Dendam Sang Pembunuh

Dendam Sang Pembunuh
Misi Balas Dendam


__ADS_3

"Kondisi Thiaro Santoz dan Flores sangat mengenaskan, ini bukan perampokan melainkan pembunuhan berencana," kata Muller.


"Cara membunuhnya juga sama, menikam dan menembak, sementara istri Thiaro Santoz juga tewas dengan tragis. apa mungkin semua ini ada hubungannya dengan Lee Anderson?" tanya Mob.


"Kalau saja Thiaro Santoz dan Flores adalah pembunuh keluarga Anderson, maka bisa saja ada hubungan dengannya. malam tadi yang kita lihat bukan lagi seorang pemuda yang polos dan ramah. dia sudah berubah menjadi dingin serta tatapannya yang kejam," ujar Muller.


"Istri dan putri Flores menjadi gila setelah dia sadar, mereka diperk*sa berulang kali oleh pelaku, apa mungkin Lee melakukan hal bejat itu?" ujar Chanz.


"Kalau saja dia pelakunya mungkin saja dia memang melakukannya, karena ibu dan adiknya juga menjadi korban pemerko.saan yang menakutkan. ibunya memilih bunuh diri dan adiknya hingga tewas. siapapun bisa gila melihat kondisi itu," kata Laz.


"Ada hubungan atau tidak, tetap cari dia sampai dapat!" perintah Muller.


"Siap, Pak," jawab mereka dengan serentak.


"Lee Anderson, apakah kematian Thiaro Santoz dan Flores ada hubungan denganmu? Lee Anderson, lebih baik jangan sampai kamu terlibat," gumam Muller.


Setelah beberapa hari kemudian Lee menuju ke sebuah tempat yang agak pedalaman. di jalan yang dia lewati hanya terlihat pohon-pohon tinggi yang lebat daunnya. tidak ada rumah warga sama sekali.


Setelah perjalanan selama dua jam akhirnya Lee tiba di suatu tempat dan berhenti di depan rumah yang sederhana.


"Vic Miller, kali ini giliranmu yang harus mati di tanganku," ketus Lee yang keluar dari mobilnya.


Lee seperti biasanya muncul tanpa mengenakan masker dan juga pakaian dengan berwarna hitam.

__ADS_1


Ia menghampiri rumah itu dan mengetuk pintunya.


Tuk...tuk...tuk...


Ketukan pintu keras yang dilakukan oleh Lee.


Setelah beberapa saat kemudian seorang pria yang membukakan pintu.


Klek.


"Apakah ini adalah rumah Vic Miller?" tanya Lee dengan ramah dan sopan.


"Benar! Anda siapa?"


"Dia adalah kakakku."


"Apakah dia di rumah?" tanya Lee.


"Ada, dia sedang tidur," jawab pemuda itu.


"Aku adalah teman lamanya yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu, apakah aku bisa menunggu di dalam?" tanya Lee.


"Apakah kamu datang ingin meminta uang dengannya? walau ada uang kami juga tidak akan berikan padamu," ketus pemuda itu

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa menganggap aku meminta uang dengan kakakmu?"


"Karena semua temannya hanya tahu minta uang saja."


"Aku memiliki banyak uang dan lebih kaya dari kakakmu, mana mungkin aku meminta uang denganmu. akan tetapi tujuanku adalah ingin meminta dua hal dari kalian," kata Lee.


"Meminta apa?"


"Nyawamu dan kakakmu," jawab Lee yang langsung menodong senjata ke arah pemuda itu.


Lee melangkah maju dengan senyum menatap adik laki-laki dari Vic Miller yang adalah salah satu pelaku pembunuh keluarganya.


"Apa maumu?" tanya pria itu yang cemas dan memundurkan langkahnya.


"Siapa namamu?" tanya Lee.


"Jerry Miller," jawabnya.


"Rumahmu lumayan luas, kelihatannya semua yang kamu nikmati adalah hasil rampokan dan juga nyawa orang yang direnggut oleh kakakmu, benarkah apa yang ku katakan?"


"Jangan bicara sembarangan! lebih baik kau pergi sebelum kakak ku bangun. dia pasti akan membunuhmu," ketus Jerry.


"Kakakmu adalah pria bejat yang pantas mati, hari ini kalian berdua akan mati secara perlahan. mengenai dirimu aku harus mengunakan cara apa agar bisa membuatmu menikmati rasa sakit yang luar biasa," kata Lee.

__ADS_1


__ADS_2