
Jejak menyeruak menghantam keping pekat hembusan panas aura ghaib di hutan angker terlarang penuh misteri.
Jika sudah berada di dalam lingkaran setan, mata kehampaan dalam kedap nafas hampa menusuk relung jiwa kosong yang sudah di isi oleh bisikan dan ilmu sesat. Tubuh pak Nedi sudah terisi hati hitam di rasuki iblis. Kini dia sedang memandikan kerisnya dengan berbagai macam bunga yang berada di dalam mangkuk yang berisi darah. Dia melotot mendengar suara ketukan pintu yang terlalu kuat mengetuk sampai salah satu tulang tengkorak terjatuh dari gantungan dekat pintu rumahnya.
Tok, tok, tok (Suara ketukan pintu berkali-kali).
Krekk.
“Ternyata kau!” seru pak Nedi berdiri membuka pintu dan melihat Jona bermandikan keringat bersama nafas memburu berjongkok di hadapannya.
“Akhirnya aku bertemu dengan mu” ucap Jona bergerak memasuki ruangan tanpa di persilahkan oleh pak Nedi.
“Sepertinya aku harus waspada dengan anak ini, jangan sampai dia menemukan keberadaan wanita itu” gumam pak Nedi menutup kembali pintu.
__ADS_1
Jona mengamati benda-benda yang ada di dalam rumah pak Nedi. Pandangan terhenti melihat pita rambut berwarna merah muda di bawah meja sesajian lelaki tersebut. Pita yang tidak asing baginya. Jona mengambil pita itu lalu pikirannya melayang melihat lagi kepunyaan siapa benda yang sedang dia genggam.
“Hei pak tua, dimana kau mendapatkan pita ini?” tanya Jona penuh rasa curiga memperhatikan gelagat pak Nedi yang semakin aneh.
...🔥🔥🔥🔥🔥...
“Rey tunggu aku! Argghhh” Yara tergelincir terjatuh ke arah semak belukar.
Untuk beberapa menit dia tidak sadarkan diri sampai terdengar suara lengkingan yang memekik telinganya. Saat dia membuka mata, terasa tubuhnya sakit semua, kepala sangat pusing dan kakinya sangat kaku untuk di tegakkan.
TIba-tiba ada sosok wanita bertubuh tinggi sedang melayang melewati dirinya. Tubuh Yara gemetar, dia menutup mulutnya rapat-rapat menahan teriakan yang ingin dia lepaskan. Rambut wewe gombel yang sangat panjang dan berlendir. Yara menepis helai rambut yang hampir menahan kedua kakinya.
“Yara..!”
__ADS_1
Samar suara Jona terdengar, kaki Yara berjalan pincang mengikuti arah suara Rey. Sampai pada beberapa meter dari rumah pak Nedi mereka bertemu.
“Rey dari mana saja kau?” tanya Yara memukul wajah Rey sambil menangis tersedu-sedu.
“Hei berisik sekali!” pak Nedi membuka pintu mendapati dua orang Mahasiswa itu.
Bibirnya tersenyum menyeringai, tangan melambai dengan memberikan kode untuk memasuki rumahnya. Mereka bertiga sudah berkumpul di rumah pak Nedi. Jona masih menggenggam pita merah muda dan belum mendapatkan jawaban daripak Nedi sedangkan Yara dan Rey duduk meneguk air yang di berikan oleh pak Nedi sampai habis tidak tersisa. Meski sudah menghabiskan satu cerek plastic dan tiga potong makanan yang terbuat dari batang pohon rasa manis. Dahaga mereka juga belum bisa hilang.
“Aku sangat curiga, air apa yang telah dia berikan kepada kita” bisik Jona kepada Rey.
Pak Nedi melemparkan tiga kain tipis berwarna putih untuk Yara, Jona dan Rey.
“Kalian beristirahatlah disini, dan kau tidur di ruangan dekat dapur.”
__ADS_1
Pak Nedi menunjuk Yara dengan bengis.
Udara dingin membungkus tubuh mereka, tubuh menggigil membuat Jona memutuskan untuk keluar mencari ranting sebagai kayu bakar. Pandangannya menoleh ke arah tumpukan daun pisang yang terdapat sebuah lilin di dekatnya.