Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Aurel kembali utuh


__ADS_3

Panik sekali pagi ini raut wajah Gilang, saat dia mendengar suara tangisan Bella yang tidak tau dimana keberadaannya. Tadi malam baru saja dia melepaskan pelukan kepada putri kecilnya itu sampai tepat pukul 04:00 WIB, lalu anak semata wayangnya itu menghilang. Gilang berlari kencang memeriksa setiap sudut rumah, bahkan dia sampai berlari ke arah pohon yang pernah Bella panjat bersama Aurel.


“Dimana anak ku?” Gilang mendengar suara tangis Bella semakin keras.


“Ayah.. ayah!”


Angin meluluh lantakkan dahan pohon mengibas tubuh Gilang saat sedang berbalik menuju rumah.


“Ayah..!” lenyap suara gadis kecilnya di telan hujan deras.


Listrik yang padam membuat tangan GIlang perlahan meraba tembok dan menyalakan pematik dari saku. Angin yang bertiup kencang berkali-kali memadamkan pematik. Dia menuju nakas mencari senter dan lilin. Dengan tangan yang masih bergetar, Gilang merasakan sekujur tubuhnya begitu merinding dan mendengar lengkingan seperti suara tertawa yang begitu melengking.


Tok, tok, tok, tok, (Suara ketukan pintu mengagetkannya).


Gilang melangkah memegang gagang pintu, dia melihat dari jendela. Ada Aurel yang sedang berdiri membungkuk di depan pintu. Melihat kehadirannya sontak saja Gilang begitu kaget dan dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


"Aurel, bukan kah kau seharusnya sudah berwujud Wewe gombel?" batin Gilang mengintip sekali lagi dari jendela.


Kakinya berpijak ke atas lantai, badan basah kuyup dan sesekali terpancar kilat yang menyambar menampakkan wajahnya yang sayu. Hati kecil tidak akan bisa berdusta, ikatan merah muda di masa lalu masih terbayang dan membekas menjadi belas kasih. Gilang perlahan membuka pintu dan mengatur suhu nafasnya.


"Ka, kamu.." ucapnya terbata melihat Aurel tersedu-sedu berlutut di hadapan.


"Tolong, tolong aku!" lirih suara Aurel yang terdengar normal tanpa iringan suara lain yang pernah Gilang dengar di kala itu.


Bukan kah dia sudah menjadi Wewe gombel setelah tubuhnya menjadi tumbal dan di persembahkan oleh pak Nedi di hutan terlarang? Bukankah dia yang biasanya menghantui Bella? lalu apa yang sebenarnya terjadi pada nya? segala pikiran yang berputar di kepala Gilang membuat dia menekan lebih keras.


Dia menuju kamar mengambil handuk, Sangat lama sekali dia kembali menuju Aurel. Pikirannya masih berputar dan mengingat segala yang telah berlalu. Saat Gilang kembali menuju Aurel, tampak gadis itu menangis senggugukan.


Flashback


laporan surat di masa lalu dan kini.

__ADS_1


Setelah semua penderitaan mu di masa lalu, lantas sekalipun aku sudah tiada. Aku sudah menulis surat wasiat kepada sekertaris ku untuk terus menjaga mu. Aku akan memberikan seluruh harta ini semata untuk kehidupan mu, Aurel. Setelah semua perlakuan kejam Nedi kepada mu. Aku tidak akan Tinggal diam melihat mu selalu menderita. Aku selalu menyayangimu duhai cucuku.


^^^TTD. Isda Batara.^^^


Flash on


"Itu dia, disana lah sarang rumah si makhluk Wewe gombel!" teriak lelaki tua berbaju hitam memegang kain kafan.


Dia datang dari pulau terpencil di jemput oleh sekertaris Kim untuk mencari keberadaan Aurel selama bertahun-tahun menghilang. Sekertaris Kim adalah orang yang paling setia dan terpercaya oleh almarhumah nenek Isda. Kini dia menemukan titik terang melihat tanda-tanda Aurel. Namun kabar yang terdengar dari lelaki sesepuh itu adalah wujud lain Aurel yang telah berubah menjadi wewe gombel karena ulah malpraktek ilmu hitam. Sekertaris Kim yang meradang meminta lelaki tua berbaju hitam untuk menukar jiwanya untuk menghidupkan kembali Aurel.


"Inilah batas akhir bakti ku untuk mu, nyonya Isda" ucap sekertaris Kim menenggelamkan diri ke dalam lumpur di bawah pohon besar.


Tubuhnya sudah di bungkus oleh si lelaki tua oleh kain kafan. Sebelumnya dia mendekat kan kan mayat Aurel di samping sekertaris Kim.


"Hahhh, hidup lah kembali!' gema suara si lelaki tua melanjutkan membaca mantra.

__ADS_1


__ADS_2