
Titik pusat pertemuan Aurel dengan Gilang untuk membawa ayah Aurel di rumah sakit umum wilayah selatan. Pemeriksaan pak Nedi sudah berlangsung cukup lama, di tambah dengan menunggu hasil selama 1 jam. Aurel yang mengambil posisi duduk menjauh dari Gilang dan pak Nedi menarik sudut mata tajam Gilang mendekati Aurel.
"Bu Aurel, bolehkah saya berbicara dengan mu?"
Aurel yang seperti biasa sibuk mengecek isi layar notif ponsel mengakhiri kesibukan dengan menuju kepada Gilang.
"Apakah yang akan ibu lakukan jika pemeriksaan itu terbukti bahwa ayahmu sakit? apakah kau tetap membencinya?"
"Pertanyaan apa yang bapak lontarkan?"
Aurel menunjuk ke arah pintu besi, dia berkeras dengan memukul pintu tersebut.
"Bagaimana bisa dia sakit, jika tubuhnya seperti pintu ini?"
"Cukup,.. cukup Bu hentikan."
Mata Aurel melotot memerah, dia melipat tangan di depan dada dan berlalu meninggalkan Gilang. Sikap Aurel bagai menjadi suhu yang berubah 360 derajat Celsius jika membahas tentang pak Nedi. Dendam Aurel belum hilang, selalu melekat di pikiran dan relung hati terdalam. Gilang mengejar Aurel dan berlari menuju ruang dokter.
"Silahkan masuk Bu."
Seorang suster membukakan pintu untuk Gilang dan Aurel. Aurel dan Gilang duduk di depan meja pak dokter yang sudah siap menyerahkan selebaran kertas hasil pemeriksaan bahwa pak Gilang tidak menderita gejala penyakit apapun.
__ADS_1
"Ayah dari bapak dan ibu baik-baik saja, suhu tubuhnya juga normal dan tidak mempunyai simpanan penyakit atau tanda-tanda yang menghawatirkan."
"Terimakasih dok."
Wajah Aurel yang masih menekuk cemberut berusaha tersenyum menutupi segala isi hatinya. Aurel dan Gilang bersalaman dan berpamitan kepada pak dokter untuk keluar dari ruangan.
"Dimana lelaki tua itu?"
"Bu Aurel, lelaki tua yang kamu maksud itu adalah ayah kandungmu sendiri bukan?"
Pak Nedi berjalan tergopoh-gopoh meraih tangan Gilang.
"Jangan sentuh tangan temanku!"
"Sebentar lagi sekertaris ku akan tiba bersama supir untuk mengantarmu pulang."
Tin,tin.
Mobil Aurel yang di bawa oleh supir pribadinya datang bersama sekertaris Kim menjemput pak Nedi.
"Dasar anak sialan! sepertinya kau sudah tau niatku! tunggulah hitungan seratus hari dari sekarang!", murka pak Nedi di dalam batin. Raut wajah melengos masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
...----------------...
"Jangan menunggu ku dan jangan menatapku seperti itu."
Pak Gilang dan Aurel duduk di caffe dekat rumah sakit. Sudah berkali-kali Gilang menawarkan untuk mengantarkannya pulang namun dia memilih menunggu jemputan supir.
Sore hari di waktu menjelang pergantian malam. Aurel merapikan kembali isi koper dan mencari benda peninggalan dari nenek Isda yang tersimpan di lemari ruang rahasia.
Suara burung hantu yang bertenggernya di dahan pohon menambah suasana mencengangkan.
Dari balik tembok besar itu terdengar suara jeritan seorang yang mengagetkannya. Wanita berbaju putih yang kemarin malam hadir kembali di belakang tubuhnya. Aroma melati dan hawa dingin membuat sekujur bulu kuduk Aurel sangat merinding. Pak supir sedang menunggunya di depan rumah.
"Siapa yang sedang berdiri di belakang ku?"
Semakin dekat dan semakin dekat dia menyentuh pundak Aurel.
"Arrgghh.."
Aurel berlari menuruni tangga, menuju pintu keluar rumah berubah sangat jauh. Aurel melewati ruangan demi ruangan tidak berujung.
Brugh,prang.
__ADS_1
Karena lari yang sangat kencang, Aurel menabrak dan memecahkan guci besar yang ada di hadapan. Kaki Aurel terkena serpihan kaca, perih sekali di rasanya. Dia tetap bangkit dan berlari menghindari kejaran wanita berbaju putih yang melayang ke arahnya.
"Tolong, tolong!"