
"Kemarilah sayang, jangan takut. Ada ibu."
Yanti berusaha masuk ke kolong kasur meraih tangan anaknya.
Dubraggh.
Terdengar suara dobrakan dari arah pintu ruang tamu. Yanti secepatnya menggendong si sulung dan mencari si bungsu.
"Dedek, dedek!", teriak Yanti.
Pintu rumah terbuka lebar dan si bungsu telah menghilang. Yanti berlari sambil menggendong si sulung mencari anak bungsunya di sekitar ruangan.
"Dedek, dedek!"
Teriakan Yanti membuat para warga keluar menanyakan keadaannya.
"Ada apa Bu? kenapa ibu sangat gusar?"
"Tolong! anak saya menghilang. Tolonglah ku mohon."
...----------------...
__ADS_1
Para kepala keluarga keluar mencari dengan penerangan sekitar dan membawa benda tajam di tangan. Sementara para ibu menunggu kabar di rumah masing-masing. Bu RT menenangkan Bu Yanti.
Anaknya telah menghilang setelah mendengar suara ketukan pintu misterius. Yanti sangat gelisah, air matanya tidak berhenti mengalir. Di malam itu juga dia menitipkan anak sulungnya dan berlari bersama seorang warga menemui pak Nedi.
"Tolong, tolonglah anak saya pak
Dia telah di menghilang."
...----------------...
Aurel yang telah berubah wujud menjadi Wewe gombel. Sepertinya dia telah melupakan segalanya. Sepenuhnya jiwa dan raganya telah di kuasai oleh penunggu pohon keramat yang telah di transaksi kan oleh ayahnya. Anak-anak tersebut dia kumpulkan di sebuah tempat di dalam pohon besar, kini menjadi tempat tinggal mereka bersama-sama.
Cacing, belatung dan darah yang di lihat oleh para anak manusia seperti terlihat makanan dan minuman yang lezat dan nikmat. Para anak-anak yang telah berhasil dia curi sekarang sedang menyantap hidangan yang menjijikkan. Di mata mereka, semua itu terlihat seperti semur ayam, mie goreng dan susu hangat. Tidak ada ketakutan sama sekali. Mereka menyantap makanan mereka sampai tertidur di temani Wewe gombel. Sosok Aurel yang cantik dan mirip seperti manusia di mata anak-anak kecil itu.
...----------------...
"Hal ini sangat berat bagi saya."
"Tolong lah, katakan padaku wahai dukun sakti. Apapun akan aku lakukan."
"Benarkah, apapun itu?"
__ADS_1
"Ya, aku ingin anakku selamat dan kembali."
...----------------...
Sementara Gilang masih bersusah payah mengejar informasi dan konfirmasi agar bisa masuk ke dalam hutan terlarang. Salah satu warga memberitahu kepada pak hakim bahwa ada seorang dukun sakti yang hebat di kampung mereka. Dia bernama Mbah Nedi. Pak Hakim bersama Gilang langsung menemui rumah kediaman pak Nedi yang masih di ingat oleh Gilang.
Arah jalan rumah pak Nedi memasuki sebuah gapura. Di pekarangan rumah yang berjarak satu jam dari rumah lama Aurel. Rumah yang konon katanya di sebut dukun sakti bernama Mbah Nedi terlihat suatu rumah yang di kelilingi oleh pohon-pohon bambu kuning dan terdapat patung berbentuk yang sangat aneh.
Terlihat seorang wanita duduk di samping rumah sedang di siram air yang berisi bunga oleh seorang lelaki yang terlihat sangat muda. Lelaki tersebut sangat terkejut melihat kedatangan Pak Hakim dan Gilang.
"Berhenti disitu. Jangan ganggu ritual kami."
Pak Nedi berkeras, melotot membuat mereka berjalan mundur.
Gilang sangat ingat wajahnya, bentuk wajah pak Nedi yang dahulu sangat berbeda. Lelaki yang penuh Karisma dan bertubuh kekar.
"Maaf tapi Waktu kami sangat mendesak. Aku akan memanggil polisi jika kau mengabaikan perkataan ku."
"Berani sekali kau!"
Pak Nedi menghentikan aktivitas dan menyuruh wanita tersebut pulang. Dia mengajak pak Hakim dan Gilang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kau telah kembali? aku masih menyimpannya. Boneka jerami yang dahulu di perebutkan Aurel, Ahahah."