
Pak Nedi dukun sakti itu benar-benar merusak kehidupan Aurel. Dia hidup dalam penderitaan panjang. Terkadang dia bertingkah si luar batas kewajaran dan menuju sifat sebagai sosok wewe gombel. Jauh di hutan terlarang masih ramai suara tawa anak-anak yang dia sembunyikan.
Bersama keras suara burung gagak masih mengerumuni atap rumah Gilang. Sudah lama dia berkeliling mencari keberadaan Aurel akan tetapi tidak menemukannya. Dia menuju kembali ke Bella dan menggendong ke arah dapur. Andi mendudukkan Bella di atas kursi, dia menyiapkan minuman, piring, gelas dan sendok di atas meja. Saat dia menuang susu dan ingin memberikannya pada Bella, tiba-tiba Bella tidak ada disana.
“Bella, Bella..” panggil Gilang mencari-cari ke segala arah.
Pintu ruang tamu terbuka, Andi begitu gusar menoleh keluar mendengar suara Bella tertawa renyah di atas pohon. Langit tampak gelap membuat kabur pandangan, Andi mengeluarkan layar ponsel menyorot ke atas pohon. Ada Bella dan Aurel yang sedang duduk bersama di salah satu dahan pohon.
“Bella, Aurel!” panggil Gilang sangat panik masih menyorot mereka.
Gilang melepaskan sendal berusaha naik ke atas pohon dan meraih tubuh Bella, dengan sigap dia menggendong Bella dan perlahan menurunkannya. Kemudian dia kembali menaiki pohon dan meminta Aurel meraih tangannya.
__ADS_1
“Aurel, cepat raih tangan ku.”
Tangan Aurel yang dingin memegang tangan Gilang ikut menuruni pohon. Mereka memasuki rumah dengan keadaan kotor.
“Ada apa dengan kalian? Ayo kita bersihkan diri masing-masing”
Pukul 21:00 WIB, pak Hakim datang membawa makanan dan dokumen pemisah aset Gilang dan Aurel. Mereka menikmati hidangan bersama dalam hening dan membisu. Setelah makan selesai, mereka pindah keruang kerja dan membahas berkas-berkas tersebut. Disana masih ada Aurel yang masih tampak linglung, rambutnya terlihat acak-acakan tidak tersisir.
“Pak Gilang, sepertinya ibu Aurel masih kehilangan ingatannya, atau dia seperti hidup kembali dari kematian. Saya turut prihatin atas musibah yang menimpanya, karena pak Nedi sejak awal ingin membunuh Anaknya sendiri” ujar pak Hakim mengusap dagu dan kembali memeriksa selebaran berkas pada amplop coklat.
“Kau ada benarnya juga, aku akan mencoba membawanya ke dokter terlebih dahulu” ucap Gilang menoleh ke arah Aurel.
__ADS_1
“Saya sudah memisahkan segala aset, hanya tinggal tanda tangan dari bu Aurel. Kalau begitu saya permisi."
...----------------...
Gilang meraih sisir dan mendekati Aurel. Dia perlahan menyisir rambut nya yang tampak masih berlendir berwarna hijau.
“Aurel sandarkan lah kepalamu pada kursi, aku akan membasuh sisa kotoran yang menempel pada rambutmu.”
Gilang mengambil dua ember yang berisi air dan satu baskom besar sebagai penampung tumpahan bilasan. Dia membersihkan rambut Aurel dan menarik kotoran hijau yang terlihat mirip urat hijau dari dalam kepala. Batok kepala Aurel terlihat seperti lapuk dan masih mengeluarkan lendir berwarna hijau. Gilang menghentikan menyiram rambutnya dan bergerak mundur. Ingin dia menutup hidung karena semakin dia membasuh kepala Aurel dengan air maka semakin tercium bau amis.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Gumam Andi kembali mendekat.
__ADS_1
...----------------...
Kepada para pembaca yang Budiman jangan lupa menebar serpihan tanda jejak untuk Author ya semoga kalian tetap semangat dan sehat selalu. Terimakasih 👍🏻