Tuk...tuk...tuk...
Setelah beberapa saat kemudian pintu pun dibuka oleh seorang gadis cantik.
Klek.
__ADS_1
"Kakak Monica?" seru gadis itu yang adalah Angel.
"Angel, ada yang ingin ku katakan, darurat," kata Monica.
Monica kemudian masuk ke dalam dan duduk bersama Angel. ia pun menceritakan semua tentang rencana Rose yang gila itu.
"Aku tidak tahu apa pendapatmu, tapi aku merasa kali ini sangat keterlaluan, virus bisa menyebar dan akan menyebabkan lebih banyak kematian," ujar Monica.
"Apa yang kakak ingin aku lakukan?" tanya Angel.
"Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah, ledakkan kapal yang membawa virus itu, lebih baik mereka tewas di lautan. dari pada mereka membawa virus masuk kota."
"Posisi mereka di mana?"
"Selagi mereka belum tiba ke wilayah negara kita, kita tidak bisa bertindak," ujar Angel.
"Angel, apakah kamu siap melarang mereka? itu artinya kita mengkhianati mama dari belakang."
"Lebih baik aku mengkhianatinya, dari pada semakin banyak korban. mengunakan virus mengalahkan lawan sangat tidak masuk akal," ujar Angel.
"Mungkin saja kalau rencana kita diketahui maka kita akan menjadi sasarannya, apakah kamu telah mempertimbangkan dengan baik?"
"Aku tidak perlu mempertimbangkan lagi, lakukan saja yang seharusnya, walau kita dilatih menjadi pembunuh tapi bukan berarti kita harus menjadi pembunuh yang berdarah dingin. cukup kita yang menjadi alat bagi mama. dan jangan membiarkan anak-anak lainnya sama seperti kita," jawab Angel.
"Benar katamu! kita hanya menunggu kematian dan tiada masa depan, berbeda dengan mereka yang masih memiliki kesempatan," ucap Monica.
__ADS_1
"Apa rencanamu mengenai mama?" tanya Angel.
"Aku tidak tahu, kalau saja kali ini kita berhasil apakah dia akan melakukan untuk kedua kali," jawab Monica.
"Aku merasa ada sesuatu yang aneh," ujar Angel.
"Ada apa?"
"Kenapa mama memberitahumu tentang virus? selama ini dia orang yang suka membuat rencana secara diam-diam, dia tidak akan berunding dengan siapapun karena baginya pendapat kita sama sekali tidak penting," ucap Angel.
"Mungkin saja karena dia yakin akan berhasil, oleh sebab itu dia memberitahuku," jawab Monica.
"Tidak ada yang bisa menebak pikirannya, dan yang aku pikirkan adalah, kita hanya bisa menghancurkan barang itu setelah tiba di pelabuhan."
"Kenapa, bukankah lebih bahaya?"
"Lebih bahaya ketika kita meledakan kapal itu di tengah laut, andaikan ini hanya sebuah perangkap maka kita akan mati sia-sia."
"Kamu curiga mama tidak mengatakan yang sebenarnya?"
"Rencananya mungkin benar, akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah rencananya kali ini sangat besar. aku hanya heran untuk apa dia memberitahumu," jawab Angel.
"Tidak mungkin dia ingin mengujiku, selama ini aku setia padanya," kata Monica.
"Tidak tahu juga! pikirannya selalu tidak bisa ditebak, tetap waspada saja!" ujar Angel.
__ADS_1