
Detektif Muller, Laz, Chanz dan Mob menghampiri Rose yang sedang duduk dan mengenakan kaca mata hitam.
"Nona, kami adalah detektif, Anda dicurigai telah melakukan pemerasan terhadap James Young," kata Detektif Muller.
"Apa? pemerasan? apa kalian tidak salah? mana mungkin aku memeras dia," jawab Rose yang bangkit dari tempat duduknya.
"Sebelumnya tuan James Young telah melaporkan kejadiannya kepada kami, bahwa ada seorang wanita mengancamnya dan memaksanya tanda tangan dan stempel di cek miliknya. dan kemudian wanita itu pergi," kata Laz.
"Sialan, Angel Rebecca, kau menjebakku dari saat itu juga, kau sengaja membawa cek ini untukku. dan kalau aku ingin mencarikan dana ini maka aku menjadi tersangka dan dikenal oleh pihak kepolisian," batin Rose.
"Silakan ikut kami pergi," ucap Detektif Muller yang mengeluarkan borgol.
Saat detektif itu ingin memborgol kedua tangannya wanita itu, Rose langsung menendang tubuh Muller dan Laz dengan kaki panjangnya. Kemudian Rose merebut pistol milik Chanz.
Wanita itu langsung melepaskan tembakan ke arah detektif itu.
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan Rose mengenai kaki Muller, dan tubuh rekan-rekannya.
"Aarrghh," jeritan mereka yang ditembus oleh peluru.
"Aarrghh...."
__ADS_1
"Aarrghh...."
Teriakan orang-orang yang di sana dengan menunduk dan ketakutan.
Para Security yang mendengar suara tembakan langsung ingin menghalang kepergian wanita itu, akan tetapi mereka ditembak oleh Rose.
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Dor...
"Aarrghh...."
Muller yang terluka di kakinya ia mengejar wanita itu sambil menahan sakit, sementara rekan lainnya terluka di bagian perut mereka dan mengerang kesakitan.
Muller berusaha mengendarai mobilnya sambil membuat panggilan ke kantornya untuk meminta bantuan.
"Rekan kita terluka dan sekarang ada di bank, cepat kirim bantuan. Rose telah kabur dan kerahkan tim kita turun ke jalan untuk blokir beberapa jalan besar," perintah Muller.
"Baik, Detektif," jawab rekannya yang di seberang sana.
"Angel Rebecca dari awal kau telah bekerja sama dengan James Young, kau menghancurkan virus itu dan membuatku mengalami banyak kerugian. sekarang kau juga menjebakku dengan cek ini," ketus Rose yang sedang melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Aku benar-benar kehilangan semuanya, uangku habis begitu saja. semua ini karena dia. kenapa aku bisa begitu lalai percaya padanya. semua murid yang ku didik tidak ada satu pun yang bisa dipercaya. Nancy, Selvin, Monica dan Angel semuanya sama saja," ketus Rose.
Di sisi lain mobil para detektif menuju ke tempat yang diperintahkan oleh Muller untuk memblokir jalan tersebut.
Rose yang masih tidak sadar, ia melewati beberapa kendaraan lainnya dengan berniat menjauhi dari kejaran polisi.
Muller melajukan mobilnya mengejar tersangka yang berusaha melarikan diri.
Rose yang melihat pemblokiran jalan besar, ia pun langsung menuju ke jalan tikus untuk menghindari mereka.
Muller mengejar tanpa berhenti dan mengikuti mobil wanita itu menuju ke jalan tikus.
"Detektif sialan, lihat saja aku akan membunuhmu," ketus Rose yang mengambil pistol yang di samping kursi supirnya.
Rose yang sedang menyetir, ia memegang pistol dan mengulurkan tangannya keluar dari jendela dan melepaskan tembakan ke arah belakang yang di mana mobil polisi yang sedang mengejarnya.
Dor...
Dor...
Muller langsung menunduk untuk menghindari
peluru yang menembus kaca mobilnya hingga retak.
"Aku ingin melihat kau bisa lari ke mana," ujar muller yang mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah mobil Rose.
Dor...
__ADS_1
Dor...
Tembakan Muller menembus kaca mobil yang di depannya. Rose langsung menunduk.