Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Deretan runyam


__ADS_3

Suasana yang kacau balau, sedangkan Ray belum juga sadar dan terus melahap bangkai tikus mati sampai sekitar mulutnya berlumuran darah. Sambil menangis Yara dan Key membantu menepuk-nepuk pundak dan tubuhnya agar segera sadar. Dengan geram, pak Finto memukul kepala Ray sehingga dia tidak sadarkan diri. Nafas yang memburu, semua orang melotot melihat pak Finto.


“Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau memukulnya?” tanya pak Bona sambil membantu membopong tubuh Ray masuk ke dalam rumah.


“Sudahlah yang penting dia berhenti memakan bangkai tikus itu!” seru pak Finto sedikit gusar alih-alih memikirkan dampak pukulan yang dia berikan.


Jona dan Ray di baringkan di kamar tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Gilang memperkenankan para tamu untuk menginap di rumahnya. Akan tetapi pak Finto dan Bona memutuskan untuk pergi, mereka kembali melakukan tugas pengamanan keliling kampung dan mengabarkan keadaan para Mahasiswa kepada ketua RT.


“Kalau begitu kami pamit undur diri” serentak ucap pak Finto dan Bona yang masih mengusap gumpalan keringat.


“Terimakasih pak” sahut Gilang berjabat tangan.


Dua kamar peristirahatan, satu kamar yang di tempati oleh Ray dan Jona dan satu kamar oleh Yara dan Key.


...----------------...

__ADS_1


Gilang masih gusar memikirkan nasib anaknya, dia meminta Aurel untuk tetap tinggal di rumah dan menyodorkan sebuah ponsel gengam untuknya.


“Kalau terjadi sesuatu, kabari aku lewat nomor ini” ucap Gilang mengajari Aurel cara menggunakan telepon genggam.


Berkerut cemas raut di wajahnya ketika meninggalkan pintu gerbang rumah. Aurel melambaikan tangan dan melihat kepergian Gilang. Dia kembali menuju wujud asalnya, sosok wewe gombel lalu menembus dinding menuju salah satu kamar para Mahasiswa tersebut. Hawa dingin semakin terasa, bola lampu berkedip-kedip dan sesekali terdengar suara lengkingan tawa mirip kuntilanak menggema bersahut-sahutan.


“Key apakah kau mendengarnya?” tanya Yara menarik ujung baju Key dan mendekat.


“Aku tidak mendengar apapun. Sudahlah aku lelah sekali” jawab Key menutupi wajah dengan selimut.


“Dimana kamar wanita itu?” gumam Yara melingak linguk mencari letak kamarnya.


Bayangan seperti orang sedang berlari di belakang Yara, lampu sedetik padam membuat pandangan menjadi gelap gulita. Yara meraba dan mencoba meraih benda apa saja yang ada di dekatnya. Tiba-tiba dia menyentuh benda dingin, kasar dan keras.


“Arghh..!” jerit Yara berlari sampai kepala terbentur dinding.

__ADS_1


Mendengar jeritan Yara, Key terhentak dari tempat tidur menyorot kamar dengan senter telepon genggam. Sekujur bulu kuduknya sangat meriding, dia meraih jaket dan mencari Yara keliling ruangan.


“Yara, kamu dimana?”


Sorotan cahaya senter mendapati sosok mengerikan yang sedang berdiri menatapnya di dekat sebuah patung besar. Key sangat terkejut dan ketakutan, dia berlari menghindari mengarah ke kamar Rey dan Jona.


Tok, tok, tok (Suara ketukan pintu).


“Tolong! Buka pintunya!’ rasa takut yang mendalam dan pandangan memutar ke belakang melihat apakah makhluk tadi mengikutinya.


Jona yang sudar siuman bersusah payah menggerakkan tubuh, kepalanya masi terasa sakit. Samar-samar dia mendengar teriakan Yara di tengah deras hujan yang mengguyur malam.


“Jon, kita harus keluar dari sini. Rumah ini berhantu!” jerit Key menarik tangan Jona untuk segera kabur.


“Tapi bagaimana dengan yang lain? Aku akan segera menyadarkan Rey, kita semua akan bertemu di ruang tamu.”

__ADS_1


“Tidak, Yara menghilang dan aku sedang di kejar oleh makhluk menyeramkan!”


__ADS_2