
Pahit dahaga mencekam jiwa, hari hampa kosong tiada berbunga bahkan rasa empedu menggerogoti lara di rongga kehampaan. Silam yang berusaha di hapus masih semakin nyata di perjelas takdir dan nasib menyambung di jeda pertemuan menyapu goseran racun waktu. Kalau sudah seperti ini lantas siapa lagi yang paling harus di salahkan?
Bella masih menggeggam belatung yang menggeliat di tangannya. Dia tersenyum melirik Aurel dan sesekali menarik ujung baju wanita yang tampak sekarat itu. Darah yang tumpah sudah tidak bisa di bendung lagi. Gilang yang sudah gusar menepikan kendaraan ke tepi batas kota. Sekitar yang gelap gulita, seperti ada pemadaman listrik di akibatkan hujan badai berkepanjangan. Air mata menetes, tangan meraih tubuh Aurel dan mendaratkan kecupan di dahi yang berkulit lendir. Gilang tidak memperdulikan keadaan atas kejanggalan segala terjadi di hidup Aurel.
Segala kenangan pahit dan lika-liku misteri yang menjadi momok kesengsaraan belum berakhir. Memeluk lebih erat, tubuh tersiram darah sosok Makhluk wewe gombel itu terasa sangat dingin dan gatal. Gilang menahan rasa gatal yang mendera akibat terkena darah Aurel, dia melihat wajah pucat wanita itu sambil mengerutkan dahi.
“Kini aku tau pengobatan yang harus engkau tempuh adalah bukan jalur medis” bisik Gilang merapikan rambut wanita yang sudah berubah begitu menakutkan.
Pupil penuh memutih, badan membesar, dada menjuntai dan jari-jari panjang berkuku runcing. Gilang sangat terkejut, bergegas meraih tubuh Bella yang terlihat tertawa terbahak-bahak mendekati sosok Aurel yang berubah menjadi wewe gombel.
__ADS_1
“Aku tidak mau berpisah dari kakak, ayah lepaskan aku!” jerit Bella enggan pergi.
“Argh…” jeritan Bella di sapu oleh badai hujan dan dentuman petir menggelegar.
“Bella, Bella dimana kau nak?”
Tin….
Sebuah truk pengangkut barang membanting setir ke sebelah kiri jalan untuk menghindari tabrakan saat seorang pengendara sepeda motor hampir menabrak Gilang. Suasana di jalan raya kacau, beberapa angkutan berhenti saling bertanya dan melihat kecelakaan yang baru terjadi. Hanya ada seekor serigala yang terburai badannya akibat tertabrak bus dan sepeda motor tadi.
__ADS_1
“Aku yakin sekali tadi menabrak seorang pria!” ucap seorang lelaki tertatih bangkit dari gundukan rumput.
Tubuhnya yang terlempar dan selamat dari maut, luka cedera ringan menjadi acuh masih berusaha meyakinkan ke orang-orang bahwa yang dia tabrak adalah seorang manusia.
“Sepertinya dia tidak berbohong ataupun sedang dalam kondisi mabuk. Cepat kita telusuri bagian tepi jurang” tegas seorang aparat kepolisian.
Pak Nedi mengamati kejadian dari ujung jalan. Dia menyisir rambutnya dengan tangannya kemudian memjamkan mata mengucap mantra. Mata ketiga dapat melihat makhluk ghaib dengan bantuan jin penunggu pohon keramat yang dia puja. Penglihatan yang dia dapat secara tidak wajar yang terkadang menyakiti dirinya sendiri. Setiap malam jum’at kliwon dia harus menceburkan sekujur tubuhnya di dalam kolam darah. Malam ini adalah malam jum’at kliwon, ritual yang seharusnya dia lakoni. Akan tetapi dia masih bernafsu memburu Aurel si wewe gombel dan melenyapkan selamanya.
“Sedikit lagi aku mendapatkan anak sialan itu!” gumam pak Nedi menuju sarang wewe gombel di dalam hutan.
__ADS_1