Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Hari kebangkitan Wewe gombel


__ADS_3

Lelaki tua yang kehabisan tenaga dalam ikut menyusul pergi selamanya dengan sekertaris Kim. Beberapa saat sebelum tragedi, dia memberi tanda gambar tengkorak pada tiap arah jalan menuju tempat mereka mengadakan ritual.


Di rumah yang kembali Aurel singgahi..


Sayu kelopak mata cekung melingkar hitam. Dia sedang menerima handuk kering kedua kalinya dari Gilang. Rambut yang terlalu basah dan lagi-lagi berlendir. Gilang membantu mengusap rambut wanita itu dan membisikkan sesuatu di dekat daun telinga nya.


"Apakah kau melihat anak ku Bela? bantulah aku mencarinya"


Dubrakkk.


Pintu dan jendela terbanting, kaca jendela pecah dengan serpihan yang terbang mengenai tubuh Gilang.


"Ssttthhhh.." ringisnya berusaha menarik salah satu pecahan besar yang menusuk betis kakinya.

__ADS_1


Aurel ikut membantu menarik paksa sampai kulit Gilang terkoyak. Darah yang tidak bisa di bendung, secepatnya Aurel menutup dengan handuk miliknya. Mata berubah warna merah, mendidih tubuhnya melihat darah hangat. Aurel menutup mata dan menyembunyikan sosok lain yang ingin keluar dari tubuhnya.


Dari arah pintu, terlihat Bella berdiri menunduk. Rambut menutupi wajah, sontak Gilang berlari memeluk anaknya dan menggendong masuk.


"Bella, dari mana saja kau nak?" ucapnya memeluk erat.


Dia tidak bergeming hanya memiringkan wajah melihat sang ayah dengan pandangan bengis. Bela mengayunkan tangan hendak memukul sang ayah lalu Aurel menepis dan menyeringai.


"Lepaskan!" bentaknya tidak terkendali.


"Siapapun kamu dan apapun wujud asli mu, aku tau kau tidak berniat menjahati aku dan anak ku. Jadi tolong jaga Bella sebentar saja" pinta Gilang.


Dia menuju dapur membuat dua gelas teh hangat dan menghela nafas. Semua kejadian dan hal ganjil masih terbayang di ingatan. Beberapa menit berlalu, seorang dokter datang dan langsung memeriksa Bela. Dia menggeleng kepala dan sibuk mengeluarkan beberapa jenis obat-obatan dan sebuah jarum suntik.

__ADS_1


Gilang meletakkan secangkir teh di atas nakas dan satu lagi dia satu lagi dia berikan kepada Aurel. Setelah sang dokter selesai memeriksa, dia memberikan beberapa obat-obatan kepada Kinan.


"Anak bapak harus segera di bawa ke rumah sakit jika besok belum sadar juga, sepertinya dia mengalami koma dan suhu badan yang tidak stabil" ucapnya dokter tersebut.


Dia berhenti bergerak saat terasa kakinya ada yang menarik. Benda dingin dan berlendir seperti sebuah tangan yang berada dari bawah kolong tempat tidur. Dokter itu melihat dan menjerit histeris.


"A.. apa ini?" tanyanya mengangkat kaki dan berlari menuju ruang tamu.


"Pak dokter, sebentar saya mau membayar uang pengobatan" kejar Gilang.


Setelah memberikan uang pembayaran, dokter itu Langsung meninggalkan rumah dan menuju kendaraan nya. Dari arah belakang, Aurel menepuk pelan punggung Gilang.


"Aurel, ada apa? malam ini kamu istirahat saja di kamar mu dan terimakasih sudah menolong ku menemukanmu Bella" kata Gilang menutup pintu.

__ADS_1


Lelaki yang setengah ketakutan itu secara waras begitu gemetar saat di dekat wanita yang pernah dia ketahui berwujud sebagai Wewe gombel. Terasa jantung yang masih berdetak kencang melihat wanita itu berkuku tangan dan kaki panjang, gerakan tubuh kaku dan wajah yang tanpa berekspresi yang menambah kesan angker pada dirinya.


__ADS_2