Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Hitam bermaya


__ADS_3

Jona dan Key berjalan berbeda haluan, mereka berencana akan berkumpul bersama dengan teman-teman yang lain di ruang tamu. Ketika Jona hendak menyadarkan Rey, dia melihat kamar itu tampak kosong.


“Kemana perginya Rey?” gumam Jona menatap sekeliling.


“Argh…”


Lengkingan, jeritan dan tangis meraung. Jona mencari sumber suara tersebut namun dia tergelincir jatuh terbanting saat menuruni anak tangga. Lima anak tangga yang membentur kepalanya lalu gerakan di hentikan oleh sosok makhluk bertubuh besar melotot tajam menahan tubuhnya.


“Ha, hantu!”


Hujan badai, halilintar, angina kencang tanda kedatangan sosok wewe gombel dengan membawa seribu dendam akan kenangan dan peristiwa pahit di masa lalu. Pak Nedi sudah berdiri di bawah tangga melempar biji-bijian yang sudah dia beri mantra. Pertempuran antara ayah dan anak belum usai dan keganasan pak Nedi untuk mencelakai Aurel masih terus berlanjut.


“Dasar kau anak sialan!” pekik pak Nedi menyemburkan mantra kembali.

__ADS_1


Sosok menyeramkan itu mencekik pak Nedi, lelaki yang sudah mendapatkan kekuatan dari jin penunggu pohon keramat serta sudah menumbalkan setengah darah sang anak di masa lalu membuat kekuatannya semakin bertambah.


“Aku tidak akan kalah!” ucap pak Nedi menarik keris yang berada di dalam sabuk ular yang melilit di pinggang.


Dia menusuk leher wewe gombel, sosok itu langsung mengeluarkan suara mengerang lekukan urat mengeras mengepal memukul wajah pak Nedi. Setelah sosok itu menghilang, pak Nedi mengajak mereka untuk ikut dirinya. Namun Yara menolak secara tegas, dia meletakkan rasa curiga atas sikap dan gelagat lelaki asing yang di hadapannya.


“Baiklah kalau begitu biar aku saja yang ikut” kata Jona berjalan di belakang pak Nedi.


“Jon, bagaimana dengan tugas kita? Key dan Rey juga tidak tau dimana keberadaannya” Yara menarik tangan Jona, mata sayu memelas untuk tidak pergi meninggalkannya.


“Tidak sampai kedua teman kami di temukan” jawab Yara bersikeras.


“Aku akan kembali lagi setelah matahari terbenam, jangan beritahu kedatanganku kepada Gilang atau kalian akan menerima sendiri akibatnya!” seru pak Nedi berlari meninggalkan mereka.

__ADS_1


...Memastikan kematian mu tepat di tangan ku, setelah itu penguasa jin keramat di hutan terlarang akan mmeberikan apa yang aku minta. Kau tidak akan bisa lepas dan berbalik menyerang ku. Maka bersiaplah.....


Gilang masih berjalan melewati semak belukar dan tanah berlumpur. Tanpa henti memanggil nama Bella mengabaikan segala gangguan hewan liar yang mendekati.


“Ayah..” gema suara Bella menyahut panggilan Gilang.


“Bella?”


“Aurel bukan kah kau sedang berada di rumah?” tanya Gilang begitu heran.


Tepat di depannya ada Aurel yang menggendong Bella, baju keduanya berlumuran darah. Dengan cepat Gilang mendekat dan terkejut mengetahui leher Aurel yang sedang terluka. Gilang membuka bajunya dan melilitkan di leher Aurel. Setelah meraih tubuh Bella dari pelukan Aurel, mereka meninggalkan hutan dan kembali ke rumah. Ingin rasanya dia menayakan kejanggalan pada diri Aurel, akan tetapi melihat keadaan luka Aurel yang tanpa henti mengeluarkan darah membuat dia berputar haluan menuju ke rumah sakit.


“Kakak, nanti kita main lagi ya” bisik Bella menyeringai kepada Aurel.

__ADS_1


Tangan kanan Bella menggenggam belatung yang masih bergerak, salah satu mainannya di sarang wewe gombel bersama para anak lainnya.


__ADS_2