Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Perseteruan dengan sosok halus


__ADS_3

Sosok Wewe gombel yang sedang meletakkan dendam pada pak Nedi. Seolah menghubungkan segala sebab akibat kehancuran dirinya dengan mengaitkan orang-orang yang berada di sekitar.


"Dimana Bella?" tanya Gilang kepada si mbok yang sibuk membuang sisa lauk pauk makan malam.


Matanya merah bengkak dan sembab, ada genangan air masih tersisa dan terkadang mengalir terusap perlahan bersama Hela nafas panjang. Pekerja rumah itu begitu ingin hengkang kaki dari rumah kebesaran. Namun dia sudah banyak terhutang Budi pada kebaikan yang di tanamkan oleh Gilang.


"Kau kenapa mbok?" tanya Gilang memperhatikan keadaannya.


"Tidak apa-apa tuan, saya hanya kurang sehat saja" lirih suara si mbok menekan rasa sesak di dada.


Perlakuan Bella kecil yang kasar dan semakin berubah. Dia tidak ingin menyampaikan segala kelakuan aneh anak itu karena pasti Gilang tidak akan mempercayainya.


"Mbok, kamu saya beri libur satu Minggu. Tugas kamu hanya mengurus Bella saja" ujar Gilang menyodorkan beberapa lembar rupiah.

__ADS_1


"Terimakasih tuan"


...----------------...


Malam panjang tanpa dekapan seorang ibu, Bella yang sudah di rasuki oleh Aurel dan terkadang ikut bersama Aurel menuju pohon besar sarang hantu dimana anak-anak telah Wewe gombel curi yang masih hidup dan sudah meninggal akibat jiwanya tidak bisa keluar menuju dunia. Tingkah pola Aurel yang setiap tengah malam kesurupan mengunci pintu kamar dan mematikan Lampu. Sosok Wewe gombel menggendong dan menimangnya membawa ke tempat yang semestinya tidak pernah dia ketahui.


Jika kau besar maka kau harus membantuku membalaskan dendam! bisikan Aurel ke arah daun telinga anak kecil itu.


Sementara di jeruji besi, pak Nedi telah bebas kembali. Sang dukun penganut ilmu hitam yang sudah menukar Sukma anaknya menjadi lebih berjaya dan belum bisa terkalahkan. Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, dia berencana menyebar luas kemampuan agar di kenal banyak orang. Pak Nedi kembali bersemi dan mencari wangsit di bawah pohon keramat. Kali ini dia tidak membawa sesembahan ayam hitam atau tumbal lainnya.


Tok, tok..


Suara ketukan pintu tengah malam yang membangunkan si mbok.

__ADS_1


"Kenapa tidak menekan bel saja, siapa tamu tengah malam begini?" ujar si mbok membuka pintu rumah.


Sosok tinggi besar dengan dada menjuntai, rambut kumal berlendir berwarna hijau dengan sorot lingkar mata hitam. Sesekali lidahnya menjulur dan menyeringai.


"Ha.. ha...."


Setelah kejadian malam itu si mbok koma dan di larikan di rumah sakit. Dia benar-benar jatuh pingsan menembus segala ketakutan di sekujur tubuhnya. Gilang mencari pekerja baru untuk menjaga Bella. Seorang pekerja dadi kota seberang yang berusia terbilang cukup muda. Rina seorang wanita berumur tiga puluh tahun, dia menawarkan diri sebagai pengasuh Bella.


"Bella, ayah pergi kerja. Kamu sama bi Rina baik-baik di rumah ya" kata Gilang mengusap kepala sang anak.


"Ayah, aku tidak suka dia!" ucap Bella menarik baju Gilang.


Rina mengejar Bella menaiki tangga dan hampir tergelincir membentur dinding. Kaki Bella tampak berlendir mengeluarkan kotoran berwarna hijau. Gilang belum menyadari hal tersebut sampai teriak suara bi Rina dari lantai atas.

__ADS_1


"Arghh...!"


__ADS_2