Dendam Sang Pembunuh

Dendam Sang Pembunuh
Vic Menerima Siksaan


__ADS_3

Tubuh Jerry berlumuran darah akibat beberapa tusukan yang dilakukan oleh Lee. pemuda itu menangis kesakitan dan juga takut mati.


"Lee, aku tahu...walau aku minta maaf juga tidak ada gunanya, tapi tolong jangan bunuh adikku dia masih muda dan memiliki cita-cita menjadi pengacara," ucap Vic.


"Ha-ha-ha...pengacara? kakaknya adalah perampok, pembunuh dan juga pemerk*sa, sementara adikmu bercita-cita menjadi pengacara? apakah tidak lucu?" tanya Lee sambil tertawa.


"Jangan bermimpi terlalu jauh ke atas, suatu impian yang tidak mungkin akan terkabul di saat kakaknya adalah seorang penjahat, kau memohon padaku membiarkan adikmu hidup agar dia bisa kejar impiannya. lalu kenapa di saat itu kau tidak melepaskan kami yang juga memiliki impian...ha?" bentak Lee.


"Kami hanya mendengar perintah," ujar Vic sambil menangis.


"Ini bukan masalah perintah atau bukan, tapi soal dirimu itu yang memilih jalan gelap ini. sehingga dengan perbuatanmu ini sudah berapa banyak jatuh korban," ketus Lee.


"Tidak usah menyesalinya! karena perbuatanmu, maka dirimu dan adikmu harus menerima balasan dariku, salah satu korban yang hampir tewas di saat itu," ujar Lee.


Lee menghampiri Jerry yang sedang menangis dan menahan sakit.


"Jangan sakiti aku! tolong...aku mohon padamu," tangisan Jerry yang ketakutan.


"Menangislah terus! aku semakin suka mendengar tangisan kalian. kalian juga bisa merasakan sakit saat aku menyiksa kalian? inilah yang ku inginkan membuat kalian kesakitan sehingga menangis dan memohon padaku," ujar Lee dengan senyum dan langsung menusuk perut pemuda itu.


"Aarrggh....."

__ADS_1


"Aarrggh....."


"Tolong jangan...," teriak Vic.


"Seru sekali! berteriaklah lagi!" ucap Lee yang memutarkan pisaunya yang masih menancap di perut pria itu.


"Aarrggh....."


"Aarrggh....."


Tusukan dalam menyebabkan darah mengalir dengan deras, Jerry harus menanggung sakit yang tak terhingga sehingga pada akhirnya ia tidak sadarkan diri lagi.


"Jerry...Jerry...," teriak Vic dengan histeris.


"Lee Anderson, apa kamu sudah puas?" tanya Vic dengan kesal.


"Tentu saja aku puas, apa yang kau rasakan sekarang aku sudah merasakannya di saat itu. kalian semua adalah sekelompok binatang. apakah kamu sudah lupa bagaimana keluargaku di aniayai kalian? bagaimana perasaan kami saat disiksa di saat itu. dan sekarang kau merasakannya. bukankah ini adil," ketus Lee.


"Awalnya aku ingin mengeluarkan ususnya, tapi dia malah sudah mati. maka tidak seru lagi tanpa suara teriakan dia," ucap Lee yang menghampiri Vic.


"Kau sudah bunuh dia, apa lagi yang kau inginkan?" tanya Vic.

__ADS_1


"Menyiksamu sehingga aku merasa puas," jawab Lee yang menyayat tangan pria itu berulang kali.


Sret...


"Aarrghh...," teriakan Vic yang kesakitan.


Sret...


"Aarrgghh...."


Sret...


"Aarrgghh...."


Lee berulang kali melukai urat-urat tangan dan kaki pria itu sehingga putus, agar ke depannya pria itu tidak bisa lagi beraktivitas dan berkemungkinan besar ia akan cacat seumur hidup.


Tangisan Vic akibat siksaan demi siksaan yang dia alami di siang itu. setelah beberapa saat kemudian Lee menghentikan aksinya.


"Vic Miller, bagaimana rasanya? sakit sekali, bukan?" aku sangat senang sekali karena kondisimu sekarang sudah cacat, kau tidak akan mati kau hanya akan hidup sebagai orang tidak berguna lagi. tidak bisa berjalan, merangkak, duduk, berdiri ataupun berlari. kau hanya akan berbaring seperti sekarang," ujar Lee.


"Kenapa tidak membunuhku saja?"tangisan Vic.

__ADS_1


"Sangat mudah bagimu kalau kau mati, aku menderita selama sepuluh tahun. dan kali ini aku juga ingin merasakan penderitaan yang lebih parah dariku," ujar Lee.


__ADS_2