
Wewe gombel sedang memainkan peran di tubuh Bella.
Bella sudah membuka mata dan kini tersenyum di hadapan Gilang. Sebisa mungkin seluruh kekuatan sang dukun sakti di keluarkan untuk menebus jiwa Bella kembali, namun yang bangkit dan tegak adalah tubuh kasar bella. Di dalamnya sudah terisi sosok Aurel mencekik sang dukun.
"Lepaskan, Bella tolong kau lepaskan dia!" ucap Gilang.
Gilang menarik tangan kecil Bella dan menggendongnya. Sang dukun sakti mengeluarkan batuk darah dan tubuhnya terhempas ke atas tanah. Lelaki itu bergerak berusaha berdiri dan berlari meninggalkan Gilang.
"Tunggu! kau mau kemana?" panggilan Gilang yang tampak tidak di perdulikan olehnya.
...----------------...
Waktu berjalan dan berganti meninggalkan cerita lama. Tingkah pola Bella yang nampak terlihat lebih dewasa dan tidak ingin lagi di urus oleh Gilang. Si mbok juga begitu heran dan terus menerus mengintip pergerakan anak kecil itu.
"Mbok.." ucap Bella yang berdiri di belakang tubuh nya.
"Arghhh!" dia sangat terkejut dan bergetar.
__ADS_1
Bukannya tadi non Bella sedang berdiri di sudut ruangan? gumamnya membalikkan badan.
"Mbok, biar aku saja yang memasak hari ini" ucap Bella menarik spatula dari tangannya.
"Jangan biar si mbok saja, nanti tuan akan marah. Non bermain saja di kamar" kata si mbok mengusap kepala Bella dan mengambil kembali alat tersebut.
Bella menggeleng kepala dan bergerak meraih sayuran. Dia melengos dengan pandangan tajam.
"Apakah kau tuli? aku yang akan memasak untuk ayah ku!" ucap Bella.
"Argghh, argghh!"
Sikap Bella semakin berbeda dan saat dia berjalan meninggalkan jejak kaki lumpur di sepanjang ruangan. Si mbok tidak berani mengadukan hal itu kepada Gilang. Dia ingin meninggalkan rumah besar itu namun Gilang selalu menghalangi dan memaksa agar tetap tinggal. Setiap dia bertemu dengan Bella, rasa ketakutan dan detak jantung Bergerak cepat melihat segala keanehannya.
"Ayah kenapa lama sekali sampai rumah?" tanya Bella yang duduk menunggu selama berjam-jam.
Dia sudah selesai menyiapkan masakan selama berjam-jam.
__ADS_1
"Maafkan ayah, ayo kita makan bersama" ucap Gilang mengecup dahi putri kecilnya.
Di atas meja telah terhidang sayuran hijau bercampur ulat sutra dan cacing tanah, ada sepiring daun kering yang di taburi oleh cabai hijau dan secangkir kopi yang terbuat dari darah hewan liar. Sosok di balik tubuh Bella yang mengerjakan semuanya. Akan tetapi di mata Gilang melihat semua makanan terlihat menu santapan yang lezat dan mengunggah selera. Si mbok masih memperhatikan dari balik dinding, dia menekan-nekan jari dan menggigit bibirnya sendiri.
Dari mana non Bella mendapatkan itu semua? kenapa sekarang dia bisa memasak? gumam si mbok penuh curiga.
"Ayah, ada seorang lelaki yang ingin membunuh ku. Namanya pak Nedi, apakah kau mengenalnya?" tanya Bella melirik sambil mengunyah lima lembar daun kering.
"Pak Nedi? apa yang dia lakukan pada mu nak?"
Air mata Bella seketika keluar dan memeluk Gilang. Dia tersenyum di belakang tubuh ayahnya dan mengeluarkan suara meringis pilu.
"Dia tadi menyodorkan sebuah pisau ke arah ku!"
Mendengar perkataan dari Bella, dia langsung memanggil polisi untuk mencari keberadaan pak Nedi.
"Tidak ada yang bisa menyakiti mu! ayah akan memberi pelajaran pada laki-laki itu!"
__ADS_1