Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Aurel hanya tinggallah nama


__ADS_3

Foto besar seorang wanita yang telah merisaukan pikiran dan hati Gayatri, dia pindahkan ke Gudang lantai rumah paling atas. Namun dia berdiri terperangah melihat isi gudang besar yang banyak sekali di penuhi oleh foto-foto anak kecil dan seorang wanita tua yang memakai setelan kebaya berwarna hijau. Dia memperhatikan dengan seksama dan mengingat akan wanita yang sama yang berada di surat kabar dan majalah yang selalu Gilang baca berulang kali.


Seperti ada kemiripan dari foto ini namun mungkin hanya perasaanku saja. Dan apakah dia pemilik rumah Sebelum kami pindah? gumamnya.


Tiba-tiba seekor bangkai tikus besar berbelatung jatuh ke kepala Gayatri, dia sangat terkejut dan geli. Berkali-kali dia mengusap kepalanya dan mencium bau busuk. Bangkai tikus yang mati, terlempar begitu saja. Dia atas langit-langit dan lantai sudah di bersihkan oleh para pekerja.


Gayatri memanggil salah satu pekerja dan mengeluarkan amarah yang membara. Dia tidak suka lantai dan ruangan yang kotor. Para pekerja paham betul bahwa nyonya mereka sangat suka kebersihan.


"Kenapa kalian ceroboh sekali? Bangkai tikus ini sampai bisa terjatuh dari atas kepala ku! cepat bersihkan!" bentaknya keluar dari Gudang.


Gayatri juga memerintahkan para pekerja untuk membuang semua foto-foto yang ada di gudang. Dia juga menyuruh membuang foto wanita tua yang dia tatap sedemikian lama. Hanya satu foto saja yang tersisa, dialah foto wanita yang di tatap oleh Gilang saat Gayatri menanyakan siapa dia.


...----------------...


Gilang masih berkeliling menggendong Bella, Mereka menuju perpustakaan, terlihat rak-rak buku yang tersusun rapi. Buku-buku yang lengkap dan lemari antik yang membuat Gilang menggelengkan kepala.


Semua sangat mewah, kau sangat baik kepada ku. Aurel kenapa sampai saat ini kau belum juga di temukan? gumamnya.

__ADS_1


Dia mengambil foto wanita yang sedang di perbincangkan oleh teman-teman arisa. Gayatri masih mengingat nama yang di ucapkan oleh Melda. Wanita yang bernama Aurel, pemilik sah harta warisan tunggal dari seorang pengusaha konglomerat bernama Isda Batara.


Apa hubungan wanita ini dengan suamiku? Menurut cerita, Mereka berkali-kali pernah jalan bersama, gumamnya.


Setelah pemotretan ketiga, dia mengecek kembali album foto di ponsel. Alangkah kagetnya dia melihat mata wanita yang di foto mengeluarkan darah berwarna hitam dan terseyum melihatnya.


"argh..argh.."


Gayatri melempar ponsel. Dia berlari dan tergelincir, dahi terbentur. Gayatri sangat ketakutan sampai dia seperti berjalan merangkak menuju anak tangga.


"Tolong.."


"Foto itu, matanya mengeluarkan darah hitam."


Dia sangat histeris semakin erat memeluk Gilang.


"Foto wanita ini biasa saja, ibu pasti sedang berkhayal."

__ADS_1


"Ayah, lihat baik-baik. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat hantu dan pada hari ini aku melihat jelas."


"Sudahlah, Bella aku tinggalkan di perpustakaan karena mendengar teriakkan mu."


...----------------...


Ketika mereka berdua menuju perpustakaan, Bella tidak ada disana. Gilang dan Gayatri berpencar mencari anak mereka. Gilang juga meminta bantuan kepada para pekerja untuk mencari Bella.


"Bella.. dimana kamu nak?" teriak Gayatri sambil menangis.


Ukuran rumah yang sangat megah dan luas, mereka semua berlari dan mencari sampai ke halaman belakang. Kata tukang kebun dan penjaga pos, bahwa tidak ada anak kecil yang keluar dari rumah. Namun Gilang tetap bersikeras mencari anaknya di luar rumah.


"Bella.." Teriak Gilang.


Gilang mengambil ponsel di kantung celana dan memanggil polisi untuk meminta pertolongan melakukan pencarian. Kemudian dia berlari sampai tiba di desa yang jaraknya berdekatan dengan gapura milik pak Nedi.


Anakku tidak mungkin di curi oleh pak Nedi, dia masih menjalani proses hukum di balik jeruji besi, gumamnya dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


"Maaf Bu, apakah ibu melihat ada anak kecil lewat sini?", tanya Gilang dengan menunjukkan foto Bella Kepada salah satu warga yang melewatinya.


"Bapak pindahan sini? hari mulai petang, sebaiknya bapak pulang saja", jawab ibu tersebut dan berlari meninggalkan Gilang.


__ADS_2