Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
MATI


__ADS_3

Tepat di dalam lubang yang di tutupi oleh daun pisang itu ada Key yang sudah setengah kaku dengan nafas putus-putus mengeluarkan air mata darah. Aroma anyir menusuk, di hembus oleh angin menerbangkan sehelai daun pisang dari tumpukan tersebut. Ada yang aneh saat lilin itu tetap menyala walaupun apinya sudah berkali-kali di hembus oleh angin kencang. Api yang berwarna merah menyala, di atasnya ada gumpalan asap hitam menggulung berputar tanpa henti. Jona bergerak semakin dekat, dia menggeser daun-daun pisang itu. Sampai tersisa satu lembar, kepalanya di pukul oleh pak Nedi dengan balok kayu dari belakang.


Bughh..


Pak Nedi menyeretnya ke semak belukar dan menyayat lengan Jona sangat dalam. Darah Jona di tampung oleh pak Nedi di dalam mangkuk besar, kemudian dia berjalan menuju pohon keramat untuk mempersembahkan darah milik Jona kepada jin yang dia puja.


“Hahahhh…” suara tawa penunggu pohon saat mendapat darah segar dari pak Nedi.


...----------------...


“Rey, ayo kita pergi saja dari sini. Perasaan ku tidak enak” ucap Yara menarik lengan Rey sambil melempar pandangan ke arah kepala tengkorak yang berada di atas meja sesajian milik pak Nedi.


Mata tengkorak yang telah bolong itu mengeluarkan laba-laba hitam kecil dan belatung. Yara memalingkan muka dan menutup mulutnya. Ingin sekali dia berteriak dan berlari. Namun mereka sangat ketakutan melihat sosok wanita berbadan besar dengan dada menjuntai berjalan mendekati meja persembahan.

__ADS_1


“Arghhhh…” rasa takut keduanya yang tidak bisa di abaikan.


Yara dan Rey berlari keluar. Makhluk wewe gombel itu sepertinya tidak mengicar mereka, melainkan sedang menghancurkan isi sesajian milik pak Nedi lalu membakar habis gubuk tersebut.


“Arghhh, ayo Rey cepat!” jerit Yara menoleh meminta Rey untuk segera pergi.


Rey terdiam membisu, kobaran sinar api menampakkan sesuatu di dalam lubang yang sedang dia lihat. Wajah Key dengan tubuh di bungkus kain kafan. Di atas tubuhnya sudah di lilit oleh ular hitam.


“Key! Key!” panggil Rey histeris.


“Rey!” pekik Yara.


Yara menangis ketakutan, dia ingin menghampiri Rey akan tetapi disana masih ada sosok wewe gombel yang mengerikan. Yara memeluk lutut dan masih menangis tersedu-sedu. Dia sudah berputus asa ataupun sudah pasrah jika sosok mengerikan itu akan membunuhnya.

__ADS_1


“Kakak, kakak.. ayo ikut aku” bisik anak kecil bertangan dingin menggenggam lengan Yara.


“Siapa kau?”


Yara mengikuti langkah anak kecil itu sampai pada sebuah pohon raksasa yang memiliki akar besar menggantung. Di atasnya banyak burung gagak berterbangan dan terdengar suara gelak tawa anak-anak kecil yang berasal dari dalam pohon.


“Dimana aku?” gumam Yara lalu mengusap air matanya.


“Ayo kita main” tarikan tangan dari seorang anak lelaki membuat dia tersadar bahwa anak itu adalah tole. Anak yang selamanya ini temannya cari sampai telah tiada.


“Kamu kemana aja dik? Ibu kamu sudah tiada, ayo ikut kakak pulang” Yara menggendongnya berlari di tengah gelapnya hutan dan jalan berlumpur dengan berbagai tumbuhan yang menghalangi.


Sepanjang jalan anak laki-laki itu menangis, dari bekas tempat yang dia tinggalkan bersuara aungan keras seakan ada sosok penuh murka mengincar.

__ADS_1


Mengambil anak kecil yang sudah di curi oleh wewe gombel adalah kesalahan fatal. Yara sudah di kejar oleh maut dari bungkusan dendam sosok dua wujud tidak kasat mata.


__ADS_2