Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Lanjutan lubang penderitaan


__ADS_3

Putaran poros bumi yang mengarah ke jalan penderitaan. Ayah yang seharusnya menjadi pelindung berbalik arah menjadi penghancur dan berniat membunuhnya.


...🔥🔥🔥...


"Desa layang anggrek."


"Ke tujuan yang ibu maksud? memerlukan waktu perjalanan 3 jam untuk sampai ke tujuan."


"Saya sangat yakin menuju kesana, bisakah kamu mengantarkan sekarang?"


Gilang tersenyum melihat penampilan Aurel malam ini, dengan berbalut baju tidur putih bermotif bunga sakura. Perjalanan jauh yang tidak di rencanakan, sepanjang jalan pak Gilang tersenyum merekah memperhatikan Aurel. Sepanjang perjalanan, Aurel dan pak Gilang hanya terdiam tanpa sepatah kata.


Aurel yang sibuk memainkan ponsel mengirim pesan kepada pak supir untuk menjemputnya besok pagi ke alamat yang di tuju. Semalam suntuk, keramaian berbagai macam kendaraan di jalan raya masih berlalu lalang dengan segala rutinitas kesibukan tujuan masing-masing. Sudah dua jam perjalanan yang di tempuh. Mobil pak Gilang singgah di salah satu restoran dekat pom bensin.


"Apakah kamu tidak lapar Bu?"


"Tidak, saya hanya ingin secepatnya sampai ke tujuan."


Jadi begitulah pikirannya,namun suara cacing yang bernyanyi di perut Aurel seakan di hiraukan. Gilang tersenyum tipis dan memutar setir mencari tempat parkir.

__ADS_1


"Akan tetapi, mobilku sudah parkir di depan restoran! Ayolah temani saya makan malam."


Sikap Aurel yang datar membuat suasana canggung kepada Gilang. Di hidupnya yang penuh dengan misteri ghaib dan penderitaan yang di berikan oleh pak Nedi membuat dia mencabut perasaan drama cinta di dalam hatinya.


"Oh gadisku yang selalu bersikap jual mahal!", batin Gilang.


Sepertinya diam-diam Gilang sudah meletakkan perasaan yang berbeda di hatinya setelah awal bertemu Aurel. Dua gelas jus jeruk dan dua piring nasi goreng. Aurel yang tadinya berkata tidak lapar berhasil menghabiskan makanannya. Gilang tertawa kecil memperhatikan sikap Aurel yang lucu.


Ternyata wanitaku walau kurus tapi banyak makan, batinnya.


Bintang berkedip di dalam hari menghiasi perjalanan mereka dengan berjuta kata yang masih tersimpan di dalam hati. Pukul 03:00 WIB. Mereka tiba ke tempat yang di tuju.


"Aku tidak ingin membahasnya, Terimakasih sudah mengantarkan ku."


"Ya baiklah, oh ya besok saya jemput atau saya tidur disini?"


"Maksud kamu apa!" bentaknya.


"Sungguh kejam sekali..."

__ADS_1


Aurel yang telah salah paham atas perkataan Gilang dan segala praduga.


"Saya bermaksud tidur di dalam mobil agar besok bisa mengantar ibu dan ayah ibu ke rumah sakit."


"Hhhufh! Bapak pulanglah besok kita bertemu di Rumah sakit, pak supir yang akan mengantarkan ku."


Aurel masih menyimpan murka kepada ayahnya. Baginya, ayahnya telah tiada setelah dia memilih pergi menganut ilmu hitam dan segala praktek perdukunan. Ibunya telah meninggal dan nenek Isda telah di bunuh ayahnya. Semua, teror yang di alami Aurel memperkuat keyakinan bahwa itu semua adalah ulah sang ayah.


"Gilang, kenapa kamu baru pulang? ibu khawatir!"


Dari arah pintu masuk, ibu Rina langsung menarik anaknya masuk ke dalam rumah dan mendudukkan gilang ke sofa.


"Maaf Bu, Gilang tadi mengantarkan teman karena dia sangat membutuhkan bantuan Gilang."


"Teman siapa? kalau terjadi sesuatu kepada mu, apakah temanmu itu mau bertanggung jawab?"


Suara perdebatan yang terdengar pak Nedi membuat rencana bertumpuk untuk menjerat dan memperalat Gilang agar pak Nedi dengan mudah menangkap Aurel.


Aku sudah tidak sabar membawa Aurel ke dalam hutan terlarang, gumam pak Nedi.

__ADS_1


__ADS_2