
"Lupi.....!"
Drama setiap pagi Hana selalu berteriak meminta lupi menyiapkan semua keperluan dirinya dan juga Raisa.
cepat aku harus cepat sebelum ibu memukuli adikku lagi
"iya bu..... sebentar lagi bu...."
ngepel sudah masak sudah aku harus siapkan air hangat untuk Raisa dulu baru aku siapkan bekal untuk lusi
"Lupiiii.... siapkan bajuku "
Ya Tuhan... berilah aku kekuatan agar aku bisa melakukan semua tugas dari wanita wanita siluman ini.
"iya Raisa... tapi tunggu sebentar aku sedang menata rambut ibu..."
Lupi berusaha untuk tidak marah hobinya yang merias dan menata rambut membuat Raisa dan Hana selalu menyuruhnya untuk mempercantik penampilan mereka.
"Gitu saja lama banget,cepetan lupi... aku telat ini .. "
Raisa sudah tidak sabar mendesak lupi
"kak Raisa kan bisa cari sendiri bajunya,lusi saja bisa "
Oh no lusi ... kenapa dirimu berkomentar aku yang sakit melihatmu di pukul lagi lusi adikku...
Raisa melotot ke arah lusi bocah sembilan tahun itu mulai gemetar tatkala Raisa berjalan ke arahnya.
"Kamu bisa diam tidak ! sekarang rasakan ini !"
Raisa mendekatkan alat pelurus rambut yang sudah panas ke arah lusi.
"ampun kak ...lusi minta maaf.... lusi janji tidak akan mengulanginya lagi"
"kamu masih kecil saja sudah berani menyuruh anakku mecari pakaiannya sendiri,di sini Raisa adalah ratu jadi kalian berdua harus patuh kepadanya "
Hana pun ikut memaki bocah kecil yang sudah menangis sambil memeluk pinggang lupi dari belakang
Sabar lusi adikku sayang adikku malang hari ini aku akan membawamu keluar dari neraka ini
"maafkan lusi Ibu..Raisa .. sebagai gantinya aku siap menerima hukuman yang kalian berikan,asal jangan kalian sakiti adikku... aku mohon ibu... Raisa..."
Lupi mengelus kepala lusi
"dek ... kamu duduk di sana ya.... tunggu kakak sebentar... kakak mau menyiapkan keperluan Kak Raisa "
Gadis kecil itu menangis dia pun menganggukkan kepalanya.
"Punya adik itu harus di didik tata krama dan sopan santun dengan orang yang lebih tua,bukan di ajarin jadi mulut ember seperti itu "
__ADS_1
Raisa masih kesal dengan perkataan lusi.
...Aneh! dirinya yang tong pinguin tidak bisa menjaga mulut...
"Iya Ibu ...Raisa... lupi akan ajarin lusi supaya dia bisa bersikap lebih sopan lagi"
"Raisa sayang.... udah jangan marah terus. . nanti cantikmu hilang "
Hana mengelus pipi Raisa dengan lembut.
ibu.... andai ibuku masih ada ayahku masih hidup aku dan lusi pasti akan merasa bahagia... aku rindu kalian ayah....ibu....
Air bening menetes di pipi Lupi cepat cepat lupi menyekanya jika ibu tirinya tahu dia menangis bisa bisa di pukul dengan tali kabel yang tidak terpakai.
"Kak lupi.... ayo berangkat sekolah kak... nanti kita terlambat ...."
Lusi dengan wajah yang ketakutan menghampiri lupi.
"Hei bocah! ngapain kamu sekolah lagian siapa yang membayar iuran sekolahmu hah !buruan sana bantu kakakmu nyuci bersihin rumah"
Gadis kecil yang mungil tidak berani menatap ke arah Raisa
ayah..... pulang ayah.... lusi kangen ayah ... lusi pengen di antar sama ayah ke sekolah....
pulang ayah.....
"Ayo ma.... kita berangkat Alek pasti sudah di sekolah"
cepatlah kalian berangkat mataku mataku sudah sakit melihat wajah mengerikan seperti kalian.
Deru mobil pun terdengar sudah menjauh dari halaman rumah yang megah itu.Menandakan Hana dan Raisa sudah pergi.
Tanpa ada rasa kasihan sedikitpun dengan Lupi apalagi Lusi yang masih berusia SD,mereka berlalu begitu saja.
