Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Ada di sana


__ADS_3

Menunggu masa yang tidak pernah kembali, mengibas sisi liar mengayun paksa jiwa agar tetap tegak di atas bumi. Musim kering akan segera melanda saat tangis mengering kehilangan banyak anak-anak kecil yang di curi oleh wewe gombel.


Dia tanpa jeda mengumpulkan jiwa-jiwa murni untuk menghirup hawa murni mereka sebagai kekuatan untuk membalaskan dendam kepada pak Nedi. Setelah mencekik Mega, wewe gombel menghilang ketika menyentuh kain hitam milik pak Nedi. Bekas kain saat peristiwa lalu yang membungkus tubuhnya sebagai ritual persembahan untuk jin penunggu pohon besar keramat.


“Tolong!” Kaki gemetar sulit bergerak.


Dia merangkak keluar dari lorong akar pohon yang gelap mencari jalan keluar. Akan tetapi bajunya terasa tersangkut oleh sesuatu. Dia menghentikan gerakan dan menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang anak kecil yang menariknya. Wajah yang pucat, lingkar mata hitam mengenakan baju putih kumal dengan rambut acak-acakan.


“Adik kecil, apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Mega menyentuh pundak anak kecil tersebut.


“Bu, aku mau pulang!”


“Adik, ayo ikut ibu. Tapi sebelumnya ibu akan mencari anak ibu yang bernama Tole. Apakah kamu pernah melihatnya?” tanya Mega menepis air mata yang terus keluar.

__ADS_1


Anak kecil itu menunjuk ke arah kanan lalu memeluk Mega dengan erat. Dia sangat ketakutan, tubuh sangat dingin berbau anyir melekat membuat Mega ingin mual.


“Kau kenapa?” tanya Mega melirik ke arah yang di tuju.


Suasana semakin gelap, tidak ada sinar yang menembus sela-sela akar pepohonan sekecil apapun. Mega tidak bisa melihat dengan jelas, sementara anak kecil yang memeluknya tadi telah menghilang. Dia tidak menemukan anaknya, dengan tangis yang tersedu-sedu mega meraba setiap dinding akar dan melepas kain hitam milik pak Nedi.


...----------------...


“Hei wanita bodoh, kau kemana kan kain milik ku?” ucap pak Nedi menjambak rambut Mega.


“Sebagai gantinya, kau harus menjadi persembahan tuanku!” pekik pak Nedi mendorong dia ke dalam lubang yang dalam.


Sebuah tempat bekas kerangka Aurel yang pernah dia kubur dan persembahkan. Dari atas, pak Nedi melempar batu besar ke tubuh Mega. Sampai wanita itu pingsan dia menabur bunga-bunga dan kemenyan lalu mengucap mantra.

__ADS_1


"Ahhh.. kenapa tuan ku tidak bisa mengganti kain kafan milik anak sialan itu?” tanyanya menghadap pohon sambil bersujud.


Sepanjang malam pak Nedi mencari kain hitam, dia juga mencari sarang rumah wewe gombel. Anak yang sudah dia tumbalkan dan di bangkitkan oleh sekertaris Kim. Begitu pula Gilang yang meraa khawatir dengan Aurel dan segala kenangan pahit wanita itu di masa lalu. Dia menitipkan Bella pada ketua RT dan pergi ke hutan membawa senter bersama dua orang petugas siskamling.


“Apakah bapak yakin, nona Aurel pergi kesini?” tanya pak Finto memegang tengkuknya yang merinding.


“Sttthhh..” pak bona menutup mulut Finto memberi kode agar tidak berisik.


Hutan terlarang yang sudah terkenal angker dan di yakini siapa pun yang sudah memasukinya berpeluang kecil bisa kembali lagi. Kedua petugas itu terpaksa mengikuti langkah Gilang. Mereka terkadang terkejut oleh suara burung gagak dan berbagai suara aneh bersahut-sahutan.


“Ayah…!” suara Bela memanggil Gilang.


“Bella, kamu dimana nak?” Gilang berlari mengejar suara Bella lebih cepat sampai kedua petugas tersebut kehilangan jejaknya.

__ADS_1


“Bella..!”


__ADS_2