Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Wewe gombel itu Aurel


__ADS_3

...Retakan pecahan tiga bentuk dalam satu makhluk. Aurel di masa kini, lalu dan mendatang. Aurel, Wewe gombel dan Manusia berwujud nyata di balik Wewe gombel. Mbah Rega seharusnya keliru dengan tindakan pembangkit mayat....


...💀💀💀...


"Pak Gilang, tolong jangan bergerak. Kondisi bapak masih sangat lemah" ucap seorang suster yang baru masuk memeriksa jarum infus.


"Saya harus mencari anak saya Sus" ucap Gilang berusaha menggerakkan tubuh menekan kepalanya yang masih terasa pusing.


"Sebentar pak, saya akan memanggil dokter dan wali bapak"


Setelah suster keluar ruangan, Gilang buru-buru melepas paksa jarum infusnya mencari dompet di nakas dan meraih jas yang bersender di sofa. Dia berpikir pasti itu jas pak hakim yang sering dia pakai ketika bertemu dengannya. Langkah kecil bersusah payah berjalan menuju lift. Sedikit lagi dia terlihat oleh suster yang sedang berjalan di koridor.


Dia menguatkan diri dengan darah yang masih mengalir di sepanjang jalan. Jahitan kulit kaki yang koyak akibat terkena cabang akar pohon hutan saat dia terjatuh. Gilang memaksa berjalan kabur dari rumah sakit mencari transportasi apapun agar secepatnya menuju hutan. Pilihan yang paling cepat adalah sepeda motor pengemudi yang sedang melewati trotoar. Gilang memberikan lima lembar rupiah biru meminta pengemudi tersebut mengantarkannya.

__ADS_1


...💀💀💀...


...Sayat-sayat memori lama masih terpatri rapi membuka jasad yang sempat pergi, kini bangkit dengan konfensasi kasat. Dia masih mengingat harum merah jambu walau tanpa sepengetahuannya telah berubah menjadi apel ranum di luar namun hitam di dalam....


...Semua ini berawal dari sang ayah yang berhati bah iblis terkutuk akibat malpraktek ilmu hitam....


Sesampai di hutan dia berjalan masuk ke area garis polisi. Suara-suara hewan liar bersama alunan nyaring burung hantu bersahutan di dahan pohon hijau. Langkah Gilang terhenti sesaat menahan perih luka darah di kaki yang semakin mengalir deras. Dia mengikat luka dengan piyama yang dia kenakan. Langit semakin gelap mengaburkan pandangan mencari jalan.


Sesosok makhluk menampakkan wujud tepak di kumparan Kunang-kunang, semakin banyak Kunang-kunang tersebut mendekati sosok apel ranum tersenyum di hadapannya.


"Aurel.. kau kah itu?" ucap Gilang gemetar, wajah Aurel pucat, rambut acak-acakan dengan tubuh di tutup oleh lilitan kain kafan.


Aurel hanya terdiam menangis segugukan, dia mengulurkan tangan menunjuk ke arah pohon besar yang tak lain berpenunggu jin kafir tempat pak Nedi menanam jasadnya.

__ADS_1


Hari ini adalah malam Jum'at Kliwon, pohon murka merubah wujud raksasa mengerikan. Kaki-kaki raksasa terbuat dari pohon tua, mata tajam merah mengelupas belatung dan cacing-cacing besar bersama gigi taring menjuntai sampai ke tanah.


Tangannya meraih Aurel dan mencengkeram tubuhnya.


"Arghh....arghh" jeritan rintih Aurel.


Penunggu pohon seakan tidak terima karena perjanjian Nedi di patahkan oleh Mbah Rega.


Sinar bola api dari arah Utara menghantam pertahan sosok tersebut. Energi api yang menghanguskan penunggu pohon sampai menjadi abu. Mbah Rega merubah diri berwujud bola api untuk menghabisi makhluk penunggu pohon sampai menghabisi dirinya sendiri.


Yang tersisa hanya kerangka Tengkorak berjalan mendekati Aurel. Gigi geraham bergerak seumpama mengucap sesuatu yang sia-sia. Angin menghembus kerangkanya menjadi patahan-patahan tulang manusia yang masih bergerak.


"Lari.. ayo cepat Aurel!" tarik Gilang menarik kulit beku menerobos tulang-tulang tengkorak yang masih bergerak ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2