Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Dia kembali


__ADS_3

Mengarungi masa kini dan terjebak dalam merah muda masa ikatan masa lampau. Tidak ada yang berubah dari perasaan Gilang namun keadaan yang membuat mereka terpisah. Wewe gombel kini bangkit dan masih melakoni peran mencuri anak-anak kecil.


Setelah mengurus Bella, tampak Gayatri ikut duduk di ruang tamu bersama Gilang dan pak Hakim. Suasana teramat tegang saat pandangan Gayatri melihat dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja. Pak Hakim masih tampak sibuk menulis dan menyiapkan materai pada lembar kertas.


“Maafkanlah aku, kemarilah semua kemewahan ini seutuhnya milik Nyonya Aurel” ucap Gilang menarik tangan istrinya.


"Aku tidak terima dengan semua ini! Atau jangan-jangan dia adalah wanita sama yang pernah aku dengar?“


“Tolong tenang”


Terlihat Aurel berjalan di hadapan mereka, wajah cantik tetap sama walau bibir memucat dan garis tajam mata panda menghitam menambah kesan angker. Gayatri yang dahulu lemah lembut dan begitu ramah kepada siapapun berubah bengis saat mendapat hantaman godaan rumah tangga akan kehadiran Aurel. Gayatri melipat tangan berjalan mendekati Aurel, wajah amarah yang tidak bisa di tutupi lagi.


“Hei siapa namamu?” tanya Gayatri bernada tinggi sambil melotot.

__ADS_1


Aurel hanya terdiam membisu menatap ke sekeliling ruangan. Gilang yang tampak bingung menjauhkan Gayatri dan Aurel.


“Hentikan, dia masih tampak bingung"


Andi menggiring mereka duduk di sofa.


"Maaf sebelumnya, jadi begini setelah kedua hak kepemilikan aset dan properti asli di pisah maka harta milik pak Gilang hanya dua puluh lima persen saja.” Jelas pak Hakim menyerahkan kedua aset kepada yang bersangkutan.


Gayatri sangat terkejut lalu berlari menuju kamar, dia meraih koper untuk mengemas baju-bajunya. Gilang meminta ijin meninggalkan pak Hakim dan Aurel sejenak untuk menemui Gayatri. Dia menarik Koper yang sedang Gayatri susun barang-barang pribadi miliknya.


“lepaskan aku!”


"Hiks, hiks ibu.."

__ADS_1


Mendengar tangis Bella kembali pecah, mereka langsung berlari menuju kamar Bella. Tidak ada Bella disana, jendela kamar terbuka lepas menerbangkan tirai yang tertiup angin kencang. Bella kembali hilang sedangkan di ruang tamu tampak pak Hakim sedang sibuk mencari keberadaan Aurel.


“Dimana Aurel?” tanya Gilang kepada pak Hakim dengan gusar.


“Dia tiba-tiba pergi tanpa membawa dokumennya. Aku melihat mata ibu Aurel begitu mengerikan” jawab pak Hakim mengusap kepala.


“Aku yakin anakku di curi wanita jahat itu!” Gayatri memangil polisi untuk melakukan penyelidikan.


“Jangan telpon polisi, tidak mungkin Aurel yang menculik Bella."


“Kau lebih mempercayai aku atau wanita aneh itu?”


Senja telah tenggelam berganti malam dengan lolongan hewan berkaki empat menyemai hawa mencekam. Suara telapak kaki yang berasal dari lantai atas terdengar oleh Gayatri yan sedang menuggu kabar dari Gilang dan pak Hakim.

__ADS_1


Jejak-jejak langkah yang membekas kaki lumpur berwarna hitam. Gayatri begitu terkejut ketika menuju sumber suara , dia melihat tapak dua orang yang menuju kamar Bella. Dua tapak kaki orang dewasa dan dua tapak kaki anak kecil bahkan gagang pintu berlumuran darah hitam kental menetes ke lantai. Tangan Gayatri bergetar ketakutan saat ingin membuka pintu, dia melapis tangan dengan taplak meja. Di rumah hanya ada dia sedang seluruh para pekerja sedang berlibur.


“Apakah ada maling? Tapi kenapa aku merasakan kehadiran anakku?” gumam Gayatri membuka perlahan.


__ADS_2