
Sudah satu jam Gilang membersihkan rambut Aurel. Kursi sofa mewah rela dia korbankan untuk menampung air basahan keramas dan kotoran dari rambut wanita yang nampak asing bagi dirinya sendiri. urat-urat hijau berlendir dan kerak pada kepala Aurel sudah bersih dan tercium wangi. Gilang membungkus rambut, menggulung dengan handuk putih di kepala Aurel.
"Cepatlah sadar atau haruskah aku menyewa seorang pendamping pengurus untuk mu?" tanya Gilang membersihkan sisa air yang tumpah di lantai.
Aurel hanya terdiam dan menatap lama Gilang. Kini lelaki yang tampak semakin sabar mengurus nya itu mengangkat Bella menuju kamar, sebelumnya tampak tersenyum melambai tangan.
Malam larut berselimut hawa dingin bersama ramai suara burung gagak yang berterbangan di atas rumah. Salah satunya hinggap di pinggir jendela kamar Aurel yang terbuka. Aurel mengangkat burung gagak itu dan mengusap paru nya dengan gerakan cepat. Cahaya rembulan menembus bayangan lain yang terpantul pada diri Aurel dengan wujud berbeda. Seorang manusia yang tegak berdiri dengan tubuh ramping bagai biola terdapat bayangan lain dengan tubuh gemuk besar dan tinggi.
"Kakak, kakak!" suara teriakan anak-anak kecil yang terdengar membuat Aurel berlari menuju sarang pohon besar tempat menyembunyikan anak-anak kecil tersebut.
Wujud asli yang mempunyai buah dada yang sangat besar menjuntai ke bawah. Rambutnya yang semula bersih kembali kotor tersiram darah setelah membunuh hewan liar untuk makanan para anak kecil. Bajunya berubah Kumal menyeret panjang di tanah bersama kuku panjang bengkok sedang duduk memperhatikan mereka. Sebelum fajar datang Aurel kembali lagi ke kamarnya, dia memejamkan mata saat seorang pekerja rumah datang membawa segelas teh untuk nya.
__ADS_1
Semua para pekerja Gilang sudah datang dan bekerja kembali di rumah. Tiba-tiba seorang satpam penjaga berlari mengetuk pintu dengan berteriak histeris.
Tok, tok, tok.
"Pak Gilang!"
Kembali dia melanjutkan ketukan sampai si mbok Ina seorang pembantu membuka pintu.
"Ada banyak bangkai burung gagak di pos penjaga tempat ku duduk, padahal aku baru saja meninggalkan nya dari toilet"
"Ah masalah kecil itu nanti saja tunggu tuan sudah bangun, kau lanjutkan saja pekerjaan mu."
__ADS_1
Si mbok menutup kembali pintu rumah. Ada pak Nedi yang sedang menyeringai dari ujung jalan. Dia kembali melancarkan ilmu hitam dengan menebar racun setan di udara menuju Aurel melalui bangkai burung itu. Aurel melotot merasakan hawa aneh mengganggu. Dengan sosok Wewe gombel, dia terbang menghilang melihat bangkai seperti sebuah daging segar yang menyilaukan pandangan. Hampir saja dia mengambil bangkai hewan jika tidak mendengar tangisan Bella.
"Tenanglah, ada aku" ucap Aurel mengusap kepala Bella dengan lembut.
Aurel yang berwujud wewe gombel memangku Bella, dia duduk di tepi ranjang dan menimang Bella sampai anak kecil yang sudah pernah dia bawa ke pohon besar itu terbiasa tertidur pulas. Tanpa sadar Gilang sudah bangun dan menuju kamar Bella. Dia melihat wujud mengerikan sedang memperlihatkan punggung penuh belatung yang bergerak sedang bersama anaknya. Gilang perlahan melangkah mendekat dengan tangan bergetar dia mendarat kan tangan menepuk pundak hantu mengerikan yang beraroma busuk tersebut.
Ssstthh, stthh..
Suara aneh yang muncul sedang melakukan gerakan menepuk tubuh Bella pelan.
"Si, siapa kau!"
__ADS_1