Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Amarah pembangkit Wewe gombel


__ADS_3

Aurel yang semula lemah tidak berdaya, kini berubah menjadi sosok yang mengerikan. Wajahnya mirip dengan retakan tanah, rambut kumal panjang menyapu tanah, buah dada besar menjuntai dan tubuh membesar. Aurel yang menyatu menjadi sosok Wewe gombel. Pak Nedi menyemburkan bisa dari mulutnya tepat di wajah makhluk Wewe gombel. Perbuatan pak Nedi yang semakin mengundang amarah.


"Dasar anak sialan!" jerit pak Nedi.


Tubuh pak Nedi seketika memuntahkan darah kental, dia merasakan sakit pada bagian dada bersujud di depan sosok Wewe gombel. Langit masih belum menggelincirkan matahari, Aurel kembali lagi menjadi wujud manusia dan berbaring di dekatnya. Pak Nedi seakan gelap mata, dia mengeluarkan keris bermata ular dan mengarahkan ke arah perut Aurel. Gerakannya di halangi oleh pak hakim yang dengan memukul kepala pak Nedi dengan batu.


"Argghh.."


"Orang tua gila, kau sudah berkali-kali ingin membunuh anak mu sendiri!" bentak pak Hakim lalu membantu Gilang mengangkat Aurel menuju mobil.

__ADS_1


Suasana telah petang, putaran waktu yang begitu cepat menuju perjalanan pulang. Gilang mengurungkan niat ketika mengingat ucapan dari pak hakim. Seolah cara ilmu ghaib yang bisa menolong Aurel saat ini. Dia memutar haluan menuju seorang dukun sakti di wilayah barat daya. Mereka menuju rumah Mbah Broto untuk meminta bantuan menyembuhkan Aurel. Di ruangan yang penuh dengan lilin putih tampak Mbah Broto membakar dupa di depan tubuh Aurel. Dia menghentakkan tubuh dan menunjuk ke arah gadis yang tengah pingsan itu.


"Makhluk apa yang kalian bawa kepada mu?" ucapnya bergetar hebat.


"Apa maksud anda?" tanya pak Hakim dengan penuh tanda tanya.


Mbah Broto mengepulkan asap Bakaran kemenyan di atas tubuh Aurel. Dia melempar merica hitam dan garam di sekujur tubuh Aurel. Tindakannya lebih mengejutkan keduanya, Mbah Broto menyiram Aurel dengan minyak bensin lalu mengangkat sebuah lilin menujunya.


"Yang di hadapan kalian bukanlah manusia, wujudnya aslinya adalah Wewe gombel. Bentuk manusia yang kalian lihat sudah meninggal bertahun lamanya" ujar Mbah Broto geram menarik kembali lilin dari tangan Andi.

__ADS_1


Mereka saling merampas satu sama lain sampai pak hakim melerai dua orang yang hampir bertikai. Seketika suara burung gagak terdengar ramai di atas rumah Mbah Broto. Di malam itu rembulan tertutup awan hitam di sambut aungan serigala yang bersahutan. Suara serigala yang berasal dari kejauhan, tepat di hutan terlarang. Ramai anak-anak kecil yang Aurel sembunyikan sedang tertawa riang bermain bersama.


Malam bangkit nya kembali Wewe gombel menjadi wujud nyata. Darah dari kepala pak Nedi yang tadi mengenai tubuh Aurel membuah dia menjadi ganas dan lebih berbahaya. Aurel yang semula pingsan kini terbangun dengan wujud Wewe gombel menyeramkan, dia menjulurkan lidah sampai ke lantai dan memakan telur-telur mentah yang berada di meja ritual Mbah Broto.


"Argghhh.." pak hakim begitu ketakutan menyaksikan wujud Aurel, dia berlari kocar-kacir keluar rumah dan meminta tolong.


"Mati lah kau!" Mbah Broto menancapkan keris yang sudah berisi mantra ke arah perut sosok Wewe gombel tersebut.


Amarah makhluk itu memuncak membalas serangan tusukan dengan memutar tangan pak Broto lalu mencabut paksa kedua tangannya dari anggota tubuh. Darah bercucuran deras bersama teriakan sakit yang di rasakan.

__ADS_1


"Arghh, arghh..."


__ADS_2