
Andai-andai lumur mengecap rasa sesak yang tidak bisa mengulang hari yang indah. Darah telah tergadaikan dan di kuasai makhluk penunggu jin pohon angker tempat pak Nedi menumbalkan Aurel.
Suara hati Gilang
Aku lelaki sejati, tidak sekalipun sepantasnya meneteskan air mata. Ingin aku mencambuk diri ku sendiri mengatakan bahwa aku adalah sosok seorang suami yang tidak bisa menjaga keluarganya. Kesetiaan yang bisa di ukur seumur jagung karena sempat mengurus ikatan tali merah muda di masa lalu. Masih mengingat satu nama yang belum bisa terhapus sekalipun telah berubah wujud menjadi wewe gombel. Aku adalah peran ayah yang tidak bisa mengasuh dan membesarkan anak dengan baik. Penyesalan ku semakin menjadi saat melihat Bella berubah setengah makhluk lain. Sudah beribu dukun sakti aku singgahi untuk menyembuhkan dan menjauhkannya dari cengkraman gangguan makhluk halus wewe gombel. Tapi semua usahaku sia-sia belaka.
__ADS_1
Di atas kasur, Gilang menulis sepenggal kehancuran pada hatinya. Ingin sekali dia berbagi, tapi dia tidak memiliki siapapun selain putri kecilnya Bella. Sepeninggal Gayatri, dia tidak pernah membuka hati dan mencari ibu sambung untuk Bella. Hari-hari dia lalui dengan kesendirian dan bertekad menua menghabiskan sisa umur untuk berusaha membahagiakan gadis kecilnya.
Sedang wujud lain merasuk menjadi dilema persimpangan arah yang tajam, panas dingin tidak lagi terasa. Kehampaan pada ruang kosong menjelma pada hantu wewe gombel. Tepat pada malam jumat kliwon angin membanting kaca jendela dengan ranting pohon yang rontok. Suara aneh yang keluar dari mulut Bella, dia sedang bermimpi indah. Sukma Bella yang sedang berada di dalam sebuah rumah pemilik wewe gombel kini bermain dan berbincang-bincang dengan tahanan anak-anak kecil di dalamnya. Di dalam tempat yang lembab dan bersuhu dingin, cahayanya samar berwarna jingga dan terdapat burung gagak yang berterbangan di atasnya. Tidak ada yang mengetahui sarang sosok hantu dengan dada menjuntai itu, gigi taring lancip panjang, mata yang bersinar merah dan begitu bau anyir.
Tek,tek..
__ADS_1
“Ayah, ayah..” gema suara mirip dengan Bella memanggilnya.
Manik mata Gilang membelalak, sekujur bulu kuduk merinding menahan menekuk tengkuk yang sedang dia pegang. Secepat kilat Gilang berlari menuju Bella dan menggendong tubuhnya yang masih tertidur menuju kamarnya. Semalaman Gilang berusaha terjaga agar tidak tertidur, suasana rumah yang tidak aman dan penuh bumbu mistis. Tiga kelas cangkir kopi sudah dia teguk sampai tetes terakhir, jarum pendek menunjukkan angka empat waktu pagi. Sebentar sayup-sayup matanya begitu ngantuk, tanpa terasa dia sudah tertidur dengan posisi duduk di tepi ranjang.
...----------------...
__ADS_1
Bella sudah puas bercanda dan bermain di alam lain. Menikmati hidangan cacing-cacing hidup, darah hewan liar dan belatung kesukaan makhluk wewe gombel yang di mata para anak-anak kecil adalah hidangan makanan lezat menggiurkan. Kira-kira seperempat waktu sebelum fajar menyingsing, tangan berjari-jari panjang memegang batang pintu, dia mengusap lembut punggung Bella dan mengembalikan sukmanya kembali ke dalam raga. Masih menjadi misteri dan mengapa sebagian sukma anak-anak manusia yang di sembunyikan oleh sosok hantu wewe gombel bisa kembali pulang atau tetap tinggal di alam lain sampai wujud nyatanya menjadi gila atau menghembuskan nyawa.
..._To be continued_...