Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Haluan tidak bertepi


__ADS_3

...Sepanjang-panjangnya tali, tidak sepanjang mulut manusia. Rahasia merah muda itu sekali diketahui orang, dalam Waktu singkat sekali sudah tersiar kemana-mana....


...🔥🔥🔥...


Bella menjerit setelah membuka kotak musik di atas meja di salah satu kamar. Ibu Gayatri masih sibuk berbenah bersama Bi Jum dan para pekerja lainnya sehingga tidak memperhatikan aktivitas anaknya yang sudah mencapai lantai atas.


Teriakan itu terdengar oleh salah satu pekerja yang sedang membersihkan lantai, kemudian dia memberitahu kepada Gayatri. Mereka menuju lantai atas tingkat dua. Pintu kamar terkunci, tangisan Bella semakin kencang dari dalam. Mereka mendobrak pintu dan melihat Bella yang sedang menangis di sudut kamar.


"Hiks, hiks. Ibu.."


"Ada apa sayang? kenapa kamu sampai disini?"


Gayatri memeluk Bella yang ketakutan dan mengamati sekeliling kamar. Dia melirik kotak musik yang masih berputar. Ruangan itu terasa sangat dingin. Dia merangkul Bella membawa ke lantai bawah.


"Apa yang kamu lihat sayang, ceritakan pada ibu."


"Tadi ada kakak baju putih berwajah menyeramkan merampas kotak musik yang Bella pegang Bu."


"Kakak baju putih? ibu tidak melihat siapapun disana."


"Hiks,hiks.."

__ADS_1


...----------------...


Kasus pak Nedi membuat prosedur yang panjang. Pak Nedi mengajukan studi banding dan memesan pengacara untuk melawan Gilang. Dia telah memiliki segalanya setelah mengorbankan Aurel. Pertemuan mereka di sel penjara menyita banyak waktu, pikiran dan tenaga yang terkuras emosi di mata Gilang.


"Katakan padaku, dimana Aurel!" tanya Gilang mencengkeram leher pak Nedi.


"Ahahahh.." riang tawa lelaki jahat itu melengos kepada Gilang.


Pak hakim melerai pertikaian dan meminta Gilang keluar kantor polisi.


"Sebaiknya bapak istirahat, kita harus menyiapkan tenaga untuk melawan pak Nedi. Menurut informasi, sepertinya dia memesan beberapa pengacara untuk melawan kasusnya" ucap pak Hakim.


...----------------...


"Ayah, dari mana saja? Pindah rumah kali ini sangat melelahkan."


"Aku sangat lelah, aku ingin tidur", jawab ketus Gilang berlalu melangkah masuk ke kamar.


Gayatri sudah paham sifat Gilang yang selalu dingin kepadanya. Namun di balik itu, Gilang tetap mengemban tanggung jawab yang baik mencukupi kehidupan anak istri.


Setelah ingatannya kembali dan masa lalu teringat akan wajah Aurel, rasa bersalah di hatinya masih terasa berat. Setelah membersihkan diri, dia keluar dari kamar dan menatap Bella yang sedang tertawa bersama Gayatri di ruang keluarga.

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan? semua ini tidak akan mewah dan sempurna tanpa warisan dari sebagian harta Aurel. Rumah ini adalah rumah neneknya, batin Gilang mengusap wajah.


"Ayah.."


Bella memanggilnya dan memeluk erat Gilang yang menangkap tubuh mungil anak kecilnya yang berusia lima tahun setengah.


"Ayo, ikut ayah keliling rumah ya."


Bella mengganggukan kepala dan bersandar di pundak Gilang.


Rumah besar dan mewah masih seperti sediakala. Guci-guci besar yang tersusun di setiap ruangan. Barang-barang antik dan perabotan Jepara, semua memberikan suasana elegan di rumah peninggalan nenek Isda Batara.


Gilang menggendong Bella menaiki tangga di lantai pertama. Ruangan yang masih meletakkan sebuah foto besar di sudut dinding dekat kamar yang tidak jauh dari tangga. Gilang terus menerus memandangi foto tersebut tanpa berkedip, kenangan yang masih membuat dirinya terus bertanya dimana keberadaan Aurel.


"Ayah.. foto siapa itu?"


Tanya Gayatri menyusul langkah mereka.


Gilang tidak menjawab pertanyaan Gayatri, dia masih menggendong Bella menuju kamar ruangan lain meninggalkan Gayatri.


"Katakan sejujurnya padaku! siapa wanita yang mereka bicarakan itu", teriak Gayatri yang tidak di hiraukan.

__ADS_1


__ADS_2