Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Buku hitam yang hidup


__ADS_3

...Kolongganing kaluwung prabanira kuning abang biru, Sumurupe iku mung soroting warih. Wawaraha para surut Dudu jatining hyang manan....


...🔥🔥🔥...


Sadarlah, warna-warni pelangi, kuning, merah, biru, semuanya itu hanya pantulan air, bukan cahaya sebenarnya.


Warna kuning di artikan dana (bantuan materi), merah mewakili stabilitas, sedangkan biru berarti ketenangan.


Bantuan ibarat kehadiran Aurel di hidup Gilang yang akan membantu dalam jangka waktu dekat. Jangka panjang tidak akan memberikan stabilitas yang langgeng akibat ikatan mistis sesat atas nama Aurel yang sudah di tulis oleh pak Nedi di hutan terlarang. Kalau ini terjadi maka masa tenang dan tercipta di hidup mereka tidak akan langgeng atau malah berujung kematian dan perpisahan selamanya. Akan tetapi hal ini adalah perumpamaan ghaib semata. Situasi yang serba sulit bagi manusia penolong makhluk yang telah berubah.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


Setelah berhasil kabur dari pengejaran gerakan cepat rahang gigi tengkorak yang mengejar Aurel dan Gilang. Tengkorak mbah Regi tidak tampak lagi di hadapan mereka. Suara kepakan sayap burung hantu yang hinggap di dahan pohon hutan bakau. Udara semakin dingin membungkus tubuh dan kulit. Gilang berkali-kali menggigil kedinginan mengusap telapak tangan meniup hembusan nafas hangat mengusap sesekali mencari pencarian sudut netra kelopak lingkaran hitam.


Hal yang pernah hilang kini kembali di sampingnya. Hal cerita merah muda memberikan arti pembelajaran memaksakan sesuatu yang di paksakan terwujud dengan rasa paksaan hati setengah wujud siluman.


Sebenarnya wujud mengerikan itu disebut hantu atau siluman bukan? Banyak persepsi matang yang harus di telaah mengenai makhluk ghaib. Gadis setengah Makhluk lain tampak linglung memandang area hutan terlarang.


Dari balik tubuh Gilang terasa ada jari panjang berukuran tiga puluh senti meter menekan-nekan pundaknya. Gilang memutar pandangan lalu berdiri berkacak pinggang berusaha mengendalikan rasa takut. Gerakan refleks mengulurkan tangan yang langsung di raih oleh Aurel.


Gilang menggiring langkah Aurel yang masih kebingungan. Rambut Aurel teramat kotor dan berlendir. Ada tumpahan cairan berwarna hijau yang terus menerus mengalir dari mata kakinya. Ketika Gilang tersadar, dia langsung membungkus kaki Aurel dengan piyama miliknya.


Saat Gilang menyentuh kaki dingin Aurel untuk membalut koyakan kulit yang membuat hatinya bak teriris pilu.

__ADS_1


Oh wanitaku, sungguh malang nasib mu. Tapi sudahlah kini kau telah kembali, gumam Gilang.


Aurel sama sekali tidak ingin berada beriringan langkah dengan Gilang. Dia berjalan di depan Gilang sesekali menoleh ke kanan dan kiri. Langkahnya begitu cepat sampai Gilang mengejar dengan menahan luka yang masih mengalir.


"Aurel tunggu, semua akan baik-baik saja. Ini aku Gilang, Kita akan segera pulang setelah menemukan Bella" kata Gilang meyakinkan.


Perkataan Gilang kali ini seolah dia pahami dengan mengangguk pelan. Di tengah perjalanan, Aurel menarik lengan Gilang menunjuk ke arah salah satu pohon yang tidak lain adalah sarang setengah diri Aurel. Sosok Wewe gombel.


Gilang menoleh ke atas pohon mengamati salah satu pohon yang paling besar di antara pohon lain. Pohon yang tidak asing baginya. Pohon keramat sebagai tempat ritual pak Nedi.


Tiba-tiba terdengar suara ramai anak-anak yang sedang tertawa seperti sedang bermain-main. Gilang mencari-cari salah satu sumber suara Bella. Dia memutar tubuhnya berulang kali berlari mengitari pohon besar tersebut.

__ADS_1


"Ayah..ayah.." teriakan suara anak kecil terngiang keras.


__ADS_2