"Dek.... ayo kita ke sekolah.... "
Lupi mengajak adiknya berangkat
"Lusi lapar kak.... lusi belum makan dari tadi malam..." Sedih sekali Lupi mendengar penuturan adiknya.
Oh ibu.... kenapa ibu dan ayah pergi di saat kami masih perlu kalian.... kenapa ayah tidak minta ijin saja saat itu... lihatlah adiknya lupi putri kecil ayah dan ibu
Lupi memeluk adiknya di ambilnya roti yang ada di kulkas dan di berikan pada lusi.Lupi sering bermain kucing kucingan dengan Hana yang tidak memperbolehkan Lupi Lusi mengambil roti yang sudah di siapkan di atad meja.
Lupi tidak peduli jatah roti Hana dan Raisa di ambil untuk adik kecilnya.Yang di pikirkannya adiknya bisa sarapan untuk mengisi perutnya yang kosong.
"ini makanlah... dan yang ini bekalmu nanti di sekolah... "Lupi memberikan dua potong roti pada adiknya
Dek maafin kakak ya.... kakak belum bisa menjagamu
__ADS_1
"Kakak tidak makan? bagi yang ini saja ya kak.... "
Lupi menggeleng
"ayo... nanti kamu terlambat ingat ya... jangan pulang sebelum kakak datang"
"iya kak..."
sebentar lagi kakak akan membawamu pergi dek.... kakak akan merawat mu seperti seorang ibu yang sesungguhnya.
Lupi sudah tidak kuat lagi melihat adiknya yang sering di marahi oleh Hana,bahkan tidak segan segan Hana mencubit lengan Lusi sampai memar.
Bentakan cacian sudah tidak asing lagi di telinga Lupi,Entah salah apa Lupi dan Lusi hingga ibu sambung mereka begitu benci dengan mereka berdua.
Masih lekat di ingatan Lupi bayangan masa kecil Lusi.
"Mama..... aku minum susu ma.... " Rengek Lusi kala itu ketika dia masih berusia lima tahun.
"Jangan pernah panggil aku mama! aku bukan mama kalian ! " hentak ibu Hana pada Lusi.
Lusi menangis,Lupi yang masih dini usianya tidak berani berkata apa apa.
Bahkan dia juga sering di ancam di sekap dalam gudang kalau berani mengadu pada ayahnya.
Jika sudah demikian Lupi lah yang akan mengasuh adiknya.Ibu hana akan terlihat baik jika Mahendra di rumah saja.
Dia akan berpura pura menyisir rambut Lusi,membenarkan bajunya,memandikannya,bahkan makan saja Lusi di suap.
"Lusi sayang.... ayo makan dulu.... nanti main lagi...." Sandiwara Ibu Hana ketika melihat Mahendra pulang dari kantor.
"Wah...wah... kamu begitu menyayangi anak anakku... aku jadi tambah sayang sama kamu," Mahendra mengecup kening Hana.
Lusi masih menunduk tidak berani melihat Ibu Hana,matanya berkaca kaca,tangannya gemetar.
"Ayah ...." Lusi menghambur memeluk Mahendra,tangisnya pecah.
"Kenapa sayang ? kenapa menangis? cup cup sudah sayang sudah.... oh! tanganmu kenapa sayang ?" Mahendra melihat bekas biru memar di tangan Lusi.
"Jatuh dari ayunan Mas, padahal tadi sudah mama ingatin jangan terlalu kencang main berayun, " Mata Hana melotot Lusi tidak berani melihatnya.
"Sudah sayang nangisnya,nanti mama yang oles ya.... biar tidak sakit " Mahendra menenangkan Lusi yang masih menangis.
"Tidak mau,sama ayah saja, " rengek Lusi.
"Sama mama saja ya sayang,ayah kan capek " Hana meraih badan Lusi,tapi segera di tepis oleh Lusi.
"Tidak apa apa, Lupi mana ?" Mahendra tidak melihat Lupi,biasanya dia juga suka menunggu ayahnya datang.
"Oh,Lupi masih bermain bersama Raisa mas,mereka akrab sekali " Hana masih dengan senyum kepalsuannya.
__ADS_1
Mahendra masuk tangan sebelahnya mengandeng Lusi,dan yang sebelah merangkul pinggang Hana.
"Auw! " Lusi memekik dan mengibas tangannya yang di cubit oleh Hana dari belakang.