
Tekad menuangkan air panas pada kulit, mengelupasnya sendiri dan menyiram luka dengan darah. Seolah dengan menyakiti diri sendiri, keyakinan untuk melihat langit biru lagi bisa tergapai. Hal mistik tidak selamanya meluruskan tujuan. Tapi justru menjerumuskan ke dalam lubang terdalam di kehidupan lebih buruk. Sosok wewe gombel dan penggalan kejanggalan saat kebangkitannya lagi.
Sinar fajar hari ini tidak berkilau, sudut pantulan cahaya yang masuk dari sela-sela lubang pepohonan yang lapuk di tembus paksa bersama hawa dingin masih mencekam hutan terlarang. Sepi, sunyi, senyap, hanya ada suaraa hewan liar bersahut-sahutan membanting rasa ketakutan dan kebimbangan dari seorang jiwa yang melempar pandangan di setiap sudut untuk mencari jalan keluar. Dia memukul-mukul dinding berakar itu dan menangis, tangan dan kakinya berlendir dan aroma anyir melekat menusuk hidung bercampur bau bangkai.
" Hueekkk.."
Yara memuntahkan isi perutnya. Dia sangat frustasi tidak tahan menghirup bau udara di tempat tersebut.
Jeritan, tawa dan kegaduhan dari arah tempat lain. Yara mengikuti sumber suara itu, sangat terkejutnya dia melihat puluhan anak-anak kecil berkumpul dengan pakaian kumal berwarna putih. Anak-anak manusia yang salah satu diantaranya ada anak temannya yang telah tiada.
__ADS_1
“Tole!” seru Yara berlari ingin meraih bocah tersebut.
Namun dia terhenti oleh sosok wujud wewe gombel menggendong anak itu lalu memangkunya duduk di kursi yang terbuat dari akar pohon. Sosok makhluk menoleh melotot melihat Yara lalu mengusap rambut tole dengan jemari kuku panjangnya.
“Pergi..” suara wewe gombel menggema mengisyaratkan kepada Yara.
“Arghhh…” jerit Yara berlari mencari jalan.
Keempat Mahasiswa itu sudah tiada dengan nasib buruk mereka. Di kejauhan pak Nedi menebar kemenyan dan menaburkan di sekitar hutan terlarang. Sampai saat ini pandangannya belum bisa menembus pasti dimana letah sarang wewe gombel. Selama empat puluh hari dia membaca mantra dan meminta bantuan dari jin penunggu pohon keramat.
__ADS_1
“Hei pak tua!” bisikan suara wanita di dekat daun telinganya.
“Aku tau ini adalah godaan dari anak sialan itu!” gumam pak Nedi kembali fokus mengucap mantra.
“Pak tua, tidak kah kau menginginkan aku? Aurel, hahhah..” gema suara sosok wewe gombel menghilang berganti suara lengkingan tawa anak-anak kecil.
...----------------...
Kali ini meskipun sudah berwujud makhluk ghaib. Sosok wewe gombel yang pernah menjadi manusia itu meletakkan tubuh Gilang di pinggilan lintas perbatasan kota agar para pengendara yang melewati jalur mematikan itu melihat dirinya. Keinginan dari sosok tersebut terwujud, Gilang di bawa ke Rumah sakit dan ketika dia tersadar langsung mencari kembali keberadaan Bella dan Aurel.
__ADS_1
...Kepada ikatan benang merah di masa lalu, siapapun wujud mu di masa kini. Aku tetap akan mencari dan melindungi mu. Banyak pahit dan manis kita lewati bersama. Dengan segala pengorbanan mu untuk menjaga ku dari ayah mu yang ingin membunuh ku. Ucapan terimakasih saja tidaklah cukup. Aku masih terus mencari di sisa usia, walau ku tau kau telah berubah menjadi sosok yang mengerikan. #Gilang....
Tubuh Gilang belum pulih, dia bersikeras mencari kedua wanita yang berarti di hidupnya. Kakinya berpijak di atas tanah hutan hutan terlarang. Dia memasang tali dan berbagai tanda untuk memberi jejak dan sinyal berharap menemukan dengan cepat.