Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Penghidupan mayat Aurel


__ADS_3

Langkah Gilang menuju semak belukar ke arah hutan terlarang. Hari sudah gelap, dia merogoh saku menyalakan senter ponsel. Gilang menemukan sendal sebelah kanan Bella ada di garis masuk hutan.


"Bella! tunggu ayah nak.."


Gilang memasuki hutan terlarang tanpa memikirkan aungan suara serigala di malam itu.


Udara dingin, lumut-lumut hijau di sepanjang jalan. Akar-akar pohon yang keras seperti menjegal kaki Gilang. Dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam jurang.


"Arrggh.."


...----------------...


Kenapa ayah lama sekali? gumam Gayatri mondar mandir di depan pintu rumah.


Dia sudah tidak sabar lagi, berlari menuju rumah Bu RT dan meminta bantuan para warga lainnya.


Gayatri pingsan setelah mendengar cerita dari Bu RT yang mengatakan sudah banyak anak-anak hilang di curi oleh sesosok makhluk Wewe gombel.


"Bu Gayatri.. sadar Bu.."


Sementara Gilang terjatuh di jurang dekat pohon besar tempat jasad Aurel yang terkubur. Ponselnya berkali kali berdering. Pak hakim melacak keberadaan Gilang sampai fajar menyingsing.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Bu Gayatri belum sadar juga sementara suaminya tidak tau dimana kabarnya" Gelisah Bu RT dan ibu Gea menemani Gayatri.


"Gi..Lang.."


suara lengkingan keras membangunkan Gilang.


"Aurel, kau masih hidup? aku mencari anakku.."


Gilang kembali pingsan setelah menegakkan tangan kanan menunjukkan sebelah sendal Bella.


...💀💀💀...


"Pak Gilang..! Pak!"


Di sisi lain di bawah jurang, wajah Gilang seperti di sentuh oleh jemari lentik yang teramat dingin. Dia sangat lemas, bersusah payah dia membuka kelopak mata. Perlahan dia mengamati wajah yang sudah lama hilang, goresan merah muda yang tidak pernah dia lupakan.


"Aurel, kau kah itu?" tanya Gilang mengulurkan tangan menyentuh rambut kusut berlendir dengan netra mengeluarkan darah hitam.


"Apa yang sudah terjadi kepada mu? gadisku, tidak biasanya kau bisa aku sentuh. Sedikit pun aku baru bisa...uhuk, uhuk."


Suara parau Gilang kembali tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Flashback.


Setelah mendengar kabar wanita malang itu, diam-diam di belakang seseorang dari desa layang anggrek Sahabat karib nenek Isda yang bernama Mbah Rega berusaha menghidupkan kembali Aurel.


"Saatnya kau hidup, Sebelum Isda meninggal. Dia sudah memberikan surat permintaan terakhirnya kepadaku. Inilah balasan kebaikan Isda yang baru bisa aku lakukan terkahir kali"


Pohon keramat besar berpenunggu jin kafir sudah empat puluh hari di tinggal pak Nedi. Dia masih sibuk mencari cara membebaskan diri dari dalam jeruji besi.


Hujan badai bercampur angin kencang, Mbah Rega menancap keris ke dalam tanah tepat letak di dalam jasad Aurel di kubur.


"Hiyaaaa! bangkitlah ke bumi!"


Setelah membaca mantra penghidup mayat kembali, Mbah Rega mencabut keris lalu menusukkan keris ke arah jantung nya. Lebih dalam dia menekan sampai tembus ke luar rusuk.


"Arghh..argh.." jeritan dari dalam kubur terdengar kencang. Sayap-sayap dan leher burung gagak patah. Hujan darah hitam, tanah berguncang mengeluarkan tangan yang berusaha naik ke atas.


"Argh..."


Dia telah bangkit kembali. Mbah Rega berhasil menghidupkan Aurel, walau mantra hitam menghidupkan nyawa orang yang sudah meninggal harus di bayar dengan meninggalkan orang yang menghidupkan. Namun sayang, di balik wujud asli Aurel masih menjadi sosok makhluk dua bola menjuntai, gigi taring besar, bola mata menyala dan tubuh yang membesar. Wewe gombel telah masuk ke dunia manusia.


Flash on

__ADS_1


"Pak Gilang.." teriak mereka menelusuri hutan lembab beraroma amis.


"Lihat bawah sana, dia pasti pak Gilang"


__ADS_2