
Menara-menara ketakutan semakin tinggi di sematkan oleh wujud hasil pemuja ritual penukar manusia kepada jin penunggu pohon besar di hutan terlarang demi kepuasan ilmu hitam semata. Pak Nedi yang masih gencar menyiksa Aurel sekalipun wanita itu sudah berubah menjadi sosok Wewe gombel.
Bella masih sibuk mencari boneka yang hilang. Dia menangis tersedu-sedu sendirian di lantai atas ketika putus asa tidak mendapatkan bonekanya. Sementara mbok Sumi masih sibuk menyiapkan teh untuk pak Nedi di dapur. Tipuan pak Nedi yang berhasil mengelabui si mbok membuat hari ini dia leluasa membedah rumah. Dari balik sakunya dia mengeluarkan beberapa belatung dan menebar di sudut-sudut ruangan. Dia juga menyebarkan garam kasar di pintu masuk rumah. Setelah berhasil membaca mantra, pak Nedi segera pergi dan menghilang.
"Hiks, hiks Anabel!" jeritan Bella yang terdengar si mbok.
"Sebentar non, si mbok akan segera datang!" ucap si mbok berjalan menuju ruang tamu dengan membawa segelas teh di atas nampan.
Dia tidak melihat pak Nedi di ruang tamu, si mbok yang gusar karena merasa dia sudah tertipu dan berpikir bahwa dia sudah berhasil di kelabui segera menuju kamar pak Nedi dan memastikan apakah pintunya masih terkunci dengan baik. Dia berlari dengan mengangkat rok wiron dan berulang kali berpikir bahwa lelaki tadi adalah pencuri. Pintu kamar terlihat masih aman, lalu si mbok menuruni anak tangga memastikan barang-barang lainnya.
Tidak ada yang berkurang satu benda pun, jadi apa yang dia inginkan? gumam si mbok.
__ADS_1
Dia melempar pandangan menuju kotak yang tadi di berikan pak Nedi. Setelah mencari pisau untuk berusaha membuka, di dalam terdapat tumpukan bunga melati dan bangkai burung gagak di atasnya.
"Arghh...!" jerit si mbok sangat terkejut.
"Ayah! ayah hiks" samar suara Bella terdengar kembali.
Dengan tergesa-gesa si mbok berlari menuju kamar Bella, nafasnya semakin sulit di atur. Di usianya yang begitu tua tampak kelelahan menghadapi kejadian hari ini. Pintu kamar Bella yang terkunci, si mbok mencari kunci dan berusaha membukanya.
Dia membuka kamar Bella melihat Bella duduk di sudut kamar dengan memeluk lututnya. Bella menyembunyikan wajah dan enggan di sentuh.
"Ada apa non?"
__ADS_1
Bella menepis tangan si mbok dengan raut wajah begitu ketakutan. Dia menunjuk ke arah kolong kasur dan menangis. Si mbok membungkukkan badan dan mencari penyebabnya. Di bawah kasur terdapat potongan boneka kesayangan Bella yang anggota tubuhnya terbagi-bagi menjadi beberapa bagian. Si mbok meraih potongan boneka tersebut dan berusaha merangkainya kembali.
"Saya sangat kewalahan menyatukannya, sepertinya sudah rusak. Kenapa non melakukannya? bukankah ini boneka kesayangan non Bella?" tanya si mbok sambil menggiring Bella menuju kasur.
Bella menggeleng kepala dan masih menangis. Tumpahan air mata yang tidak terkendali sesekali menatap ke sebelah kirinya.
"Bukan Bella yang melakukannya tapi kakak!" jawab Bella memeluk si mbok.
Hawa merinding di sekujur tubuh si mbok saat ikut menoleh ke arah samping kiri Bella. Tampak ada bayangan sosok bertubuh besar dengan sepasang dada menjuntai dan gigi taring panjang menatapnya. Mata si mbok membelalak dan tubuh tersentak ke belakang. Dia menggendong Bella berlari keluar rumah.
"Tolong..!"
__ADS_1