
Biasanya kalau terjadi kabut putih tebal datang di atas fajar, ada kelahiran anak-anak harimau yang telah lahir ke dunia. Suara harimau mengaum menyayat cakaran ke tanah. Setelah kelahiran lima ekor anak harimau, pak Nedi dengan ganas mengambil salah satu anak harimau dan membawanya ke hutan terlarang. Pak Nedi menyiapkan tungku besar dengan bakaran api di bawahnya. Di bawah pohon tempat dia pernah melakukan transaksi dengan makhluk halus, setelah air mendidih dia memasukkan anak harimau yang masih bernafas ke dalamnya. Acara ritual ilmu penguat diri, dalam porsi setengah masak pak Nedi melahap habis anak harimau dan kembali menemui Aurel.
Anak perempuan yang sudah setengah siluman itu menangis dan berteriak ketika melihat kehadiran sosok ayah di masa hidup nya yang memberikan penuh penderitaan. Dia mengacak rambut sekencang-kencangnya berlari keluar rumah. Bella yang ketakutan berlari menuju Gilang. Aurel berlari keluar rumah dan menghilang di balik kabut putih pekat.
Di bagian Utara samping wilayah keramat yang sudah mengabarkan isu wewe gombel makhluk pencuri anak-anak. Mereka memasang pembatas benang berwarna merah, putih dan hitam. Aurel yang berlari menuju kesana tanpa sengaja memutuskan tali dan tersungkur ke tanah.
"Arrgghh, argghh.."
dia sangat kesakitan dan meringis menahan sobekan bercampur nanah pada kaki.
Hal yang begitu mengerikan saat seorang warga melihat curiga gelagat Aurel. Dia mendekat dan memperhatikan era pada luka. Dengan penampilan Aurel yang seperti orang gila, pria tersebut melemparkan batu kerikil untuk mengusirnya.
"Pergi kau orang gila! kau telah merusak pembatas pelindung desa!" pekiknya melempar lagi batu ke arah kepala Aurel.
__ADS_1
Wanita malang itu tidak bisa menangis atau merasakan kesedihan yang dia alami. Dia hanya berlari dan bersembunyi di balik rumah tua dengan menekuk lutut.
"Aurel dimana kau!"
dari kejauhan suara pak Nedi memanggil namanya tanpa henti.
Bayang ingatan Aurel di masa lalu terlintas kembali. Saat dia bersama nenek Isda, kini dia mengingat lagi kejahatan sang ayah ketika dia menjadi manusia. Langit masih mengabarkan suasana terik dengan pantulan cahaya di atas kepala. Aurel menuju hutan terlarang untuk menunggu malam bersiap melakukan perlawanan kepada pak Nedi.
Gilang menitipkan Bella pada pengurus rumah. Dia pergi bersama pak Nedi untuk mencari Aurel yang sedang di kejar oleh ayahnya sendiri. Sepanjang jalan Gilang mengusap kepala dan menghela nafas. Hidupnya begitu terasa kacau balau dan semakin berantakan.
"Apa yang harus aku lakukan kepada pewaris tunggal cucu Batara itu?" tanya Gilang dengan manik mata keliling melihat jalan.
"Bapak sudah menyerahkan semua harta Bu Aurel, namun Bu Aurel harus perlu pengamanan lebih serius. Kita tidak melepaskan begitu saja."
__ADS_1
"Kau benar sekali tapi dia saat ini dia lebih membutuhkan terapi kejiwaan atau pengobatan sihir. Ayahnya yang dukun jahat itu seakan tidak puas jika anaknya belum tiada."
"Ah geram sekali" tambahnya lagi, Gilang memukul setir dan melaju mobil lebih kencang.
Aurel bersembunyi di atas pohon ketika langkah pak Nedi hampir menemukan nya. Indera penciuman nya semakin tajam dan bisa mendengar radius bau manusia. Dari bawah pohon pak Nedi melingak linguk mencari Aurel. Pak Nedi semakin kuat setelah melakukan berbagai macam ritual.
Dia mengeluarkan benda pusaka ghaib dan mengusap dengan keras.
"Hiyaaaaaa..."
Tubuh Aurel lemas terjatuh dan mengeluarkan muntahan belatung dari dalam mulutnya.
"Ahahah, Hahah. Kau tidak akan aku lepaskan"
__ADS_1