Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Waktu masih berputar


__ADS_3

Aurel berlari begitu kencang meninggalkan pak supir yang masih menunggunya di halaman rumah. Dia benar-benar sangat ketakutan, tanpa tersadar langkahnya berhenti di sebuah jembatan tinggi di dekat batas perkampungan. Aurel perlahan memanjat menuju atas jembatan dan berdiri di ujungnya.


"Bu Aurel.. tunggu."


Pak supir mencari keberadaan Aurel yang menghilang di telan malam.


...----------------...


"Aku, aku sudah tidak tahan lagi!"


Dia memejamkan mata berniat mengakhiri segalanya. Setiap hari hidupnya bagai tersiksa, dia sangat ketakutan dan trauma akan kejadian yang menimpa ibu dan nenek Isda.


"Jika kepergian ku bisa membuat ayah tersenyum bahagia, maka aku benar-benar ingin mengakhiri segalanya."


Lompatan Aurel di tangkap oleh gilang. Dengan sigap dia meraih Aurel dan memeluk erat. Aurel meronta-rontah, mengsikut, memukul perut Gilang. Dia tidak ingin menaruh perasaan apapun kepada Gilang.


"Jangan sentuh aku lagi atau aku akan mendorong mu ke sungai!."

__ADS_1


Aurel bersikeras pada pendiriannya dan menjauhi gilang. Dia juga tidak ingin Gilang menjadi korban sang ayah. Gilang yang hanya di anggap sebagai seorang kakak bagi Aurel. Dia sebatang kara di dunia, tapi perasaan Gilang yang berbeda membuat Aurel menjauhi dan semakin jauh.


"Dorong saja aku sekarang jika kau tidak menerima ketulusan ku."


Gilang membentangkan kedua tangannya dan berdiri di ujung sungai dengan memejamkan mata. Terdengar langkah kaki Aurel yang meninggalkan Gilang semakin jauh dari pandangan.


"Gadis sombong! aku akan mengajak ayahmu tinggal bersamaku."


Sepertinya Gilang telah membakar Ranting-ranting pohon yang kering, tiupan angin membakar api dengan bara yang menjalar sampai ke ubun-ubun. Aurel berlari dan mendekati Gilang. Dia benar-benar sangat marah dan hampir saja melayangkan tamparan ke pipinya.


"Jangan ikut campur urusan pribadi ku! kau bukan siapa-siapa!"


Aurel melangkah berbalik meninggalkan Gilang. Hatinya sudah membeku seperti bongkahan es ribuan tahun lalu. Cintanya hanya untuk ibunda dan nenek Isda. Bagaimana di hidupnya yang penuh penderitaan menjadi drama percintaan? memikirkan saja dia tidak sempat karena setiap waktu para makhluk bergentayangan seakan mengejarnya. Gilang meraih tangan Aurel, mendekap erat dan mengunci setiap gerakan.


Brugh, pyur.


Gilang terjatuh di dorong oleh Aurel. Kalau saja Gilang tidak memaksa gadis berhati dingin maka malam ini kemungkinan dia akan selamat.

__ADS_1


"Apakah dia meninggal?"


Aurel mencari-cari Gilang yang menghilang dan belum muncul di permukaan air. Setelah hari itu Gilang tidak ada kabar sama sekali.


...----------------...


Hari ke empat puluh, Aurel membuka mata di pagi hari dengan gerakan-gerakan tubuh yang kaku dan menggigil. Dia terserang demam tinggi. Dia berusaha turun dari ranjang, perlahan dia terhempas jatuh pingsan.


Dia di bawa oleh para pekerjanya ke rumah sakit selatan. Sudah dua Minggu Aurel koma bersama detak jantung yang melemah.


"Ibu,nenek.. tunggu Aurel ya Aurel mau ikut."


Di dalam koma yang panjang dia bermimpi indah bertemu ,kedua orang yang dia cinta dan sayang. Sang ibu memeluk Aurel dan nenek mengelus pipinya. Kebahagiaan yang paling di tunggu di hidupnya bukanlah harta dan tahta melainkan sentuhan kasih sayang kembali dari mereka.


"Aurel."


"Aurel cucuku, pulanglah. Kau harus bangun sekarang."

__ADS_1


Aurel menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin melepaskan pelukan Kepada ibu dan nenek. Akan tetapi cahaya yang terang semakin lama semakin redup. Seperti ruang yang membuat mereka terpisah. Lama kelamaan Ibu dan nenek tertutup pembatas bersama cahaya yang beranjak pergi.


"Ibu, nenek! jangan tinggalkan Aurel. Hiks,, hiks."


__ADS_2