Derita Gadis Pewaris

Derita Gadis Pewaris
40


__ADS_3

Hana begitu kesal Raisa sama sekali tidak mengerti kode bahasa darinya.


Kenapa bodoh sekali Raisa ! benar benar memalukan ! sama saja kamu seperti pengemis jalanan huh! Raisa mama yang malu hu hu hu


Hana meremas tisu di tangannya, benar benar marah.


Kamu telah menginjak harga diriku dan juga Raisa Lupi,kamu akan mendapat bayaran yang setimpal.


Hana tidak bergeming menatap Raisa dan Lupi secara bergantian,tatapan yang berbeda beda.


Jika Hana murka lain lagi Mahendra alias Ahen,dia begitu bahagia melihat putrinya telah mengambil keputusan yang benar.


Bagus nak,ayah tahu keputusanmu itu sudah benar,kamu tidak perlu terjun ke dunia yang setiap hari menyoroti wajahmu.


Di atas podium berukuran luas,Raisa dengan bangga memeluk semua buket bunga di perutnya.


Senyum kesombongan tidak lepas dari bibirnya.


Sadar juga kamu Lupi kalau kamu tidak pantas di dunia artis,lihatlah wajahmu,begitu kontras dengan debu jalanan.


Lupi berjalan ke arah Raisa memberi ucapan selamat,sementara Alek dan teman lainnya merasa kecewa dengan keputusan Lupi tanpa kompromi terlebih dahulu.


"Selamat Rai,aku ikut bahagia melihatmu tersenyum hari ini," Raisa memicingkan matanya.


"Tentu saja aku bahagia akhirnya kamu mengakui secara tidak langsung kamu tidak pantas menjadi pemenang,atau jangan jangan kamu sudah membayar para juri dengan transaksi yang di luar dugaan " Lupi heran dengan dengan Raisa dia pun tidak sempat kata demi kata yang keluar dari mulut Raisa.


"Aku tulus Rai,apapun anggapan mu itu hak mu,hak ku adalah tetap menganggap mu adikku, ingat Rai,kamu lebih muda dua bulan dari ku,dan kamu juga tahu bagaimana sikap seorang kakak semestinya." Kata kata Lupi telah membuat Raisa tersindir, karena dia tidak pernah memperlakukan Lusi dengan baik layaknya seorang adik seperti yang di katakan oleh Lupi.


Acara sudah selesai semua yang hadir bubar Lupi masih berada di ruang ganti.


"Sudah latihan siang malam ternyata jerih payah kita tidak di hargai" celetuk seorang teman satu team dengan Lupi.


"Iya,aku juga menyesal ikut drama ini,ternyata kita benar benar menjadi drama sungguhan." Timpal yang lain.


Lupi tidak memperdulikan ocehan demi ocehan dari mereka,Lupi memilih segera pulang setelah mengganti pakaiannya.


"Lupi,apa maksudmu mengatakan kamu mundur dari kontestan,tidak kah kamu melihat teman yang lain kecewa dengan keputusan mu? ck ck ck kamu egois sekali Lupi,ternyata kamu tak ubahnya dengan Raisa,oh apa sebelumnya kalian sudah bekerja sama? kenapa aku yang bodoh ya,kalian kan saudara " Alek menyeringai tatapan kecewanya benar benar kentara.


"Maaf Lek,maaf teman teman,aku memang egois kali ini tanpa memikirkan kalian,kalian caci maki saja aku sepuas kalian,hukum saja aku sesuka hati kalian,aku mengakui jika aku bersalah"


Lupi memandang teman kelompoknya satu persatu,mereka sengaja keluar ketika mendengar Alek bicara dengan Lupi.

__ADS_1


Andai kalian tahu sesungguhnya apakah kalian masih menyalahkan ku,jika boleh jujur sebenarnya aku juga perlu uang, tapi adik ku jauh lebih berharga dari pada uang.


*


Malam sebelum pementasan di mulai, Raisa bersama temannya meminta Lupi datang ke sebuah cafe terdekat rumah Ratmi.


Raisa meminta istri pak Haji menyampaikan pesannya supaya Lupi mau menemuinya.


Sehabis magrib Lupi menemui orang yang telah memintanya untuk bertemu,Lupi sendiri mengira teman yang ingin bertemu adalah Jenita atau Aldi.


Deg! Lupi terkejut tatkala tangannya di tarik dengan kuat dan segera di bawa masuk ke dalam mobil,seseorang telah membekap mulutnya supaya tidak berteriak.


Setelah pintu mobil terkunci orang yang membekap Lupi melepas tangannya.


"Kau !" Raisa tertawa licik melihat reaksi kaget Lupi.


"Mau kemana kamu membawa ku Rai !" Lupi meronta dalam mobil,


"Tenang dulu Lupi,tidakkah kamu tahu,aku harus membayar Jenita dengan cukup mahal untuk memperoleh alamat gedung barumu yang menyesakkan napas ku" Mobil terus berjalan entah kemana.


