Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Penganiayaan


__ADS_3

Sosok wewe gombel itu menarik tubuh Gilang yang hampir tertabrak kendaraan di lintas jalan Raya. Kekuatannya masih tersisa walaupun pak Nedi sudah menyerang titik kekuatannya dengan keris sakti dari jin penunggu pohon keramat. Tubuh Gilang di temukan di ujung tepi jurang. Dia di bawa oleh petugas kepolisian ke Rumah Sakit dan tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Nasib baik ketiga Mahasiswa yang di antaranya Yara, Jona dan Rey kembali berkumpul. Hanya Key yang menghilang.


Di ruang ICU


Samar dia membuka mata menatap ketiga Mahasiswa yang menjenguk Gilang sambil menginterogasinya.


“Bagaimana keadaan bapak?” tanya Yara memperhatikan wajah lelaki berumur itu begitu pucat.


Dia enggan menjawab pertanyaannya, lalu memalingkan wajah ke arah lain.


“Hei, cepat katakana dimana Key?!” bentak Jona menarik bajunya.


Yara dan Rey yang berusaha menahan tubuh Jona, menarik sekuat tenaga menjauh dari Ranjang Gilang.


“Rumah itu yang berhantu atau kau sedang menyembunyikan hantu?” tanya Jona.


Nafas memburu, dia tidak bisa mengontrol emosi berjalan meninggalkan ruangan. Perlahan Yara mendekati Gilang, dia memelas mengepal tangannya.

__ADS_1


“Tolong selamatkan teman kami Rey.”


Genangan manik mata Gilang perlahan menetes. Dia bangkit mendudukkan tubuhnya, menyelaraskan keseimbangan agar jarum suntik tidak bergeser.


“Sesungguhnya anakku Bella menghilang. Aku__”


Gilang mematahkan ucapan kemudian memukul dadanya sendiri. “ini salahku.”


Matahari terbenam di ufuk barat. Ada banyak harapan-harapan yang belum tuntas di inginkan kembali hadir menjadi nyata. Harapan melihat sosok kehadiran yang telah pergi ke hutan terlarang untuk mencari pak Nedi. Pertemuan mereka terakhir kali dengan dukun itu saat dia memberikan petunjuk kata kunci hutan terlarang di dekat perbatasan kota.


“Lepaskan aku! Jadi lelaki harus pemberani dan seharusnya kau memeluk Yara saja” ucap Jona melirik ingin melempar kata tidak baku yang masih dia pendam.


“Tidak, ini hutan terlarang. Kita harus menjaga sikap jika ingin kembali dengan selamat” kata Yara berjalan melewati keduanya lurus ke depan.


Walaupun hutan angker itu mempunyai berjuta pesona mistik dan kejadian mengganjal. Namun, segala tindakan manusia yang ingin berbuat semena-mena atau tercela akan menjadi musibah lebih besar bagi diri mereka sendiri. Yang tampak terlihat seperti hutan, sesungguhnya rumah, sarang berbagai macam tempat tinggal para penunggu makhluk ghaib.


Dari kejauhan mereka melihat asap mengepul. Jona langsung berlari meninggalkan Rey dan Yara. Larinya sangat cepat sampai tidak melihat ada akar pohon besar yang mengaitkan kakinya.

__ADS_1


“Arghh..!” jeritnya.


Suara bersahut-sahutan menggema menerbangkan burung-burung yang bertengger di dahan pohon.


“Jona!” teriak Rey berlari mencari di susul oleh Yara dari belakang.


...----------------...


Rumah kedua pak Nedi terbuat dari gubuk di tengah hutan dan di kelilingi obor sebagai penerangan. Banyak gantungan tulang tengkorak, aroma bunga kantil yang menusuk hidung dan sekitar bersemai abu bekas bakaran api. Di dalamnya berisi segala persembahan, sesajian dan tempat semedi untuk memperkuat ilmu tenaga dalam.


Kegilaannya belum sampai disitu, hasratnya untuk menyakiti Aurel seumur hidup sebagai tumbal jin penunggu phon keramat. Tindakan keji berlanjut dengan niat terselubung untuk menjadikan Key sebagai korban persembahan agar dia menjadi penguasa dan dukun terhebat.


Penyekapan Key dalam tanah yang di lubangi dan di tutupi oleh daun pisang. Sudah dua hari tiga malam wanita itu terjebak disana. Tubuh di bungkus oleh kain kafan sampai bagian leher.


..._To be continued_...


Jangan lupa dukungan rate bintang lima, favorit, kopi hangat, mawar, like dan komentar yang membangun. Terimakasih, salam persahabatan selalu🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2