Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Terakhir kali Aurel mengenal nafas


__ADS_3

Kegelisahan dan kecemasan adalah penyakit dan kadang merupakan kejahatan.


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


Aurel duduk di teras rumah, melepaskan segala penat memandang bunga-bunga mawar putih kesukaannya. Pepohonan yang melambai, segelas coklat panas dan para pekerja yang sibuk membersihkan rumah beserta halaman. Semua yang dimilikinya tidak pernah meletakkan arti kebahagiaan dunia.


Mimpinya bertemu nenek dan ibu kemarin di Rumah sakit membuat kebencian pada dirinya sendiri. Dia sangat benci terbangun dan kembali menjalani hidup yang menderita sampai detik ini. Pemikiran Aurel masih saja kacau mengingat kejadian Gilang yang tanpa sengaja di dorong olehnya.


Jika saja lelaki agresif itu tidak memelukku ku! pikirnya.


Pak Edi berlari menuju Aurel memberikan sebuah amplop putih yang kotor kepada Aurel.


"Permisi non, ada surat dari kotak pos depan rumah."


"Terimakasih, pak."


Sepucuk surat bertinta warna merah, kertas yang kusut dan kotor bertuliskan sebuah kalimat yang membuat jantung Aurel memompa lebih kencang. Dia sangat shock, tangannya meremas surat yang berisi dari pak Nedi.

__ADS_1


πŸ“„Temui aku sekarang di hutan sekarang sebelum matahari terbenam atau Gilang si tikus kecil itu tidak akan selamat.


"Pria jahat! dia tidak bersalah kenapa kau jadikan sebuah kail untuk menangkap ikan! aku,anak kandung mu sendiri. Akan tetapi, bagaimana dia tau kejadian itu?"


Prang, prang.


Aurel membanting vas bunga yang sontak menarik perhatian para pekerja menghentikan aktivitas dan sesekali melihat Aurel. Nyonya rumah yang mereka kenal baik dan lembut sejak dulu tidak mempunyai sifat pemarah seperti itu. Tidak ada sapaan kepada penjaga gerbang pos rumah ataupun pak supir.


Aurel meraih kunci mobilnya dan melaju menuju hutan terlarang membawa foto nenek, ibu dan sebuah benda tajam.


Nenek..ibu. Jemput Aurel, Gumamnya.


"Aku sangat terlambat!"


Dia menepikan mobil dan berjalan menuju hutan terlarang. Hanya ada layar ponsel dan jejak kain hitam yang sudah di beri tanda pak Nedi agar Aurel mengetahui letak keberadaannya. Hawa dingin melebur menjadi satu bersama keheningan malam mencekam membisikkan ketakutan pada jiwa yang gelisah. Jalan berlumpur membuat kaki susah untuk berjalan.


Dia melepaskan sendal dan meninggalkannya di bawah pohon. Tampak di depannya dua buah obor dengan selembar kain hitam yang lebar berukuran persegi panjang bertabur bunga dan aroma kemenyan. Tidak ada Gilang yang seperti di katakan pak Nedi.

__ADS_1


Ya, sekarang aku sadar bahwa dia sudah menjebak anaknya sendiri, gumamnya.


Di sekeliling lingkaran tepat mereka berdua berdiri telah di kelilingi oleh kepala-kepala tengkorak. Pak Nedi seakan sudah lupa di hadapannya adalah darah dagingnya sendiri. Pak Nedi memegang janggutnya dan mendekati Aurel. Langkah kaki Aurel berjalan mundur, dia mengangkat kedua tangan dengan pisau yang sudah dia persiapkan.


"Ahahah, sepertinya kau mewarisi sifat pembunuhan berdarah dingin seperti ku."


"Diam kau! pria jahat!"


"Walau bagaimanapun dia ayahku, bagaimana bisa aku membunuhnya", batinnya.


"Ahahah, kenapa? kau tidak berani membunuh ku?"


Pak Nedi memperlihatkan sebuah boneka yang terbuat dari jerami. Di tangan kiri terdapat sebuah jarum dan menusuk-nusuk boneka tersebut.


"Boneka ini adalah Gilang, ahahaha. Selama ini kau bahkan telah melupakan siapa aku!"


"Cukup, hentikan! dia tidak bersalah!"

__ADS_1


Aurel mendekati pak Nedi dan menusuk lengan sebelah kanannya.


"Arrgghh, anak sialan! Hari ini kau tidak bisa kabur lagi."


__ADS_2