Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
DI UJUNG KEMATIAN


__ADS_3

Tidak ada lagi, kau telah pergi selamanya. Seharusnya aku tidak hidup kembali dengan sejuta dendam di dalam jiwa setan yang membuat engkau terbawa oleh orang yang tidak pernah menyayangi ku. #Aurel


Tubuh yang tidak bisa berkutik, sosok wewe gombel itu mengeluarkan kekuatan berusaha melepaskan tali ghaib yang mengikat sampai membuat sayatan dan luka mengeluarkan darah hitam. Langkah Gilang menuju kamar Aurel, mengetuk pintu lalu memegang gagang pintu berusaha membukanya.


“Aurel, Aurel apakah kau baik-baik saja?” tanya Gilang penuh rasa khawatir.


Dia mengurungkan niat untuk membuka kamarnya. Namun terdengar suara berisik, belum sempat Gilang kembali membuka lagi pintu itu. Suara benda jatuh dari dengan keras, Gilang berbalik badan berlari menuju ruang atas. Ruangan yang belum pernah dia masuki, tampak dari luar pintu gembok hitam raksasa itu terbuka sendiri. Pintu terbanting terbuka, lampu berkedap-kedip terlihat Gilang masuk ke dalam ruangan itu memperhatikan benda-benda berdebu.


Ubin yang berwarna using, sudut demi sudut dia telusuri sampai pada sebuah ubin yang berwarna kecoklatan. Ada bercak darah di atasnya, di dekat dinding terpasang Foto Aurel yang pernah di keluhkan oleh Gayatri mantan istrinya yang telah tiada. Gilang menghela nafas, dia menekan kepala lalu berjongkok berusaha membuka ubin dengan benda tajam yang berada di ruangan.


Sementara di sisi lain. Pak Nedi yang sudah siap menghabisi Aurel dengan seluruh kekuatan tanpa henti mengucap mantra. Manta pemanggil jin penunggu pohon keramat.


“Aku menginginkan kau kembali menjadi sesembahan tuanku” gumam pak Nedi tertawa menyeringai.


Dia berhasil menarik tubuh Aurel merangkak, rambut acak-acakan, tubuh berlendir tepat di hadapannya.

__ADS_1


...----------------...


Buku hitam peninggalan nenek Isda Batara di simpan oleh sekertaris Kim di salah satu ubi


Yang di temukan oleh Gilang.


...RAHASIA GHAIB SEPANJANG HIDUP...


...Bersama dengan ini, aku akan terus melindungi Aurel cucu ku sekalipun aku telah tiada. Surat wasa yang aku diamanatkan untuk sekretaris ku dan salah satu orang yang sudah aku beri petunjuk sebelum semua terlambat agar di pertanggung jawabkan dengan harap cucu ku Aurel terlepas dari belenggu pak Nedi. ...


...Gilang langsung menjatuhkan buku yang masih setengah di baca....


“Apa maksud dari tulisan ini? Aurel?” gumam Gilang berlari keluar mencari wanita tersebut.


Berkali-kali detak jantungnya terpompa hebat, dia tercengang mendapati pak Nedi seolah sudah melumpuhkan Aurel. Sekilas wanita itu mirip Aurel lalu setengah lagi berubah menjadi setengah wajah wujud wewe gombel.

__ADS_1


“Arrghhh..”Aurel mengerang kesakitan.


Sorot mata penuh dendam menatap pak Nedi. Kebencian merajalela, Aurel mengeluarkan kuku panjangnya. Dia sudah bersiap untuk mematahkan leher lelaki itu.


Aurel berjalan mendekat, namun usahanya di gagalkan oleh Gilang. Dia merangkul tubuh dingin Aurel dan mengusap rambutnya yang kotor penuh lumpur dan berlendir.


“Aku kembali menemukan kenyataan pahit. Tapi aku minta kau jangan membunuh ayah kandung mu sendiri sejahat apapun dia” bisik Gilang menenangkan tubuh Aurel yang meronta-ronta.


Akan tetapi, niat baik Gilang mengantarkannya pada kematian. Pak Nedi menusuk tubuh Gilang dengan keris yang di milikinya.


Ha, ha, ha…..” tanya pak Nedi mendorong tubuh Gilang.


“Tidak! Gilang!”


Aurel mengeluarkan air mata berdarah hitam.

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2