
Ketika semua yang kau lihat tidak sesuai dengan keinginan mu maka hal yang paling mudah adalah merelakan. Semua yang di dunia tidak lain adalah titipan dan sebaik-baik nya rencana atau skenario para pengatur jalan cerita. Hampir sembilan puluh persen tokoh di mengalami kepedihan dan cobaan tiada henti.
Aurel seharusnya tidak berubah sempurna jika saja pak Broto tidak mengeluarkan sesajen pemanggilan Wewe gombel. Semua sudah menjadi nyata dan rahasia Wewe gombel menyeruak mengingat perlakuan pak Nedi kepadanya. Sesampainya dirumah, pak Hakim mengemas barang untuk perpindahan ke luar kota. Tidak lupa sebelum menghilang jejak, dia mengirim segala berkas dan dokumen Gilang dan Aurel. Dia sangat syok dan frustasi melihat sosok Wewe gombel yang tidak lain adalah Aurel. Begitu pula dengan Gilang yang nampak ketakutan. Dia membawa Bela pergi jauh meninggalkan rumah.
Aku tidak menyangka kau berubah menjadi makhluk yang begitu mengerikan. Maafkan aku yang meninggalkan mu begitu saja, gumam Gilang menyetir mobil menuju perbatasan kota.
...----------------...
Setelah mencabut paksa tangan pak Broto sepertinya Aurel masih melanjutkan aksi mengincar orang-orang yang pernah dia temui. Dia mengikuti Gilang dengan menghilang dan terbang mencium radar aroma tubuhnya.
"Ayah, ayah.." ucap Bella menarik lengan baju Gilang yang tampak fokus menyetir.
Langit mendung di sertakan hujan rintik-rintik. Lalu lintas padat dan saling beradu kecepatan. Hawa dingin datang membekukan tubuh dan sesekali terdengar ramai suara burung gagak. Gilang belum menjawab panggilan Bella. Dia masih memikirkan Aurel dan cerita merah muda yang tetap melekat di sepanjang waktu.
__ADS_1
"Apakah aku salah? tapi kini kita tidak mungkin bersama" Ucap Gilang pelan.
"Ayah, ada kakak" Bella menoleh ke belakang dan tersenyum.
Dia melambaikan tangan dan memberikan boneka yang sedang dia peluk. Gilang sangat terkejut mendengar perkataan Bella. Dia menghentikan mobil di tepi jalan dengan detak jantung yang berdetak kencang. Nafasnya terburu-buru berusaha ikut menoleh ke belakang. Ketika Gilang melihatnya hanya ada Boneka Bella yang berposisi duduk menatap mereka.
Bagaimana boneka itu bisa duduk padahal jarak tangan Bella masih kecil, gumam Gilang menatap tanpa henti.
"Sayang, kita sudah punya rumah baru. Disana kamu mempunyai banyak teman" balas Gilang mengusap lembut wajah putrinya.
Kekhawatiran nya semakin menjadi melihat wajah pucat Bella dengan lingkar mata menghitam. Anaknya pernah hilang beberapa hari sebelumnya yang membuat Bella berubah aneh. Gilang menghela nafas dan memberikan sebotol minuman kepada Bella.
"Sayang ayo di minum, perjalanan kita masih jauh"
__ADS_1
Bella menggeleng kepala dan menoleh ke belakang. Dia menangis tersedu-sedu dan menunjuk ke arah bonekanya.
"Aku mau kakak, aku mau boneka ku kembali!" isak tangis Bella tiada henti.
Gilang memeluk putri kesayangannya itu dan memikirkan lagi ikatan Bella dengan Aurel yang tiba-tiba semakin dekat. Dia sudah mengetahui bahwa Aurel adalah wujud Wewe gombel, lalu bagaimana bisa dia merelakan putrinya untuk di ambil makhluk itu?
Aku harus menemui paranormal lain agar Aurel tidak menggangu Bella, gumam Gilang memutar balik kendaraan.
"Kakak, aku mau pulang!" teriak Bella sepanjang jalan.
Gilang menjadi sangat gelisah, dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan berusaha menghubungi pak Hakim.
"Hiks, hiks, huaaa.." tangisan Bella semakin kencang.
__ADS_1