"katakan apa mau mu,dan jangan pernah macam macam kamu dengan ku," Raisa tertawa menganggap ancaman Lupi sebuah candaan.


"Aku mau besok kamu jangan pernah datang ke sekolah mengikuti ajang pemilihan bakat,seharusnya aku yang berpasangan dengan Alek saat itu,bukan kamu " Raisa memberi kode pada sopir supaya melajukan mobilnya.


"Hentikan kegilaan ini Rai,menang atau kalah itu tergantung bagaimana kita memerankan tokoh kita masing masing" Lupi mengencangkan suaranya.


"Oh,jadi kamu masih tetap bertanding denganku besok? baiklah tapi dengan syarat,mainkan peranmu asal asalan saja,bila perlu buatlah dirimu seakan lupa dengan konteks " Raisa memberi kode lagi dengan sopir mengerem mendadak.


Buk! kepala lupi menyentuh belakang tempat duduk dalam mobil.


"Yang menentukan besok adalah dewan juri,Bukankah mama mu juga hadir sebagai juri,apa yang membuatmu takut bersaing dengan ku Rai "


"Jika kamu besok pemenangnya dan kamu tidak mau mundur dari kontestan,adikmu sebaiknya kamu kurung di gedung buruk itu saja " Raisa memberi ancaman dengan Lupi.


"aku akan memberi jawaban,antar aku pulang,atau kamu akan kalah bersaing besok" Lupi tidak mau kalah,dia juga memberi ancaman untuk Raisa.


Raisa menyuruh sopir berputar balik ke tempat semula,lima belas menit mobil sudah sampai ke tempat di mana Lupi di tarik paksa.


Ternyata mobilnya cuma berputar sekitar jalan itu saja,hanya Lupi yang tidak menyadari,saking paniknya.


"Katakan kalau besok kamu tidak hadir" Raisa memegang pembuka pintu mobil menahan supaya Lupi tidak bisa keluar.

__ADS_1


Raisa hanya mengangguk,pintu di buka oleh Raisa secepat kilat Lupi melompat keluar.


"Dewan juri yang akan menentukan siapa pemenangnya Raisa !" Lupi langsung menutup pintu mobil dari luar dengan kencang.


Berlari secepat mungkin menghindari kejaran dari Raisa.


Lupi merasa senang telah berhasil menipu Raisa.


Di dalam mobil,Raisa berteriak berang,ternyata dirinya begitu mudah di tipu oleh Lupi.


"Awas kamu Lupi,kamu tidak akan tenang jika besok kamulah pemenangnya".


*


"Percuma saja bicara denganmu Lupi toh semuanya sudah kamu hancurkan " salah seorang team Lupi kecewa pergi meninggalkan teman yang lainnya.


Satu persatu mereka pergi meninggalkan Lupi,kecuali Alek,


"Puas kamu Lupi sudah menghancurkan harapan mereka?Lupi,mereka yang sudah kamu kecewakan dari kalangan kurang mampu,dan mereka bisa masuk ke sekolah ini karena prestasi di sekolah mereka Lupi,! Mereka menggantungkan harapan padamu untuk kategori pemilihan wanita,aku tidak masalah tidak masuk seleksi, tapi aku berjuang mati matian supaya kamu dan mereka bisa mendapatkan pekerjaan di luar sekolah yang lebih layak" Alek menghentikan kalimatnya.


Mengatur napasnya yang tidak teratur karena emosinya.


"Aku tidak tega melihat kamu di bawah terik matahari setiap hari Pi,itulah sebabnya aku bersikeras meminta bu Risma memilihmu sebagai pemeran putri tidur,ternyata kamu benar benar tertidur tanpa bangun kembali melihat wajah kecewa yang lain." Alek memutar tubuhnya membelakangi Lupi.


"Maaf Lek,aku yang salah,hukum saja aku Lek,dan kamu bisa katakan pada dunia bahwa aku adalah manusi paling jahat di muka bumi ini,aku akan bersedia menerima hukuman itu Lek ketimbang aku mengorbankan keselamatan adik ku" Lupi lirih,air mata mengalir bukanlah air mata upaya penyelamatan dirinya.


Alek merubah posisi berdirinya menghadap Lupi


"Apa yang kamu katakan tadi?apakah kamu di ancam?" Lupi menunduk rasa khawatirnya telah membuat dirinya tidak bisa mengontrol setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Katakan Lupi !" Alek mengguncang tubuh Lupi, yang ada tangisan Lupi yang semakin menjadi.


Alek menjadi serba salah,Lupi menepis tangan Alek yang hendak meraih pundaknya,berlari meninggalkan Alek sendirian.


\=\=\=\=\=\=\=


**Hai pembaca setia Derita Gadis Pewaris


~jangan lupa Like dan komen ya,


Biar author lebih semangat lagi

__ADS_1


~Jangan lupa tambahkan ke favorit reader semua,Kasi vote juga ya ...


~Terima kasih Sahabatku 🥰🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2