Dendam Sang Pembunuh

Dendam Sang Pembunuh
Sasaran Lee


__ADS_3

"Jangan bertindak sembarangan di sini, di sini adalah rumahku. pergi!" bentak Jerry.


"Aku akan pergi, tapi setelah aku membunuhmu," kata Lee dengan senyum.


Lee langsung mengunakan pistolnya memukul kepala Jerry.


Bruk...


"Aarrghh...," jeritan Jerry yang terkapar ke lantai.


Lee menarik lengan pria itu dengan kesar dan mengikatnya di besi tangga.


"Lepaskan aku! apa yang kau lakukan?" teriak Jerry.


"Kita akan menunggu kakakmu bangun, setelah itu aku baru bermain denganmu," jawab Lee yang duduk di depan pria itu sambil bersilang kaki.


"Kau akan mati di tangan kakakku," bentak Jerry.


"Belum tentu! karena aku yang mengendali keadaan sini, kakakmu akan berlutut memohon padaku," ucap Lee.


"Kakak...Kakak...cepat bangun...," teriak Jerry.


"Kakak...ada pembunuh..cepat bangun...."

__ADS_1


"Aku akan menunggu dia bangun dengan penuh kesabaran, kau tidak perlu terburu-buru," ujar Lee dengan santai.


"Kau gila...aku yakin kakakku pasti akan membunuhmu," bentak Jerry.


"Ha-ha-ha...siapa yang mati masih belum tahu," ujar Lee.


"Jerry, ada apa? kenapa berteriak?" suara seorang pria dari lantai dua.


"Kakak, cepat selamatkan aku dan bunuh breng.sek ini...," teriak Jerry.


Seorang pria yang melangkah cepat menuruni anak tangga dan terkejut dengan kemunculan seorang pria asing di rumahnya.


"Kau siapa?" tanya pria itu yang tidak lain adalah kakak Jerry, Vic Miller.


"Kita bertemu lagi, kelihatannya hidupmu lumayan juga, apakah kau tidak menjadi perampok lagi?" tanya Lee.


Dor...


Tembakan yang dilakukan oleh Lee menembus tembok. ia sengaja melepaskan tembakan untuk menghentikan niat pria itu yang ingin melepaskan adiknya.


"Kenapa kau melakukan ini? aku tidak mengenalmu," kata Vic.


"Sepuluh tahun tidak berjumpa, kau melupakanku begitu saja. kau sangat tidak berhati nurani," jawab Lee.

__ADS_1


"Sepuluh tahun?" tanya Vic dengan penasaran.


"Benar! apakah kau sudah lupa bahwa dirimu dan komplotanmu telah merampok semua harta keluargaku dan bukan hanya itu. kau membunuh orang tuaku dan adikku. apa kau tidak ingat?"


"Aku tidak pernah melihatmu," jawab Vic.


"Tentu saja! saat itu kau sedang melakukan hal bejat terhadap mamaku dan juga adikku, sekumpul binatang melakukan hal kotor terhadap gadis berusia delapan belas," kata Lee.


"Apa perlu aku mengingatkanmu?" tanya Lee


"Kakak, jangan membuang waktu! bunuh saja dia!" ujar Jerry.


Vic tidak mengingat sama sekali dengan Lee yang pernah menjadi korbannya. selama ini dia telah melakukan banyak perampokan dan pembunuhan sehingga tidak bisa mengenal korbannya sendiri.


"Sebuah keluarga sederhana yang memiliki putra putri, kau dan temanmu dengan bangganya menyetubuhi gadis remaja sehingga tewas, dan pemuda yang kau pukul dan kau tembak hampir tewas di saat itu. kalau kau masih lupa aku akan membantumu untuk mengingatnya. nama keluarga itu adalah Anderson," ungkap Lee.


"Anderson?" gumam Vic yang berusaha mengingat semula nama itu.


"Ternyata kau adalah pemuda itu, seharusnya kau sudah mati," kata Vic.


"Aku diselamatkan dan hidup untuk membalas kalian satu-persatu. temanmu Thiaro dan Flores sudah mati. dan hari ini kau akan menyusul mereka," kata Lee.


Vic yang mendengar ucapan Lee merasa cemas dan gemetar, tentu saja dirinya kini tidak seperti dulu lagi yang begitu kuat dan gesit. kini usianya yang hampir lima puluhan dan tidak memiliki senjata membuatnya tidak berkutik sama sekali.

__ADS_1


"Lepaskan adikku! apa yang kau inginkan?" tanya Vic dengan wajahnya yang memucat.


"Aku hanya ingin mengeluarkan usus adikmu, dan kau harus melihatnya dengan mata tanpa berkedip," jawab Lee dengan senyum sinis.


__ADS_2