
"Jangan coba-coba menyentuh keluargaku!" bentak Vic.
Lee bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Vic.
"Menyentuh keluargamu? lalu, kenapa kau menyentuh keluargaku? kami tidak mengenalmu, kami juga tidak menyinggungmu. kenapa kau membunuh keluargaku? semua demi uang dan kepuasan. bukankah begitu? kalian bahagia di atas penderitaan orang lain," bentak Lee.
"Lee Anderson, kalau kau menyentuh adikku, jangan salahkan aku membunuhmu," kecam Vic.
"Lakukan saja kalau kau masih sanggup! aku ada di depan matamu, bukankah dulu kau sangat kuat," ketus Lee yang menodong pistol ke arah musuhnya itu
Vic semakin ketakutan saat pistol menempel ke dahinya
"Kalau saja peluru ini terlepas maka kepalamu akan pecah, tapi sangat tidak menyenangkan kalau kau mati begitu cepat," ujar Lee.
"Jangan bertindak sembarangan!" ucap Vic yang gemetar di sekujur tubuhnya.
Lee menurunkan senjatanya hingga ke bagian bawah pria itu dan kemudian ia langsung melepaskan tembakan.
Dor...
"Aarrggh...," teriakan Vic yang tertembak bagian pusakanya sehingga darah menciprak ke mana-mana. ia terkapar di lantai dan mengerang kesakitan.
"Aarrghh...."
"Sakit? apakah kau sakit?" tanya Lee dengan sengaja.
__ADS_1
"Kakak...," teriak Jerry.
"Vic Muller, aku ingin kau membuka lebar-lebar, karena aku ingin melakukan sesuatu pada adikmu," kata Lee yang menarik rambut Vic dan berjalan menghampiri Jerry yang diikat di besi tangga.
"Lepaskan aku! jangan mendekat!" bentak Jerry yang ketakutan.
"Aarrgghh...," rintihan Vic yang kesakitan sehingga wajahnya memucat.
"Anak muda, jangan salahkan aku bersikap kejam! semua ini karena kakakmu yang mulai dulu. dia menyebabkan aku kehilangan semuanya. dan sekarang sudah saatnya aku membalas perbuatannya," ujar Lee yang mengeluarkan pisau tajam dan merobek baju pria itu.
Sret...
"Jangan! tolong jangan sakiti aku. aku tidak tahu apa-apa. aku tidak bersalah. ini adalah urusanmu dengan dia. jangan melibatkan aku!" teriak Jerry yang ketakutan.
"Walau bukan dirimu pelakunya, akan tetapi kau adalah adiknya, oleh sebab itu kau harus menanggung karma dari kakakmu," jawab Lee dengan senyum.
Vic yang tertembak di pusakanya ia mengerang kesakitan sambil menangis. darah berserakan di lantai serta kondisinya semakin lemah.
"Vic Miller, jangan mati dulu! kau harus melihat pertunjukan seru," ucap Lee.
Vic hanya bisa melihat ke arah jerry dan tidak sanggup berdiri melawan pria yang akan menyiksa adiknya itu.
"Kakak, selamatkan aku! aku tidak mau mati...," teriak Jerry yang ketakutan sehingga gemetar.
Lee menusuk bagian dada Jerry sedalam-dalamnya, darah menciprak mengenai pakaiannya. pemuda itu merasakan kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
"Aarrghh...."
"Sakit...."
"Aaarrggh...."
"Jangan!" ucap Vic sambil menahan sakit dan hanya tergeletak tidak berdaya.
"Apakah kamu sakit hati?" tanya Lee dengan senyum sambil mencabut pisaunya dan kemudian menusuk lagi bagian perut korbannya.
"Aarrghhh..."
"Kakak...."
"Lepaskan dia!" pinta Vic dengan suara kecil yang tak berdaya, ia tidak sanggup untuk bergerak karena sakit yang dia alami.
"Aku puas kalau kau merasa sakit, melihat adik sendiri disiksa tentu saja sangat menyenangkan, bukan," ujar Lee yang lagi-lagi mencabut pisaunya dan menusuk kembali bagian bekas tusukannya.
"Aarrghhh...," teriakan Jerry yang mengeluarkan air mata.
"Tolong...jangan sakiti dia lagi," pinta Vic sambil menangis. ia sakit hati karena melihat adiknya disiksa dengan cara yang sadis.
"Sebagai seorang kakak apakah kau sakit hati melihat adikmu harus disiksa?" tanya Lee sambil mencabut pisaunya dan menghampiri Vic.
"Bunuh saja aku! ambil nyawaku untuk menebus kesalahanku," tangisan Vic.
__ADS_1
"Melepaskan dia dan membunuhmu? kau sudah salah, aku tidak akan melepaskan dia. aku ingin menyiksanya secara perlahan di depan matamu. apakah kau tahu saat aku mendengar dia berteriak kesakitan aku sangat gembira. apa lagi mendengar tangisanmu aku semakin bergairah menyiksanya. ayolah...berteriak lagi...aku sangat bahagia mendengar tangisanmu!" ucap Lee.