Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Mayat Persembahan


__ADS_3

Sinar matahari perlahan hutan angker yang di tutupi kabut tadi malam. Menelusup ke sela-sela daun dan membawa embun pagi tanda kehidupan. Gilang masih meneruskan perjalanan dan berhenti di salah satu telaga hijau melihat anak kecil dari kejauhan.


“Bella..!” panggilnya dengan keras.


Anak kecil itu melambaikan tangan lalu menghilang. Belum sempat Gilang samsampai pada tepi telaga kakinya seperti tersandung oleh sesuatu. Sebuah tangan manusia yang tertutup oleh lumpur, Gilang menarik tangan putih pucat tersebut dan berusaha mengeluarakannya. Dia adalah Aurel, dengan tubuh penuh luka wanita itu tidak sadarkan diri di bawa oleh Gilang menyisiri hutan menuju arah pulang.


“Bukankah aku masih mencari Bela, tapi Aurel juga sedang membutuhkan pertolongan” gumamnya.


...----------------...


“Kita kehilangan jejak pak Gilang? Hari sudah terang dan aku sangat lelah” ucap pak Finto.


“Aku juga sangat lelah dan kehausan!” pak Bona menghentikan langkah berjongkok sambil terengah-engah.


Pandangannya beralih ke sebuah pohon besar, dahan-dahan yang berbentuk tidak lazim dan dedaunan yang berukuran berbeda-beda. Banyak burung gagak bertengger disana dan sesekali bunyi suara burung hantu menggema di sekitar.


“Lihatlah disana, pohon aneh itu!” seru pak Bona menunjuk bergerak mendekat.

__ADS_1


Ada tanah berlubang di bawahnya, dia menjerit ketakutan melihat mayat wanita tanpa busana dengan di taburi bunga-bunga yang masih segar di atasnya.


“Mayat! Ada mayat!” jerit pak Bona menarik Finto.


“Siapa orang gila yang melakukan semua ini? Kita harus kembali ke desa dan mengabarkannya kepada pak RT.”


Polisi langsung tiba dan mengangkat mayat wanita malang itu, belum sempat dia menemukan anak laki-lakinya. Nyawa sudah melayang dan menjadi hantu gentayang akibat persembahan dari pak Nedi. Para warga ikut berbondong-bondong di batas hutan melihat mayat yang di angkut oleh aparat kepolisian.


“Mega!” isak tangis seorang wanita muda di susul oleh beberapa orang lainnya.


Flashback


Lima orang mahasiswa yang masih sibuk mencari tempat bermalam untuk menuntuaskan tugas ilmiah praktek pengalaman lingkungan itu menuju ke sebuah perumahan warga. Akan tetapi Mega yang sibuk mengurus anak terpaksa berpisah tempat yang berjarak tiga rumah dari tempat tempat teman-temannya berada.


“Kenapa kami tidak boleh menginap di rumah mu saja?” tanya Yara menggenggam tangan Mega.


“Tidak, rumah ku sangat kecil. Kalian tinggal saja disana, lagian aku tidak mau kalian kesusahan harus keluar malam untuk menuju toilet”

__ADS_1


Yara mengangguk setuju dan pergi meninggalkan Mega. Sifat Mega yang tidak mau membebani orang lain dan tidak ingin teman-temannya menderita. Dia suka melakukan hal apapun sendiri sepeninggal suaminya. Mega menyambung kehidupan, mengurus anak dan kuliah dengan hasil bejualan makanan di warung.


“Aku sangat kasihan padanya. Setidaknya mala mini aku ingin menemaninya bersama anaknya” kata Yara sambil meletakkan koper dan ransel.


“Dia tidak mau merepotkan kita. Besok pagi saja kita kerumahnya” ucap Key.


Flashback on


Jona berlari menuju Key, Yara dan Ray. Keringatnya bercucuran dan nafas tidak stabil, perkataan terbata saat memberi kabar kematian Mega di hutan terlarang.


“Argghhh…” jerit Yara.


Ke empat Mahasiswa itu memutuskan untuk tetap melakukan penelitian dan berencana mencari Tole, anak Mega yang belum di temukan. Jona dan Ray yang mencari sumber berita menuju kerumah Gilang dengan membawa sebuah kamera dan rekaman untuk mencari tanda bukti.


“Kenapa kita harus kesini? Aku tidak yakin kita akan mendapatkan informasi” tanya Ray menarik Ray.


“Aku mendengar dari salah satu petugas siskamling bahwa mereka terpisah dengan pak Gilang tepat di saat kejadian Mega.”

__ADS_1


__ADS_2