
Mengayun kemilau pekat jingga di alam ghaib dalam jalan penuh kesesatan. Meninggalkan luka, kesedihan merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Aurel. Lantas semua terabaikan berganti pembalasan dendam kepada pak Nedi yang tidak pernah berhenti menganggu dan melukainya.
Mantra hitam, jiwa yang kosong, darah segar, bunga tujuh rupa dan mantra pemanggil sosok lain. Ramuan pembangkit sudah melebur ke dalam sumsum tulang Aurel dengan bantuan detak jantung sekertaris kim. Bahkan sepertinya kematian nenek Isda masih menjadi mimpi buruk pak Nedi di dalam bunga tidurnya yang beracun. Penampakan nenek Isda terkadang masih terlihat di rumah besar dan bekas makam Aurel.
Buku rahasia yang di tulis oleh nenek Isda. Sebuah tempat rahasia bersama sekertaris Kim yang pernah mengorbankan diri untuk menghidupkan kembali Aurel. Buku menghidupkan orang mati, sosok yang berdiri di atas muka bumi tetaplah bukan wujud nyata berisi orang yang sama. Semua berasal dari perlakuan pak Nedi kepada Aurel yang begitu menyiksa membuat nenek Isda terlibat dalam rantai para penunggu makhluk ghaib di hutan terlarang. Kini buku tersebut masih tertanam di balik lemari pintu rahasia di ruang kerja rumah dari peninggalan nenek Isda.
Pukulannya mengakibatkan memar dan rasa sakit berdenyut sampai ke ubun-ubun. Kekuatan pak Nedi yang setengah setan masih ingin membantai Gilang dan memusnahkan Aurel. Dua sosok masih bertarung di bawah langit hitam tanpa bintang. Mencekik leher lelaki yang sudah tidak di anggap ayah kandungnya itu. Semula kekuatan pak Nedi bisa menghalangi sosok wewe untuk tidak bisa menyentuhnya, namun perlahan kekuatan memudah dan kain hitam yang membungkus tubuhnya terbakar.
__ADS_1
“Argh..” jerit pak Nedi melepaskan kain yang terbakar dari tubuhnya.
Kulitnya hangus melempuh, amarah pak Nedi semakin menjadi dengan bergerak menancapkan keris tepat di perut sosok makhluk halus sangat dalam sampai dia tidak bisa menarik lagi keris miliknya. Sosok wewe gombel itu mencungkil mata kanan pak Nedi lalu menariknya secara paksa sampai urat-urat keluar dan menelannya.
“Argghhh…” dia begitu kesakitan.
...----------------...
__ADS_1
Sempoyongan tubuh pak Nedi tidak bisa tegak. Mata sebelah yang sudah berlubang tidak berhenti mengeluarkan darah. Dia menahan tumpahan darah dengan kain hitam miliknya.
“Sial! Aku telah ceroboh. Seharusnya kain di haramkan terkena darah. Aku harus segera menemui tuan ku” gumam pak Nedi.
Pembalasan kepada pak Nedi belum sampai disitu, Aurel kembali menjadi sosok wewe gombel menuju hutan terlarang. Satu meter lagi kaki pak Nedi menuju pohon keramat, tapi makhluk yang sudah mengincarnya langsung menarik tubuh pak Nedi menjauh dan membanting tubuhnya. Luka dalam, muntah darah di tengah sekarat dia melawan makhluk yang akan menghabisinya itu.
“Matilah kau!” pekik pak Nedi menancapkan keris berkomat-kamit mengucap mantra.
__ADS_1
Tubuh pak Nedi yang sudah berisi ilmu kekebalan tetap berkali-kali cepat merasakan pemulihan dari rasa sakit sekalipun sebelah matanya sudah tiada.