
Sepertinya pengorbanan nenek Isda telah sia-sia. Ayahnya pak Nedi dari dia kecil sampai kini selalu mengincar Aurel. Kini Pak Nedi telah mendapatkan semua keinginan jahat. Pak Gilang menghentikan pekerjaannya, dia merapikan laptop dan buku menuju kamar.
Dia membuka kembali koper lamanya, tempat kerjanya dahulu pertama kali mengetahui tempat tinggal rumah lama Aurel. Dia menulisnya di buku lamanya yang kini dia buka kembali. Nomor rumah lama masih aktif, akan tetapi tidak ada yang mengangkat panggilannya. Dia berniat menuju tempat tersebut sebelum berpamitan kepada sang istri Gayatri.
Setelah meminta pekerja rumah tangga Merapikan kebutuhan anaknya, dia menuju rumah ibu Rina dan tergesa-gesa kembali lagi dengan alasan lembut kerja. Langkah pertama yang dia tempuh adalah mengunjungi perusahaan Aurel. Sudah dua jam dia menunggu di lobi namun tidak ada satu orang staf atau karyawan yang menemuinya. Ketika dia berjalan ke arah pintu keluar, tampak seorang wanita memanggil namanya.
"Pak Gilang, ada titipan surat untuk anda."
"Terimakasih, maaf sebelumnya saya mencari ibu Aurel."
"Kami mohon maaf, ibu Aurel sudah bertahun-tahun tidak lagi masuk ke kantor."
__ADS_1
"Jadi, dimana sekarang beliau?"
"Tidak ada kabarnya pak, pemilik perusahaan ini telah lama menghilang. Jika bapak masih ingin menanyakan hal lain, silahkan hubungi pak hakim dan sekertaris ibu Aurel. Permisi saya pamit kembali bertugas."
Perusahaan itu sudah lama di tinggal oleh pemimpinnya namun tetap berjalan seperti biasanya. Para staf dan karyawan yang sangat setia kepadanya dan masih mengingat segala kebaikan Aurel sampai saat ini. Selembar amplop coklat yang bertuliskan nama Gilang.
Keterangan atas nama pak Gilang, pemilik sah pemindahan kekuasaan segala properti awal atas nama Aurel Batara.
Ternyata itu bukanlah surat cinta yang seperti di pikirkan Gilang. Itu adalah sebagian harta Aurel yang telah di berikan kepadanya. Di sudut amplop tertulis nama pak hakim sebagai pengacara segala warisan Aurel. Gilang tidak menginginkan semua ini. sore itu juga dia menemui pak hakim untuk mempertanyakan segalanya.
Setelah bertemu pak Hakim di salah satu caffe favorit Aurel semasa dahulu. Dia mendengar segalanya dari pak Hakim. Kelihatannya gadis itu mengalami siksaan batin yang cukup berat dari semasa dia kecil jingga dewasa. Pak Nedi adalah dalang semua cerita hidupnya yang sengsara. Semuanya telah pak Hakim katakan dengan jujur kepada Gilang. Kini dia benar-benar merasa bersalah dan berkali-kali memukul-mukul dadanya.
__ADS_1
"Aurel, Aurel..."
Tangisan lelaki yang terlihat gentleman itu kini seperti tangisan seorang anak kecil yang tersesat di tengah kerumunan orang. Dia baru sadar mengapa sejak pertama kali bertemu Aurel, dia melihat kebencian di mata Aurel kepada ayah kandungnya sendiri.
"Bahkan sampai saat ini? kenapa kau hanya duduk tenang-tenang saja?"
"Tenangkan diri anda. Saya dan lainnya sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Kau harus mencarinya lagi."
Pak Gilang berkeras meminta kepada pak Hakim. Mereka langsung menuju ke kediaman nenek Isda mencari tau mengenai Aurel dan ayah Aurel kepada masyarakat sekitar. Mereka tiba pada malam yang larut, namun Gilang tetap bersikeras tetap melanjutkan pencarian. Segala tempat bahkan jembatan yang terakhir kali dia melihat Aurel, dia cari sampai menuju bawah sungai.
__ADS_1
Banyak warga yang ikut mencari dan membantu membawa penerangan menyusuri sungai. Sepertinya hal itu adalah mustahil karena terhitung kejadian hilangnya Aurel sudah hitungan tahun. Hanya ada satu tempat yaitu hutan terlarang. Namun semuanya tidak menyetujui keinginan pak Gilang menuju kesana.
"Biar aku sendiri yang kesana, pak Hakim. Kau jaga mobil disini saja."