Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Seteru mistik


__ADS_3

Deras hujan menggambarkan isi hatiku saat berlabuh kepergian terakhir saat ku memeluk jasad mu. Teruntuk seorang yang telah tiada. Aku sedang menghafal semua lekukan raut wajahmu. Menelantarkan jiwa tulus mu selama ini membuat kesengsaraan tiada akhir.


Gilang


Tidak ada yang bisa kembali jika nafas telah berhenti. Kematian itu pasti, tidak ada yang bisa menghindari. Hanya sisa kenangan dan kekecewaan pada diri sendiri. Gilang terus menerus menepuk dada menyalahkan diri sendiri akibat lalai menjaga Keluarga nya. Dia terlalu lemah untuk berdiri, Isak tangis memeluk Gayatri dengan sangat erat. Setelah proses pemakaman Selesai, Gilang merengkuh kan tubuh di atas sofa ruang tamu. Tidak ada yang berani menegur atau menenangkan nya. Dia begitu terguncang dan merasakan penyesalan yang teramat dalam.


"Ayah, ayah.." suara Bella membuka kembali kelopak mata dan mencari-cari keberadaan.


Ada Bella dan Aurel yang berdiri di depan pintu sambil bergandengan tangan. Keduanya tersenyum melambai dan Bella berlari memeluk Gilang sambil tertawa. Ingin dia mengatakan bahwa ibunya telah tiada. Namun pasti akan menjadi pukulan batin terdalam bagi anak seusia Bella.


Apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus mengatakan pada anakku Bella? gumam Gilang mengusap kepala Bella dengan lembut.

__ADS_1


Gilang mencium aroma anyir pada tubuh Bella. Dia mengambil sobekan daging mentah di sudut bibir Bella dengan memperhatikan begitu lama. Sekilas mirip dengan daging ayam atau daging hewan lainnya. Baju Bella setengah basah dan bagian belakang terasa berlendir.


"Darimana saja kah kau sayang?" tanya Gilang lalu menatap Aurel yang berpenampilan lusuh.


Suara Gilang terdengar serak, mata sembab juga menahan flu yang selalu mengalir dari rongga hidung. Gilang meraih tisu di atas meja dan menuju kamar mandi. Bella kembali menuju pelukan Aurel dan meminta ikut duduk di atas sofa. Aurel hanya mengikuti gerakan Bella dengan tatapan kosong, dia melihat sekeliling ruangan dan menghembuskan sebuah hewan keluar dari mulutnya. Beberapa ekor serangga hitam dia tebarkan ke langit-langit ruangan. Andi kembali menuju ruang tamu dan membisikkan sesuatu ke arah Aurel.


"Istriku telah tiada, dari mana saja kau bersama Bella?"


"Aku menenangkan anakmu!" ketus Aurel membuang wajah ke arah lain.


Gilang beralih ke Bella dan menggendongnya. Dia meminta Aurel membersihkan diri dan kembali lagi ke ruang makan untuk makan malam bersama. Gilang memanggil para pekerja agar besok kembali bekerja di rumah. Dengan telaten Gilang mengurus Bella, kini dia menyisir rambut putri cantik nya sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kenapa ayah menangis?" tanya Bella menunjuk mata ayahnya.


Gilang menggelengkan kepala berusaha menahan bendungan yang hampir pecah. Dia mengusap air mata. Dia meraih ponsel genggam meminta pak hakim membawakan makanan yang dia pesan.


Di dalam kamar, Aurel masih tampak terdiam tidak melakukan pergerakan. Dia tidak tau cara kegiatan manusia sehari-hari. Aurel menuju jendela dan melompat menuju pohon. Dia duduk di salah satu dahan pohon dan menggoyangkan kedua kakinya.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu mengetuk kamar Aurel.


"Aurel, ayo kita makan bersama" panggil Gilang lalu mengetuk pintu kembali.

__ADS_1


Pintu kamar yang tidak terkunci tanpa sengaja terbuka dan mendorong tubuh Gilang memasuki kamar. Gilang tidak melihat Aurel di dalam. Dia menuju ruangan lain untuk mencari.


"Aurel.."


__ADS_2