Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Ketakutan Aurel


__ADS_3

Aurel terkejut menutup suara jeritan yang hampir keluar dari mulutnya. Lelaki itu adalah ayahnya Aurel dengan penampilan ciri khas jubah hitam. Seharusnya seorang ayah melindungi buah hatinya namun sebaliknya seakan seumur hidup Aurel di siksa oleh ayahnya dan di persembahkan untuk di jadikan santapan makhluk ghaib. Aurel mengambil handphone dan mengecek notif pesan dan nomor baru.


📩From : No name


📁"Saya mau kasih kabar bahwa sudah sampai rumah bu.."


Nomor yang sama mengirim pesan kejutan misterius. Aurel tertegun ternyata Gilang yang sudah memberi kejutan di waktu makan malam bersama para pegawainya dan pria yang sama yang memberikannya sapu tangan.


Aurel langsung menelpon dengan nada suara berbisik ; "Halo pak selamat malam."


"Selamat malam Bu, kenapa belum tidur?"


"Saya sedang ada urusan, apakah lelaki tua itu sedang bersama anda?"


"Baru saja saya mengantarkannya ke kamar Bu."


Aurel terkejut dengan pernyataan dari pak Gilang. Suara Aurel terhenti dan memutuskan panggilan. Dia kembali mengecek layar cctv depan rumah. Pak Nedi menghilang dari teras depan rumah. Lampu-lampu rumah berkedap-kedip menambah suasana merinding pada Aurel.


Kriinggg, Kriinggg.


"Halo.. apakah ibu baik saja?"

__ADS_1


Aurel tidak menjawab pertanyaan pak Gilang , Trauma masih menghantui. Dirinya seperti kembali ke masa lalu yang penuh penderitaan berkepanjangan dari ulah jahat pak Nedi.


Ting,Toongg,Ting,Tiong.


Suara bel rumah membuat jantung Aurel memompa lebih cepat. Listrik rumah yang tiba-tiba padam. Perputaran waktu yang terulang di masa lalu dan di masa kini akan ingatan kejadian pak Nedi yang menghabisi nenek Isda, Aurel bersembunyi di bawah meja. Aurel menghidupkan senter dari layar handphone menyorot sekitar ruangan.


Ting,Toongg,Ting,Tiong.


Aurel tidak membuka pintu atau beranjak dari tempat persembunyiannya.


"Nenek, Aurel takut", bisik Aurel.


"Aurel,Aurel."


"Siapa yang memanggil aku?", batin Aurel.


Aurel sedikit menyibak tirai jendela, mengintip mata Aurel melihat sesosok baju putih di pekarangan rumah lamanya. Satu makhluk berbaju putih melayang melewati pembatas rumah Aurel sambil tertawa cekikikan. Bulu kuduk Aurel mendapati makhluk aneh yang menghantuinya. Aurel kembali bersembunyi di balik meja pribadi dan mengirim pesan kepada Bi iyem si pengurus rumah. Akan tetapi pesan yang di kirim Aurel belum di balas oleh Bi Iyem. Kembali Aurel mencoba memanggil Bi iyem dengan nada berbisik-bisik.


"Halo Bi iyem, bisa kerumah nenek sekarang? saya sedang sendirian Bi."


"Maaf non, bibi sedang mengurus anak bibi yang sedang sakit."

__ADS_1


"Ya Bu tidak apa-apa", kata- kata Aurel mengakhiri percakapan.


Aurel ingin sekali malam di malam itu keluar dari rumah nek Isda.


"Aurel,Aurel!."


Suara makhluk berbaju putih melengking di telinga. Aurel menutup kedua telinganya rapat-rapat kembali di bawah meja.


Tinn, tinn.


Suara bunyi klakson mobil memasuki halaman rumah nenek.


Kringg, kriingg.


Tanpa berbicara sepatah kata apapun Aurel mengangkat panggilan dari pak Gilang.


"Bu Aurel saya sedang berada di luar rumah anda."


Aurel tidak memutuskan panggilan dari pak Gilang, dia bergegas meraih tas dan dompet dan berlari menuju keluar rumah. Saat melangkah keluar menuju depan, tatapan Aurel menuju rumah lamanya. Arloji di tangan pak Gilang menunjukkan pukul 21:00 wib.


"Saya datang kesini hanya memastikan apakah ibu baik- baik saja?" Mendengar perkataan Gilang, gerakan Aurel menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Saya tadi kesini berniat menginap di rumah peninggalan nenek untuk melepas rindu, namun sesuatu terjadi sampai saya memutuskan untuk pergi sekarang! bisakah anda mengantarkan saya?"


__ADS_2