
Gilang dan pak Hakim belum kembali. Gayatri menuju kamar melihat Aurel dan Bella duduk bersama. Mereka berdua tidak memperdulikan kehadiran Gayatri, Bella yang sibuk bertepuk tangan dengan Aurel sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bella anakku"
Gayatri menghampiri Bella lalu menggendongnya menjauh dari Aurel.
"Hiks, hiks.." tangis Bella mengangkat kedua tangan mengarah ke Aurel.
"Akulah ibu mu nak!" Gayatri membawa Bella berlari menuruni tangga.
Gayatri begitu ketakutan melihat sepanjang lantai penuh dengan lumpur merah. Kursi dan meja bergeser ke segala arah. Ketika dia ingin membuka gagang pintu. Pintu terkunci membuat Gayatri semakin ketakutan. Gayatri menuju telpon rumah, menekan tombol panggilan dengan gerakan gemetar.
Angkat telpon ku Gilang! gumam Gayatri melihat Aurel yang berjalan menghampiri.
"Kakak, ayo kita main lagi" ucap Bella mengangkat kembali tangannya.
__ADS_1
"Arrghh.. jangan kau dekati kami!" pekik Gayatri berjalan mundur memeluk erat Bela.
Gayatri tergelincir dari tangga, kepalanya terbentur mengeluarkan darah begitu deras dari kepala. Dia tidak sadarkan diri sambil memeluk Bela. Tangis Bella melihat ibunya tidak sadarkan diri, kepala Bella juga ikut berdarah namun keanehan terjadi karena anak kecil itu tidak merasa sakit sama sekali. Aurel mengambil Bella dan Aurel dan mengelus pipinya. Seketika membuat Bela berhenti menangis dan memeluk Aurel. Dia membawa Bela kembali ke asal mereka, rumah pertama yang kini Aurel huni di bersama sosok lain Aurel yang berwujud Wewe gombel.
Makhluk itu memberikan hidangan darah dan bangkai hewan. Bersama anak-anak kecil lainnya mereka melihat makanan yang berubah menjadi hidangan lezat. Aurel memberikan Bela darah hewan yang baru saja dia bunuh di balik pandangan susu hangat berwarna putih.
...----------------...
Gilang dan pak Hakim tiba di rumah pukul tiga pagi. Suara burung hantu dan ramai suara gagak berterbangan di atas rumah. Pak hakim bergidik melirik salah satu burung gagak mendekati Gilang. Dia mematuk tangan Gilang sampai membuat sobekan pada kulit.
Pertanda apa ini? kenapa perasaanku tidak nyaman? gumam Gilang membersihkan darah dengan sapu tangan.
Gilang menemukan Gayatri di bawah anak tangga dengan darah yang tergenang di lantai. Dia langsung mengangkat Gayatri menuju rumah sakit.
"Pak Hakim tugas mu adalah menemukan anakku Bela, tolonglah aku" ucap Gilang memasuki mobil.
__ADS_1
"Baiklah Pak, saya akan mengabari jika sudah mendapatkan informasi"
Perjalanan menuju rumah sakit masih setengah jalan. Nyawa Gayatri sudah melayang dengan tubuh kaku. Tangan kanan Gilang menyetir mobil sedang tangan kiri memegang tangan Gayatri. Dia menghentikan perjalan ketika merasakan denyut nadi di tangan Gayatri berhenti.
"Gayatri bertahanlah! kenapa kau pergi secepat ini? semua salahku!" tangis Gilang memeluk Gayatri.
Semua belum selesai, Gilang yang memulai awal pertemuan di waktu lalu dengan Aurel. Mengingat cerita merah mudah bersama wanita yang kini membuat hancur rumah tangganya. Gilang kembali mengebut mobil menuju rumah sakit dan membawanya ke ruang unit gawat darurat. Hanya beberapa menit sang dokter sudah keluar dari ruangan dan menyatakan kematian Gayatri akibat benturan keras di kepalanya.
"Tidak mungkin dok, tolong selamatkan istri saya"
"Maaf pak, saya turut berdukacita. Bapak boleh membawa jenazah pulang atau pihak rumah sakit yang akan mengurusnya"
Gilang bersujud di depan jasad Gayatri, dia sangat terpukul dan mengalahkan dirinya sendiri.
"Gayatri maafkan aku!"
__ADS_1