
Gilang membawa Bella tinggal di sebuah desa hijau yang di kelilingi oleh persawahan melintang. Udara yang bersih dan terbebas dari polusi udara. Para penduduk disana masih kental dengan beberapa kebiasaan dari orang terdahulu. Desa Banyu merah, di sorot dengan panorama indah namun tersimpan misteri di balik pesonanya. Gilang memilih membawa Bella tinggal disana karena dekat dengan seorang paranormal sakti mandraguna. Di sisi lain, dia harus membiasakan Bella meditasi menikmati pemandangan sejuk agar terlepas dari trauma apapun.
Sampai sekarang sepeninggal Gayatri seakan Bella tidak merasakan kesedihan dan kehilangan. Setiap hari dia suka bermain dengan boneka kesayangannya dan bercakap-cakap di kamar. Gilang yang sibuk dengan pekerjaannya terkadang jarang memantau Bella. Dia menyerahkan Bella untuk di asuh oleh mbok Sumi tetangga rumah.
"Ayah hari ini Bella mau ikut" ucap Bella mengangkat tangan meminta di angkat.
Gilang dengan sigap menggendong putri kecilnya itu dan mencium pipinya. Aroma bedak baby masih kental tipis Gilang usap. Namun tetap saja wajah Bella semakin hari semakin memucat.
Apakah tindakan mu kali ini salah? segala cara sudah aku lakukan untuk mu sayang, gumam Gilang.
"Maaf sayang, ayah hari ini ada meeting di kantor. Nanti ayah usahakan cepat pulang untuk mengajak Bella pergi cari mainan baru ya"
Mendengar perkataan Gilang lantas membuat raut wajah Bella menjadi menekuk masam. Dia mengusap mata nya yang sayu dan seketika tertidur di pundak Gilang. Hal itu membuat Gilang menjadi berat hati, tapi pekerjaan yang menuntut telah menanti. Dia membawa Bella menuju kamar dan menidurkan nya. Kemudian Gilang perlahan berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Dia menghela nafas panjang dan mengeluarkan beberapa lembar rupiah menuju dapur.
__ADS_1
"Mbok, ini uang belanja dan simpanan sedikit jika Bella menginginkan sesuatu. Saya titip Bella ya mbok"
"Baik pak.."
...----------------...
Cuaca yang tidak mendukung untuk memulai aktivitas pagi. Gilang yang semula melaju kencang kendaraan kini berjalan dengan kecepatan rendah. Hujan deras yang melanda bersama tiupan angin kencang. Perjalanan menuju kantor memakan waktu selama satu jam. Hatinya hari ini tidak menentu karena tidak biasanya Bella minta ikut dengannya.
"Mbok, mbok!" teriak Bella.
"Ada apa non?"
"Boneka Bella menghilang" Bella melingak linguk dan menunduk mencari di bawah kasur.
__ADS_1
Mbok Sumi ikut mencari namun tidak menemukan dimana pun.
"Nanti kita cari lagi ya non, si mbok mau masak"
Mbok Sumi meninggalkan Bella sendirian di kamar. Seketika dari balik jendela kaca melintas bayangan besar dengan cepat. Dialah sosok Wewe gombel yang mengincar Bella kembali untuk di bawa ke hutan bersama anak-anak lain. Dia juga datang karena mengetahui pak Nedi sudah berada di depan rumah Gilang. Dendamnya kepada Nedi membuat siapa saja yang di dekatnya terkena imbasnya. Penyamaran sempurna pak Nedi dengan mengubah penampilan agar bisa mengelabui Gilang untuk bekerja dirumah tersebut.
Tok, tok, tok..
"Permisi saya mengantar paket!" ketus pak Nedi menyodorkan sekotak kardus kepada mbok Sumi.
"Terimakasih, atas nama siapa?"
"Aurel! saya kesini juga di suruh oleh pak Gilang untuk bekerja"
__ADS_1