Dendam Wewe Gombel

Dendam Wewe Gombel
Terbungkus dendam


__ADS_3

Gelap gulita hatinya tidak bisa di balik lagi. Diam kesaksian tanah dunia, terlalu kering akibat siraman tangan-tangan nakal. Terkadang bumi menangis atau menyiram bahan-bahan kejahatan para pemuja aliran sesat. Seakan mereka melupakan kematian yang sudah di pelupuk mata. Dendam belum terbalas, kebencian semakin merebak di dalam segumpal hati yang sudah keras membeku. Gerai derita, duka, luka dan jatuh terperosok ke dalam lubang dalam tidak berbatas. Racun mematikan sudah tidak ada penawarnya lagi.


Dendam wewe gombel..


Sebuah mobil polisi menuju kerumah Gilang, dua orang polisi berjalan membuka gerbang rumah. Mereka mengetuk pintu rumah Gilang begitu kuat, tapi sepertinya rumah itu tampak tidak berpenghuni. Dari teras rumah yang di penuhi dengan rontokan daun-daun kering. Meja dan kursi yang berdebu, ada banyak sarang laba-laba bertengger memenuhi di setiap sudut benda. Salah seorang aparat kepolisian itu hampir terkejut melihat banyak burung gagak berterbangan di atas rumah lalu terbang bergerombol menuju mereka.


“Rumah ini yang aneh, sepertinya benar-benar sudah kosong” ucap salah satu aparat kepolisian berusaha membuka paksa pintu.


“Tapi mobil siapa itu?” tanya polisi kedua menunjuk.


Kepala salah satu polisi menoleh melihat dari luar kaca. Tubuhnya terhentak melihat sosok wanita bertubuh besar dengan penampilan mengerikan melotot menatapnya.

__ADS_1


“Pergi..” ucapnya membanting pintu mobil lalu menghilang.


“Argghh..” jerit salah seorang polisi.


Polisi kedua yang masih memantau berkeliling rumah, terhenti saat ada sosok wujud wewe gombel menepuk pundak dan tertawa dengan membuka mulut yang berisi cacing menggeliat di dalam rahangnya.


“Arghhh…hantu!”


Kedua polisi itu kembali ke mobil mereka dan meninggalkan pintu gerbang dengan keadaan terbuka. Salah satu topinya terjatuh di depan rumah. Namun mereka tidak sudah tidak memperdulikannya lagi.


“Suara berisi apa di luar?” tanya Gilang menyibakkan tirai mengamati dari jendela.

__ADS_1


Pagi cerah kembali dia sambut dengan roman picisan melihat lagi sosok wanita yang belum bisa dia tinggalkan di depan teras sedang menyisir rambut panjangnya. Aurel tersenyum melihat Gilang membuka pintu lalu menyodorkan segelas teh hangat dan masuk ke dalam rumah.


“Sejak kapan Aurel berada di teras rumah?” gumam Gilang meneguk teh lalu berjalan menutup gerbang.


Di belakang rumah, pak Nedi mengendap-ngendap menabur abu bakaran, garam dan benda-benda pemusnah sosok wewe gombel. DIa telah menyelesaikan persemedian, kembali meneruskan rencana busuk untuk meraih tubuh kembali menjadi tumbal dan menangkap sosok wewe gombel untuk di jadikan budak pelancar ilmu yang dia dapat dari jin penunggu pohon keramat.


“Kali ini kau tidak bisa lepas, aku seharusnya suda tenang duduk menunggu para pengunjung di meja sesajian. Kau selalu merusak rencana ku Aurel!” gumam pak Nedi melanjutkan mengucap mantra.


Awan hitam bergulung menutupi langit yang cerah, angin berhembus kencang. Hujan deras kembali mengguyur dan burung-burung gagak seketika mati berjatuhan di atas atap rumah. Gilang sangat gusar mendekap tubuh Bella, dia teringat fenoma suasana seperti ini yang menghilangkan anaknya. Dengan erat Gilang memeluk lalu berteriak memanggil nama Aurel.


“Aurel, Aurel dimana kau?” panggil Gilang dengan hati gusar.

__ADS_1


Wanita itu sudah berubah wujud di dalam kamarnya. Tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang berhawa panas seolah mengikat sangat kuat. Rupanya kekuatan dari jin penunggu pohon bergulung berbentuk asap hitam.


“Hahah…” tawa pak Nedi menutup matanya melihat sosok wewe gombel yang tidak berkutik.


__ADS_2