
Gilang mengusap lembut wajah Bella dan mengecup dahi putri kecilnya. Dia sangat khawatir dan takut jika putri semata wayang terjadi hal yang tidak di inginkan. Dengan lembut dia memanggil nama Bella. Berharap anaknya mendengar panggilan dan segera terbangun.
“Bella, bella, Bella bangun nak. Kamu harus kuat” ucap Gilang sambil mengusap keningnya lagi.
Sepanjang malam Gilang memeluk Bella dan berkali-kali terbangun untuk melihat keadaan. Sedangkan Aurel menjelma kembali menjadi sosok wewe gombel dan berdiri di dekat Gilang yang sudah tertidur pulas. Salah satu jari berkuku panjang itu menyentuk kepala Bella, dia seakan menarik sukma anak kecil itu keluar dari tubuh dan ikut pergi menuju pohon besar tua bersama para anak kecil tawanan lainnya. Riang tawa gembira, sebagian anak-anak yang bermain dan berkumpul.
Ada yang masih menangis di sudut dekat akar pohon besar dan memanggil nama ibunya. Makanan yang di berikan oleh wewe gombel masih tampak selalu nikmat dan lezat di mata mereka. Darah yang terlihat seperti susu hangat, bangkai hewan dan cacing yang seakan menjadi menu favorit para anak-anak tersebut.
“Ibu, ibu!” jerit salah satu anak kecil lalu memukul Bella yang baru sampai.
“Jangan sentuh dia!” ucap Aurel membanting tubuh anak kecil itu dan menggendong Bella menuju kursi besar yang terbuat dari akar pohon.
...----------------...
__ADS_1
“Dimana anakku mbah?” tanya seorang wanita muda kepada pak Nedi.
Wanita yang bernama Mega sudah berjam-jam melihat ritual pak Nedi. Peran ayah yang selalu ingin menyakiti dan menjadikan hidup Aurel menderita itu kembali mempertajam ilmu yang dia dapat dari jin penunggu hutan untuk mengambil tubuh Aurel kembali sebagai persembahan atas segala yang sudah di berikan oleh makhluk tersebut.
“Dia di curi oleh wewe gombel, kau harus ke hutan sendiri dengan kain hitam yang aku pinjamkan pada mu tepat pertengahan malam jumat kliwon dan kau harus menerima syarat penting yang aku berikan” kata pak Nedi menyodorkan benda yang dia maksud.
“Apa syaratnya mbah?”
“Kau harus jadi pengikutku dan membantuku membantuku melenyapkan Aurel” ucapnya dengan nafas memburu.
...----------------...
Nyanyian suara burung hantu, hutan yang mencekam, udara malam yang menusuk dan suara-suara mengerikan terdengar jelas oleh wanita itu. Dia mengigil ketakutan dan terus berjalan maju menuju tempat yang sudah pak Nedi jelaskan demi mencari sang anak.
__ADS_1
“Le kamu dimana? Ibu menjemput mu”
Dia berhenti di salah satu pohon yang paling besar di hutan. Tanpa melepaskan kain hitam yang menutupi tubuh, wanita itu memasuki lubang pohon yang tampak seperti jalan pintu masuk. Rambut tertarik oleh akar pohon sampai dia terjatuh dan terhempas di tumpukan bangkai tikus yang beraroma busuk.
Mencium bau tersebut membuat dia memuntahkan seluruh isi perut dan pergi menjauh. Mega mendongakkan kepala dan menatap sekeliling tempat. Kemudan dia menuju sebuah lorong yang berakar dengan kaki gemetar memperhatikan sepanjang jalan penuh dengan tulang belulang dan kepala tengkorak.
“Le…”
Langkah Mega berhenti saat seorang anak kecil dengan lingkar mata hitam menarik ujung bajunya dan menangis.
“Hiks…”
“Adik kecil apakah kau melihat anak ku Le?” tanya Mega berjongkok.
__ADS_1
Dia menunjuk ke salah satu lingkaran akar pohon yang berukuran kecil dan langsung menghilang saat melihat kedatangan Aurel. Wewe gombel melotot mendekati Mega sambil mencekik lehernya.