Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Teror dari Ayahnya Aurel


__ADS_3

Seperti pertemuan yang sudah di garis tanpa sengaja, pertemuan mereka kembali lagi.


"Oh, jadi seperti itu ceritanya."


Lalu Aurel pergi ke dapur mengambil air untuk pak Gilang.


Rumah yang sudah lama tidak berpenghuni, hanya seminggu sekali pengurus rumah datang membersihkan perabot dan segala isi rumah. Sulit bagi Aurel mengingat kembali memori letak gelas dan peralatan dapur yang tersimpan. Pak Nedi siuman memegang kepala yang di pukul oleh Gilang. Sungguh ajaib, tidak ada luka ataupun lebam akibat pukulan dari batu yang mendarat di kepala.


"Kenapa tidak ada bekas luka sama sekali? Ah, pikiranku aneh sekali, mungkin itu hanya perasaanku saja."


Bisik pak Gilang dengan pandangan mencari-cari bekas pukulannya kepada pak Nedi.


Ayah Aurel sang penganut ilmu hitam sudah memiliki ilmu kebal dengan pukulan apapun.


Akan tetapi tidak mencurigakan Gilang. Pak Nedi menatap tajam Gilang dan tersenyum menyeringai.


Diapun bergumam melirik tajam; "Aku akan memanfaatkan mu anak kurang ajar, berani sekali kau memukulku!"


Tatapan angkuh pak Nedi berubah sekejap menjadi tatapan belas kasihan yang mendalam di pandangan Gilang.


"Mengapa bapak tidak tinggal saja bersama Aurel?"

__ADS_1


"Baiklah permainan kita mulai Aurel, dasar anak pembangkang! kau selalu melawanku!", gumam pak Nedi.


Karena ilmu sakti pak Nedi, jiwa Aurel merasa terpanggil sampai berhasil kembali ke kampung halaman. Pak Nedi berpura-pura ringkih berjalan mendekati Gilang. Dengan kaki yang di tekuk dan menghadap Gilang , kedua tangan pak Nedi di letakkan ke dada Gilang sambil mengucapkan mantra. Setelah mantra selesai, mata pak Nedi melotot melihat Gilang.


"Nak, kau harus membantu aku kembali bersama anakku."


Bagai terhipnotis perkataan dari ayah Aurel . Gilang menuruti perkataan pak Nedi. Rencana pak Nedi membawa Aurel ke hutan terlarang masih menjadi pegangan awalnya. Lama sekali Aurel menyeduh secangkir teh hangat untuk Gilang. Setelah satu jam Aurel kembali ke ruang tamu dengan secangkir teh hangat dan beberapa lapis roti di atas alas antik.


"Terimakasih Bu, saya.pesan satu gelas lagi boleh?"


"Untuk siapa pak Gilang?"


Hati Aurel yang dingin masih belum menerima perlakuan pak Nedi yang jahat. Aurel tidak menghiraukan perkataan pak Gilang, dia duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya.


"Bapak pulanglah, lelaki tua ini akan pulang juga pak! saya sangat lelah dan letih hari ini", ketus Aurel.


SRRUPPH.


Tegukan teh buatan Aurel seakan di nikmati pak Gilang tanpa menghiraukan perkataan Aurel. Pak Nedi hanya terdiam dan sesekali melengos kepada Aurel.


"Dasar anak tidak tau diri", umpatan pak Nedi.

__ADS_1


"Terimakasih atas teh rotinya Bu, rasanya semanis buatannya", celoteh Gilang merayu Aurel.


"Ckckckkkk", Aurel berdecak.


Aurel menuju pintu luar mengantar kepergian mereka.


"Boleh saya minta kartu nama Bu? dan ijinkan saya membawa pulang bapak ini."


Mata Aurel melotot mendengar perkataan Gilang. Dia menjadi curiga kepada ayahnya, pertanyaan gerangan angin apa yang membuat Gilang begitu terkesima dan baik kepada pak Nedi.


"Apakah pak Nedi sudah terkena ilmu ayah?", bisik Aurel.


Kekhawatiran semakin nyata dengan sorot mata Gilang yang kosong. Aurel bergegas mengambil kartu nama di dompetnya dan berbisik; "Pak besok bawa lelaki tua ini di Rumah sakit kita bertemu di perempatan jalan."


"Ya Bu dilaksanakan", senyum Gilang pergi berlalu bersama pak Nedi.


Malam hari yang hening bernyanyi kan suara burung hantu di sekitar rumah nenek Isda.


Aurel menuju ruang pribadi dan melihat layar cctv di setiap ruangan. Aurel memantau apakah ada aktivitas yang mencurigakan sampai pada salah satu layar monitor di depan teras rumah. Seorang lelaki yang berdiri tegak menghadap pintu rumah nek Isda.


...💀💀💀...

__ADS_1


__ADS_2