Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Bahaya


__ADS_3

“Bella, anakku..” panggil Gilang mencari-cari ke segala arah.


Tanpa sepengetahuan Gilang, sosok wewe gombel yang sudah berubah kembali menjadi manusia itu menarik Bella dari dalam pohon besar. Ketika di alam lain, Bella tampak bahagia bersama teman-teman kecilnya yang lain. Banyak makanan yang Aurel suguhkan, sajian bangkai dan darah yang terlihat seperti makanan lezat pada umumnya. Namun hari ini ketika Bella kembali ke alam nyata, dia menangis tersedu-sedu bahkan seperti seorang anak yang sangat linglung.


“Bella tenanglah ini ayah, ayo kita pulang” ucap Gilang memeluk buah hatinya.


Dia mencari Aurel yang menghilang, lalu berkali-kali Gilang memanggil nama Aurel yang tidak kunjung tiba. Bella sudah tenang di atas pundak Gilang. Saat mereka melewati rawa-rawa, terlihat Aurel sedang duduk di bawah dengan menekuk lututnya.


“Aurel, apa yang sedang kau lakukan disini? Ikutlah dengan ku.”


Gilang berusaha menarik tangan Aurel. Dia sedang menjaga keseimbangan agar Bella tidak terjatuh.


“Ayah, aku takut” ucap Bella menunjuk Aurel, dia menenggelamkan wajahnya di pundak Gilang dan menarik baju dengan erat.


“Tidak apa-apa, tante Aurel sangat baik, dan engkau Aurel tolong cepat raih tanganku.”


Mendengar perkataan Gilang. Aurel perlahan meraih tangannya dan berjalan bersama keluar dari hutan.

__ADS_1


“Pak Gilang! Anda hilang dari rumah sakit, dugaan ku tidak salah. Kau berada disini” ucap pak Hakim bergegas membuka pintu mobil.


“Tolong berikan handuk pada ibu Aurel.”


“Apa maksud anda? wanita ini adalah ibu Aurel begitu?” tanya pak Hakim membulat memperhatikan keadaan Aurel yang begitu aneh.


Gilang menganggukkan kepala dan menidurkan Bella di pangkuannya. Hidupnya kini menjadi sangat dilema. Ada anak, istri dan cinta pertama yang telah kembali di hidupnya.


“Ibu Aurel, apakah harus kami antar dahulu ke rumah sakit?” tanya pak Hakim menoleh sambil mengemudi.


Sorot mata Aurel tetap lurus ke depan, seolah doa tidak mendengar pertanyaan dari pak Hakim yang berkali bertanya.


“Ahahah, aku seperti sedang bermimpi. Pak Gilang seorang direktur perusahaan melarikan diri ke dalam hutan!” seru pak Hakim memukul pelan dahinya.


...----------------...


Setiba di rumah Gilang, terlihat Gayatri sudah berdiri menyambut mereka di depan pintu. Dia melengos melihat wanita yang berjalan di belakang Gilang. Kemudian pandangan berubah berkaca-kaca saat mendapati Bella yang sudah di temukan.

__ADS_1


“Anak ku..”


Gayatri berlalu ke dalam rumah tanpa memperdulikan Gilang dan yang lain. Namun langkah terhenti saat Aurel ikut memasuki rumah.


“Berhenti disana, siapa kau?” ketus Gayatri mengamati penampilan Aurel.


“Adik, dia adalah Aurel. Pemilik sah segala aset dan saham ku.”


“Apa kau bilang? Kenapa kau merahasiakan semua ini?”


“Hiks, hiks..” tangis Bella pecah mendengar suara lantang Gayatri.


“Sudah, tolong kau tenangkan lah Bella”


Aroma kemenyan pada tubuh Bella masih melekat tajam.


Sekujur tubuhnya penuh lumpur dan berlendir. Gilang menunjukkan kamar mandi kepada Aurel. Sementara dia kembali melakukan pembicaraan kepada pak Hakim. Di ruang tamu yang megah itu, mereka melakukan diskusi panjang. Gilang berniat memindahkan segala aset sah Nyonya Batara yang pernah Aurel berikan kepada Gilang beberapa tahun silam.

__ADS_1


“Apakah bapak sudah mantap dengan keputusan ini?” tanya pak Hakim menyiapkan dokumen di atas meja.


__ADS_2